Orang (tidak) Pintar
”PRAKTIK mistik dan dukun laris saat ini.” Percaya? Boleh percaya, boleh tidak. Tapi, jika pernyataan itu dilontarkan oleh petinggi negeri, jadi terdengar aneh dan istimewa. Aneh, karena di era informasi, teknologi, dan globalisasi ini masih ada praktik-praktik yang berasal dari
abad pertengahan itu. Istimewa, karena yang melontarkan pernyataan itu justru pejabat dari lembaga yang notabene mengurusi masalah keagamaan.
Adalah Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar yang secara terbuka menyatakan hal itu pada Hari Amal Bhakti Ke-66 Kementerian Agama di Pekanbaru, Riau, beberapa waktu lalu. Pernyataan Nasaruddin pastinya punya dasar yang kuat. Salah satunya adalah fenomena yang terjadi menjelang dan pada pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) di tanah air selama ini. ”Ini fenomena yang sangat memprihatinkan,” katanya.
Ya, meski sulit dibuktikan, praktik perdukunan, keterlibatan ”orang pintar”, permainan uang memang menjadi dinamika dalam demokrasi di Indonesia. Seperti dilansir Antaranews.com, Wakil Menetri Agama itu khawatir praktik-praktik seperti itu bisa merusak nilai-nilai agama dan membawa pengaruh buruk bagi kehidupan berbangsa serta bisa menjerumuskan kepada tindakan musyrik bagi yang melakukannya.
Hubungan erat antara politik dan mistik, juga dikemukakan Wakil Ketua DPR Priyo Budhi di Gedung DPR/MPR RI Jakarta, Awal April lalu. Politisi Golkar itu bahkan menyebutkan, praktik klenik itu sudah menjadi tradisi yang banyak dilakukan politisi dan pejabat, mulai dari lurah hingga pejabat. Wajar jika kita merasa sangat prihatin karena wilayah pemerintahan yang mensyaratkan pemikiran dan konsepsi logis, rasional, dan terukur, ternyata justru diawali dengan hal-hal yang irasional.
Saya jadi teringat peristiwa beberapa tahun lalu. Saat itu, di rumah seorang calon walikota berkumpul tim suksesnya. Hari sudah lewat tengah malam. Tiba-tiba, salah seorang anggota tim sukses itu berbisik kepada sang calon walikota. Mereka pun pindah ke ruangan lain, karena harus bertemu seseorang yang mereka sebut ”orang pintar”.
Tak lama kemudian, sang calon ke luar ruangan dengan memakai sarung. Anggota tim sukses itu kemudian menjelaskan bahwa sarung itu bukan sarung biasa, tetapi sarung yang bisa mengangkat harkat, derajat, dan kewibawaan serta melancarkan ikhtiar dan keinginan pemakainya. Apakah selama proses pemilihan walikota itu sang calon terus memakainya? Saya tidak tahu. Yang jelas, dia kalah dalam pemilihan walikota itu…ha..ha..ha....
Dalam bulan-bulan ini pun, urusan perdukunan atau ”orang pintar” kembali mengemuka. Adalah Eyang Subur yang membikin heboh itu. Namun, kehebohan itu bukan terjadi di wilayah politik, tetapi di dunia artis. Entah apa persoalan sebenarnya dan bagaimana urusan Eyang Subur itu sehingga menjadi isu yang menasional. Yang pasti, heboh Eyang Subur itu kian menegaskan bahwa praktik-praktik klenik masih lekat dalam kehidupan kita. Mata kita pun kian terbuka untuk melihat bahwa ”wilayah kerja” praktik perdukunan sudah merambah ke kelas elite.
Terus terang, saya tidak memercayai apalagi meyakini dukun, ”orang pintar”, paranormal, atau apalah sebutannya. Namun, pelibatan orang-orang seperti itu dalam berbagai urusan benar adanya. Setidaknya hal itu diketahui dari informasi, berita, atau pengakuan para pelakunya ketika harapan, maksud, dan-keinginannya tidak tercapai alias kalaut.
Bagi orang yang mendasarkan pola pemikiran, sikap, dan tindakannya pada hal-hal yang rasional, praktik berbau mistis boleh jadi merupakan sesuatu di luar dirinya. Kalaupun fenomena ”dunia lain” itu ada, hal itu tidak lebih dari budaya yang hidup di sekitarnya. Artinya, jika kita berniat atau menginginkan sesuatu, kemampuan dirilah yang seharusnya diandalkan, tentu saja, dengan selalu diiringi permohonan dan doa kepada Tuhan, bukan mengandalkan ”orang pintar”.
Di tengah keras persaingan atau tekanan-tekanan lain, bagi sebagian orang terkadang tawaran pelayanan ”orang pintar” begitu menarik untuk dicoba. Mereka mungkin beranggapan atau bahkan berkeyakinan ”orang pintar” bisa membantu meningkatkan karier politik, kemajuan usaha, kewibawaan, dan sebagainya. Padahal, semua itu lebih bersifat spekulatif, susuganan. Lebih jauh lagi, melenceng dari konteks religi.* Noe Firman - kisuta.com


