Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Hantu, Seks, Korupsi

Kamis, 20 Juni 2013

BUKAN perkara sulit untuk me­nyebut judul film Indonesia berbau horor dan seks. Ada puluhan film dengan judul yang memakai kata kuntilanak, po­cong, jelangkung, pe­rawan, dan lain-lain. Ya, tema hantu dan seks memang cukup menjanjikan secara komersial. 

Film bertema seks, meski tetap dengan balutan horor, juga tak kalah marak menghiasi layar le­bar tanah air. Beberapa di antaranya adalah Hantu Bi­nal Jembatan Semanggi, Hantu Puncak Datang Bulan, Suster Keramas, Tiren: Mati di Ranjang, Pengantin Pantai Biru.

Banyak yang berpendapat, maraknya film bertema hantu dan seks adalah cerminan mandeknya kreativitas sineas kita, selain tentu saja pasar yang menjanji­kan.

Namun, kita juga patut berbangga dengan karya-karya sineas Indonesia yang berkualitas, bernilai seka­ligus menguntungkan secara ekenomis. Pada 1986, Eros Djarot membuat karya monumental, Tjoet Nja’ Dhien, yang diperankan legenda hidup Christine Ha­kim. Epik ini tak hanya mengisahkan perjuangan pah­lawan dari Aceh itu, tetapi juga secara dramatis menuturkan pengkhianatan, cinta kasih, dan kebesaran jiwa­nya dengan penggambaran sangat indah. Tjoet Nja’ Dhien boleh jadi puncak pencapaian dunia perfilman kita. Pengakuan itu diaktualisasikan melalui delapan Piala Citra pada Festival Film Indonesia (FFI) 1986.

Karya sinema yang membanggakan adalah Naga Bo­nar. Kelucuan yang muncul dalam film itu bukan dikemas dalam adegan slapstick yang biasanya mengekplorasi kelemahan fisik atau saling ejek. Kelucuan hadir dalam bentuk dialog yang bernas. Sang Jenderal Naga Bonar yang diperankan Deddy Mizwar memang hadir untuk berkelakar dan menyindir situasi saat itu. Karya masterpiece Asrul Sani itu diganjar penghargaan tujuh Piala Citra di FFI 1987.

Memasuki tahun 2000-an, muncul semangat baru dari sineas muda yang menawarkan genre film remaja yakni Ada Apa de­ngan Cinta? (2001). Film ini menjadi penanda penting bagi perkembangan perfilman negeri ini karena melahirkan tren tidak hanya di layar lebar te­tapi juga di layar kaca. Film karya Rudi Soejarwo yang ditonton hampir tiga juta orang itu kemudian men­­dorong film-film bertema sejenis yakni remaja de­ngan segala kehidupannya yang menarik. Empat tahun lalu, Laskar Pelangi tampil mengejutkan. Karya feno­menal sineas muda Riri Reza pun jadi box office. Lebih dari 4,5 juta orang menjadi saksi, selain cinta, remaja, horor, dan komedi, film bertema persahabatan dan pe­tualangan juga mampu menarik minat penonton.

Cinta memang jadi tema yang paling mendominasi industri film, karena cinta memang universal sekaligus komersial. Hollywood pun tetap mengusung tema cinta meski dikemas dalam beragam plot cerita. Namun, se­bagai pusat industri perfilman dunia, Hollywood tentu saja punya segudang cerita, isu, masalah, dan fenomena untuk diangkat menjadi tema film.

Ketika ramalan suku Maya soal hari kiamat menjadi pembicaraan dunia, Hollywood dengan cerdik merilis film 2012. Hasilnya, box office. Merespons isu pema­nasan global, muncul film The Day After Tomorrow. Ketika perang Vietnam berkecamuk dan gerakan pe­nentangan masyarakat sipil marak di mana-mana, mun­cul film The Deer Hunter, The Fourth of July, dan lain-lain.

Demikian pula ketika kasus korupsi dan intrik politik yang kotor dan kebobrokan pejabat mengemuka di Ame­rika dan belahan dunia lain, Hollywood menge­luarkan sejumlah judul film seperti Chinatown (1974 ), All the President’s Men ( 1976 ), City Hall (1996) dll. All the President’s Men manjadi sangat fenomenal karena berani mengangkat kisah wartawan Bob Woodward dan Carl Bernstein dari Washington Post yang meng­ungkapkan skandal politik Watergate dalam pemerintahan Presiden Nixon. Film City Hall mengi­sahkan korupsi oleh Wali Kota New York yang dipe­rankan Al Pacino.

Nah, saat ini, kasus korupsi, intrik politik tanpa eti­ka, banyaknya politisi busuk dan pejabat kotor kan se­dang marak di Indonesia. Namun, sejauh ini, belum ada sineas yang meng­angkatnya sebagai tema utama. Padahal, plot ceritanya pasti sangat seru. Akan sangat menarik jika, misalnya, skandal megakorupsi Bank Century, kasus korupsi Gayus, pelarian Nazaruddin dan Nunun Nurbaeti atau kasus korupsi simulator SIM di tubuh Polri diangkat ke layar lebar.

Adakah produser yang berani menanamkan investa­sinya dan sutradara yang mau menggarap film-film ber­tema kejahatan luar biasa seperti itu? Mudah-mu­dahan saja ada. Masa sih kita kalah oleh sineas India yang berani memvisualkan kebokbrokan pejabat dan polisi korup.* Noe Firman - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya