Wayang Cyber, Wayang Generasi Z
MENYAKSIKAN kisah kelahiran Dasamuka/Rahwana lewat pagelaran wayang, diiringi dentuman musik tekno dan figur-figur wayang yang tak biasa, ternyata asyik-asyik saja. Setidaknya itu yang terasa di aula Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (PKM UPI), usai pementasan Wayang Cyber berlakon “Kelahiran Dasamuka”, Senin pagi (3/6).
Untungnya sebelum pementasan, penonton awam dibekali brosur yang menceritakan sekilas tentang kelahiran Dasamuka. Kalau tidak, bisa jadi mereka memasang dahi berkerut sepanjang pertunjukan. Tak ada dalang yang bernarasi sepanjang pagelaran, pun figur-figur wayang populer atau gampang dikenali. Belum lagi digital drawing yang ramai ditembakkan dari proyektor dan wayang orang yang sliweran di balik kelir atau layar. Benar-benar chaotic!
Maklum saja, ketika Wayang Cyber ini digagas, para pelopornya sedang gandrung-gandrungnya pada penampilan yang tak biasa, kacau-balau, semrawut. Mereka juga sedang tergila-gila pada bentuk-bentuk media baru, khususnya video art. Ditambah lagi saat itu mereka, yang rata-rata masih menjadi mahasiswa di Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI, mendapat kuliah soal eksperimen cahaya. Jadilah mereka mulai merembugkan ide-ide media baru dan mengutak-atik seni wayang, dimotori Andri Muhammad yang pemikirannya saat itu terbilang avant garde.
Wayang Cyber dipentaskan pertama kali pada 2001 di Gedung Pentagon UPI sebagai program satelit pada Bandung Art Event. Tahun berikutnya, Wayang Cyber tampil di GDB UPI dengan lakon The Death of Gatot Kaca. Mereka juga ambil bagian dalam Pekan Budaya di Rumah Nusantara, Bandung (2003), Pameran Seni Multimedia di Galeri Lontar, Jakarta (2005), dan iF Venue, Bandung (2005).
Setelah 8 tahun vakum, Wayang Cyber diperkenalkan kembali ke publik. UKM Studio 229, unit kegiatan mahasiswa UPI di bidang kesenirupaan, menampilkan kembali Wayang Cyber dengan tampilan visual yang sedikit berbeda. Derajat chaos-nya diturunkan dan figur-figur dibuat berwarna, tidak segarang tampilan jaman dulu. Teknik kolase tetap dipertahankan. Tubuh wayang dibentuk dari potongan-potongan gambar, foto, atau tulisan dari koran dan majalah bekas.
Meski wujudnya sama sekali berbeda dengan figur-figur wayang kulit, mereka tetap merujuk pada pakem pewayangan, terutama dari komik-komik wayang legendaris karya R.A. Kosasih. Misalnya, ada tanda-tanda khusus yang sematkan untuk menandakan karakter wayang. Figur Wisrawa, misalnya, tokoh protagonis, diberi hiasan kepala berupa guntingan gambar kubah masjid.
“Wayang Cyber ini sebetulnya bukan seni pertunjukan, melainkan seni rupa yang dipertunjukkan,” kata Redy N. Saputra, Ketua Umum UKM Studio 229. Seni ini merupakan kombinasi antara seni pertunjukan, efek visual, kolase, eksperimen cahaya, wayang orang, penggunaan multimedia, dan sebagainya. Kata “cyber” itu sendiri tidak merujuk pada arti apa pun, hanya untuk menamai keseluruhan pagelaran wayang.
Mereka juga lebih suka menyebut Wayang Cyber sebagai metode yang bisa mewadahi seniman-seniman atau siapa pun yang tertarik bergabung di dalamnya untuk berkolaborasi, bereksperimen, dan berkreasi sesuka hati mereka.
Meski mereka mengatakan tidak menargetkan penonton secara spesifik dalam menampilkan Wayang Cyber, namun sangat jelas mereka menyasar kaum muda. Mereka sama sekali tidak memasukkan unsur gamelan atau musik pengiring wayang lainnya, melainkan musik tekno yang relatif lebih akrab di telinga anak muda. Mereka juga membatasi durasi pertunjukan agar tidak lebih dari 30 menit untuk menghindari kebosanan.
“Nenek saya pernah bercerita, di masa lalu, pagelaran wayang dilakukan semalam suntuk. Tidak ada seorang penonton pun berani pulang sebelum pertunjukan selesai karena ada kepercayaan, bahwa mereka yang pulang duluan akan dicegat “bhuta” atau raksasa,” kata Galih Jatu Kurnia, salah seorang dalang Wayang Cyber.
Jaman sekarang, orang bisa memilih: menonton sampai habis atau tidak pergi menonton sama sekali. “Anak muda jaman sekarang mana betah nonton wayang berjam-jam,” lanjut Galih.* Yulita Rosa Rangkuti – kisuta.com


