Hari Gini, Masih Ada Surabi Harga Rp 1.000
TIDAK asing lagi bahwa Kota Bandung terkenal dengan wisata kulinernya. Rasanya tidak akan ada habisnya jika kita membicarakan Bandung dengan masakan dan makanannya. Bandung memang surganya kuliner yang membuat
orang tidak pernah bosan untuk berwisata makanan di Kota Bandung. Salah satunya adalah makanan yang tidak aneh lagi bagi orang Bandung, yaitu surabi. Surabi terkenal sebagai makanan tradisional yang memiliki rasa gurih dan sekarang memiliki banyak varian rasa yang unik.
Ternyata membuat surabi itu mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang. Surabi terbuat dari tepung beras, santan, dan garam. Surabi dibuat dalam cetakan khusus dan dibakar di atas tungku. Surabi telah menjadi makanan tradisional yang turun termurun dan sampai sekarang masih dilestarikan oleh penduduk Kota Bandung.
Kita sering menemukan surabi sebagai jajanan pasar atau dijajakan pedagang kaki lima. Varian yang ditawarkan seperti surabi isi telur, surabi oncom, dan surabi polos yang dimakan dengan campuran air gula merah dicampur santan kelapa.
Salah satu pembuat surabi tradisional yang masih bertahan, adalah Muhamad Syaki. Di tangannya, surabi dibuat dengan cara sangat sederhana, namun tidak menghilangkan cita rasa aslinya. Muhamad Syaki yang telah berjualan surabi selama 27 tahun, biasa mangkal di sekitar Jln. Inhoftank. Surabi buatannya dijual dengan harga murah, Rp 1.000 untuk satu surabi oncom dan polos, serta Rp 3.000 untuk surabi isi telur.
Setiap hari Muhamad Syaki berjualan mulai pukul 17.00 WIB sampai pukul 22.00 WIB. Meskipun hanya berjualan di pinggir jalan, namun pembelinya sangat banyak. Rata-rata setiap orang tidak hanya membeli satu atau dua surabi, tetapi bisa sampai 10 surabi. Tak heran jika setiap hari sekitar 300 surabi habis terjual.
Meskipun saat ini kafe-kafe modern menjamur di mana-mana, namun makan tradisional seperti surabi yang dijual di pinggir jalan, masih mempunyai tempat di hati masyarakat. Ini menjadi tugas kita semua untuk melestarikannya supaya anak cucu kita juga bisa merasakanya.* Irpan Nugraha - kisuta.com
(Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi 2012, FP IPS – Universitas Pendidikan Indonesia. Tulisan ini telah dimuat di "Opini UPI".)


