Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Sang Guru Een Sukaesih

Memberdayakan dalam Ketakberdayaan

Rabu, 12 Juni 2013

SEORANG teman mengaku selalu meneteskan air mata setiap melihat tayangan tentang Een Sukaesih. Bahkan seorang wartawan salah satu televisi swasta, mengatakan, lebih baik meliput berita demo daripada meliput Een Sukaesih. Alasan sang wartawan, dirinya tak kuasa menahan tangis setiap kameranya menyorot wajah Een Sukaesih, sosok yang tangguh dalam menjalani hidup dalam keterbatasan.

Tangisan sang teman dan juga wartawan tersebut, bukan tangis sedih, tapi tangis haru sekaligus bangga untuk seorang Een Sukaesih. Siapa sebenarnya Een Sukaesih, hingga kisahnya membuat banyak orang terharu sekaligus bangga?

Apabila Anda sempat menyaksikan tayangan Liputan 6 Siang di SCTV pada Senin, 10 Juni 2013, maka Anda akan mengetahui “sedikit” kisah hidup Een Sukaesih. Meskipun sedikit, namun kisah hidup penerima Liputan 6 Award Spesial ini telah mampu menyentuh hati siapa pun.

Een Sukaesih adalah seorang perempuan yang tinggal di RT 01 RW 06 Dusun Batukarut, Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Selama 28 tahun, Een terbaring tanpa daya karena nyaris seluruh tubuhnya lumpuh, hanya bagian kepala saja yang dapat digerakkan. Namun Een masih mampu berbicara dan mendengar. Sementara penglihatannya, secara berkala mengalami penurunan.

Meskipun penyakit prematoid arthritis atau radang sendi boleh merenggut asanya menjadi seorang guru di sekolah formal, namun penyakit ini tak mampu memupuskan semangatnya untuk mengabdi menjadi seorang pendidik. Een memang tidak mengajar di sekolah formal, lulusan D 3 IKIP Bandung (sekarang UPI) Jurusan Bimbingan dan Konseling ini mengajar di kamarnya yang sempit, kamar berukuran 2x3 meter persegi yang dindingnya dicat berwarna hijau dan dipenuhi coretan berisi catatan pelajaran. Kamar yang sekaligus berfungsi sebagai kamar tidur Een terlihat sangat sesak, selain berisi temat tidur kayu, juga ada televisi, lemari, rak buku, papan tulis, dan alat peraga. Meskipun harus berdesakan, namun murid-murid Een tetap setia mendatangi sang guru untuk belajar.

Sebagian besar muridnya adalah anak-anak tetangganya yang bersekolah di SD, MI, SMP, dan MTs. Secara bergiliran Een mengajar sejak pukul 08.00 WIB hingga sore, bahkan terkadang hingga malam hari. Waktu belajar di rumah Een disesuaikan dengan waktu sekolah murid-muridnya. Jika mereka masuk pagi hari, maka mendatangi rumah Een pada siang hari selepas sekolah. Begitu sebaliknya, jika masuk siang hari, mereka belajar sejak pagi hingga menjelang sekolah.

Kepada murid-muridnya, perempuan berusia 50 tahun ini memberikan berbagai ilmu. Tak hanya belajar menulis dan berhitung, murid-muridnya pun belajar tentang agama dan pengetahuan umum, termasuk komputer dan belajar membaca Alquran. Een pun kerap menjadi tempat curhat murid-muridnya. Semua dilakukannya dengan ikhlas, tanpa mengharapkan balasan, apalagi bayaran. Justru Een sering membelikan murid-muridnya buku pelajaran, padahal kehidupannya tidak lebih baik dari murid-muridnya. Apa yang dilakukannya hanya berharap rida Allah SWT, karena Een yakin Allah SWT akan mengganti dengan yang terbaik.

Dengan segala keterbatasannya, Een mengajar murid-muridnya dengan cinta kasih. Sesuatu yang mulai banyak diabaikan oleh guru-guru di kota-kota besar. Hubungan Een dan murid-muridnya memang bukan lagi hubungan antara guru dengan murid, tetapi lebih kepada hubungan orangtua dan anaknya, penuh cinta kasih. Sangat mengharukan melihat murid-muridnya menyuapi Een. Mereka pun membantu mengenakan mukena dan menunggu dengan sabar hingga ibu gurunya selesai salat. "Saya ikhlas. Saya ingin berbagi meski hanya sebatas kemampuan saya," ujar Een merendah.

Meskipun pengajaran yang diberikannya dalam segala keterbatasan, namun Een mempunyai harapan tinggi terhadap murid-muridnya. "Selain memberi anak-anak bekal ilmu pengetahuan, saya ingin mereka jadi pribadi yang cerdas secara emosional dan spiritual. Tidak cengeng atau manja. Saya ingin mereka tegar dan berani menghadapi kehidupan, lengkap dengan duri atau onaknya. Harapan saya, mereka jadi pribadi yang kuat, mencintai kemajuan, selamat di dunia dan akhirat. Saya akan terus menjadi sahabat mereka dalam belajar,” ujarnya seperti terekam oleh wartawan Liputan 6 SCTV.

Sempat terpuruk, bahkan divonis hanya bisa hidup seminggu lagi, semangat Een tak terkalahkan. Een memutuskan mengisi hidupnya sesuai cita-citanya dengan menjadi guru untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.

Tak salah jika Liputan 6 SCTV menganugrahinya penghargaan. Tak salah pula jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengundangnya ke istana. Semangat Een Sukaesih patut menjadi inspirasi semua orang, termasuk sebagian guru-guru yang mulai mengomersilkan pendidikan. Sudah saatnya mereka kembali kepada pendidikan yang dilandasi cinta kasih.

"Saya ingin hidup saya bermanfaat. Saya hanya mencoba memberikan kasih sayang kepada sesama, tidak lebih, dan ilmu yang saya dapat akan saya berikan. Sedekah tak hanya dengan harta tapi dengan ilmu, insya Allah apa yang kita miliki tidak akan berkurang”. Sungguh falsafah hidup yang sangat mulia, dari seseorang yang hidup dalam keterbatasan, baik fisik maupun finansial.* Ati Suprihatin - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya