Kamis, 4 Juni 2026
Wisata & Sejarah

Macet dan Nilai Jual Bandung

Selasa, 4 Juni 2013

DI antara julukan manis yang disandangnya seperti "Kota Kembang", "Parisj van Java", dan "Kota Asia Afrika", Kota Bandung pun mempunyai julukan sebagai "Kota Macet". Tak salah kalau orang terutama dari luar Kota Bandung memberikan julukan "Kota Macet", karena sejak 10 tahun terakhir, kota ini dibayangi oleh masalah kemacetan lalulintas.

Apalagi sejak wisata kuliner dan wisata fesyen menjamur di Kota Bandung, kota ini semakin macet karena kunjungan wisatawan lokal dari luar kota, terutama Jakarta meningkat berlipat-lipat. Jarak tempuh yang semakin pendek setelah dibangunnya Tol Cipularang, membuat arus wisatawan dari Jakarta semakin deras. Dampaknya? Jalan-jalan di Kota Bandung mengalami kemacetan yang sangat parah saat akhir pekan, hari libur, dan libur panjang.

Bukan tanpa alasan kalau kemacetan menjadi pemandangan rutin di Kota Bandung, karena beban yang ditanggung kota ini cukup banyak, yang semuanya menjadi magnet bagi pergerakan manusia. Sebagai kota pendidikan, kota pariwisata, kota perdagangan, kota jasa, dan kota pemerintahan, pergerakan manusia sangat padat yang tentunya membutuhkan alat transportasi untuk menghubungkan antara satu titik pergerakan ke titik lainnya.

Salah satu alat transportasi di Kota Bandung, adalah angkutan penumpang umum. Meskipun jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan kendaraan pribadi, namun ternyata angkutan penumpang umum ini memberikan kontribusi cukup besar bagi masalah kemacetan lalulintas. Bukan hanya perilaku sebagian pengemudi angkutan penumpang umum yang tidak tertib, kehadiran terminal-terminal bayangan pun menjadi penyebab kemacetan lalulintas.

Munculnya terminal bayangan di sejumlah titik di wilayah Kota Bandung, memberikan andil cukup besar bagi terjadinya kemacetan. Contohnya, terminal bayangan di perempatan Jln. Soekarno Hatta-Jln. Kopo dan bundaran Jln. Cibiru. Kehadiran angkutan penumpang umum yang ngetem di tempat itu, telah mengakibatkan kemacetan di kawasan sekitarnya.

Padahal bagi angkutan penumpang umum telah disediakan terminal sebagai tempat pemberhentian, supaya tidak mengganggu pengguna jasa jalan lainnya. Sayangnya mereka enggan memanfaatkan terminal dan lebih senang membentuk terminal-terminal bayangan, tanpa memikirkan dampaknya bagi pengguna jalan lainnya.

Kemacetan di Kota Bandung harus diurai. Apabila tadi diungkapkan soal angkutan umum, penyebab lainnya pun harus dibenahi, seperti sikap pengguna jalan yang belum menunjukkan sikap tertib berlalu lintas. Perlu disadari bahwa lalu lintas yang tertib, lancar, dan nyaman mampu mendongkrak nilai jual Kota Bandung kepada investor.* Ati Suprihatin - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya