Menari dengan Mayat, Mendekatkan Diri dengan Tuhan
PRIBAHASA mengatakan, “Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” . Ya, setiap daerah atau negara mempunyai budaya dan tradisi yang berbeda. Merupakan suatu pengalaman seru apabila kita berkesempatan mengetahuinya, tak hanya untuk menambah wawasan tapi sekaligus mengagumi bumi ciptaan Allah sangat kaya.
Terkait dengan budaya dan tradisi, penduduk di sejumlah negara masih ada yang melakukan tradisi nenek moyang mereka. Contohnya tradisi menari dengan mayat yang dilakukan penduduk Malagasi di Madagaskar. Ritual unik bernama Famadihana ini, dilakukan setiap tujuh tahun sekali. Penduduk setempat percaya bahwa semangat orang yang sudah meninggal itu, akan bergabung dengan nenek moyang.
Ritual Famadihana sudah ada sejak abad ketujuh belas dan masih dilestarikan hingga sekarang. Meskipun untuk menggelar ritual ini membutuhkan biaya yang sangat besar karena harus menyediakan makanan bagi sejumlah keluarga besar dan tamu, namun penduduk Malagasi masih tetap melakukan tradisi ini.
Ritual Famadihana lebih cenderung sebagai budaya, ketimbang agama. Seperti dikatakan oleh penduduk setempat bahwa mereka melakukan itu untuk menghormati keluarga yang sudah mati. Selain itu, ritual yang kemudian menjadi semacam festival ini, sebagai ajang pertemuan keluarga karena saat ritual digelar, seluruh anggota keluarga dari seluruh negeri akan datang.
Dalam ritual itu, anggota keluarga akan membawa mayat nenek moyangnya dan menggantikan kain kafannya dengan yang baru untuk kemudian dikuburkan lagi. Sebelum dikuburkan lagi, para anggota keluarga akan menari dengan mayat-mayat nenek moyangnya sambil diiringi musik.
Bagi penduduk Malagasi, orang mati sangat dihormati karena dianggap berkaitan langsung dengan Tuhan. Itu sebabnya ritual Famadihana masih tetap dilestarikan.* Ati Suprihatin - kisuta.com


