Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Opini

Agenda Mendesak Bangsa: Membangun Indonesia dengan Tradisi Ilmu dan 4M

Senin, 17 Juni 2013


Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan

DALAM setiap estafet peradaban, peran pemuda selalu menjadi sentral perubahan. Seperti halnya dalam proses kemerdekaan Republik Indonesia yang mendapatkan suntikan energi luar biasa dari pemuda untuk mendapatkan kemerdekaanya.

Bangsa Indonesia saat ini dihadapkan pada kondisi yang sulit dan rumit, karena sedang mengalami krisis multidimensi yang harus segera dicarikan solusinya. Korupsi, kenakalan remaja, globalisasi dan kapitalisme asing mencengkram indonesia, narkoba dan lain-lain. Lalu apa sebenarnya yang seharusnya dilakukan oleh bangsa ini ?

Jika bangsa ini ingin maju dan terlepas dari permasalahan-permasalahan di atas, maka hal yang harus dibudayakan adalah tradisi ilmu. Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini bangsa indonesia kurang dalam tradisi ini, mudah emosi, mudah ditipu, dan dibodohi adalah salah satu contoh kenapa bangsa ini lemah dalam tradisi ilmu. Jika kita tengok sedikit saja, betapa bangsa Jepang saat ini bisa maju dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, jawabannya karena tradisi ilmu.

Ilmu adalah sinar yang dapat mengeluarkan seseorang dari kegelapan, ilmu bagaikan penunjuk jalan agar kita bisa meraih kejayaan dan kesuksesan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki tradisi keilmuan yang kuat.

Membangun Indonesia bisa dilakukan dengan 4 M (Membaca, Menulis, Meneliti, dan Mendiskusikannya).

1. Membaca
Membaca merupakan hal yang penting untuk meningkatkan kapasitas intelektual seseorang dan bangsa secara makro. Dengan membaca kita dapat mengetahui berbagai macam hal. Kurang membaca berarti kurang mengetahui. dan mari kita tengok pada diri dan sekitar kita, apakah kita sudah menjadikan membaca sebagai budaya? tak ada ilmu pengetahuan tanpa membaca, tak ada bangsa yang maju melainkan dengan budaya membaca. Sudah seharusnya saat ini Bangsa Indonesia memiliki tradisi membaca yang diinisiasi oleh generasi mudanya yaitu pelajar dan mahasiswa.

2. Menulis
Setelah membaca dijadikan budaya, maka selanjutnya adalah Menulis. Budaya tulis di Indonesia juga sangat lemah, hal ini terbukti dengan hanya sedikitnya jumlah penulis yang ada di Indonesia, jelas berbeda dengan jumlah penulis di negara maju. Ini juga dapat dijadikan parameter maju dan tidaknya sebuah negera. Menulis merupakan kegiatan intelektual yang memiliki peran besar dalam pembentukan suatau peradaban. Banyak penulis hebat seperti M. Natsir, Buya Hamka, Habiburrahman El- Shirazy dan lain-lain berperan sebagai tiang penopang peradaban. Penulis berperan sebagai pembawa sinar ilmu yang memberikan arahan, ilmu pengetahuan, wawasan dan motivasi kepada masyarakat untuk terus maju menghadapi tantangan zaman saat ini. Penulis adalah tentara intelektual yang siap melindungi bangsa ini dari cengkraman kebodohan dan kesengsaraan. Maka jika ingin negara ini maju dan terlepas dari permaalahan dan kebodohan, mari gemar membaca dan menulis.

3. Meneliti
Jika kita mendapatkan suatu informasi maka kita harus meneliti informasi tersebut dari mana sumbernya, dan apakah benar isi informasinya. Mungkin inilah yang dilupakan oleh bangsa Indonesia sehingga dengan mudahnya kita diadu-domba oleh isu yang belum tentu benar, solusinya adalah meneliti. Meneliti adalah Suatu cara berpikir (way of thinking) bagaimana menilai suatu fenomena masalah dengan menggunakan teori yang sudah ada, sehingga teridentifikasi dan terumuskan permasalahan utama yang dihadapi peneliti, bagaimana hipotesis yang relevan dikembangkan dalam rangka menjawab permasalahan tersebut, dan bagaimana suatu rancangan penelitian dipilih dalam rangka membuktikan kebenaran hipotesis yang disusun dan mencari jawaban yang akurat bagi permasalahan tersebut. Pada praksisnya, kegiatan meneliti tak serumit apa yang kita bayangkan, kuncinya ada pada pembiasaan sikap dan berfikir ilmiah.

4. Mendiskusikannya
Setelah meneliti dilalui maka tahap selanjutnya adalah mendiskusikannya. Berdiskusi adalah kegaitan bertukar pikiran antarindividu untuk mencari kebenaran. Berdiskusi penting untuk menambah wawasan, mencari solusi dari permasalahan yang terjadi agar solusi yang ditelurkan dapat berbobot dan aplikatif karena telah didiskusikan oleh beberapa orang atau kelompok. Setiap orang memiliki pandangan dan persepektif tentang suatu permasalahan, maka berdiskusi adalah hal yang penting untuk dilakukan oleh bangsa ini agar dapat terjadi akselerasi solusi dari permasalahan yang dihadapi bangsa ini.

Akhirnya dengan solusi di atas melalui katalisator generasi muda Indonesia, bangsa kita dapat menjadi bangsa yang unggul, cerdas dan maju dalam menghadapi tantangan zaman saat ini, dengan budaya ilmu dan 4M (Membaca, Menulis, Meneliti, dan Mendiskusikannya).* Robi Awaludin - kisuta.com

(Penulis adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Ekonomi, Majelis Penasihat Organisasi UKM Kepenulisan Al-Qolam UPI dan UKM Penelitain LEPPIM UPI. Tulisan ini telah dimuat di "Opini UPI".)


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya