Ada Pemanjat Pohon di Timnas Sepak Bola Tahiti
TERSENYUM sekaligus terharu ketika saya membaca profil pemain sebak bola tim nasional Tahiti yang sedang berlaga di turnamen antarjuara benua, Piala Konfederasi 2013 di Brasil, 15-30 Juni 2013. Bayangkan saja, dari 23 pemain yang dibawa, hanya satu orang yang benar-benar pemain profesional, selebihnya pemain amatir. Bahkan salah seorang pemainnya, yaitu Teheivarii Ludivion berprofesi sebagai pemanjat pohon kelapa.
Meskipun membuat tersenyum, namun mereka sangat membanggakan bagi negaranya yang hanya berpenduduk 500 ribu jiwa ini. Keterbatasan tak mematahkan tekad mereka untuk membawa harum nama bangsa di dunia sepak bola. Meskipun kalah 1-6 saat menghadapi Nigeria pada laga Senin, 17 Juni 2013 di Stadion Estadio Mineirao, Belo Horizonte, Brasil, namun tim yang diarsiteki Eddy Etaeta ini tetap membanggakan bagi negaranya.
Eddy mengatakan, meskipun negaranya menjadi juara di Zona Oceania 2012, namun sebagian besar pemainnya bukan pemain sepak bola profesional. Mereka bekerja serabutan dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan dunia sepak bola. Mereka justru menjadikan sepak bola sebagai pekerjaan sampingan.
"Sembilan pemain timnas adalah pengangguran, sedangkan lainnya ada yang bekerja sebagai kurir, sopir truk, dan ada juga yang guru olahraga, atau sebagai akuntan," ujar Etaeta.
Mengenai pemainnya, Teheivarii Ludivion yang bekerja sebagai pemanjat pohon kelapa, Etaeta mengatakan, "Dia adalah pendaki gunung. Tapi dia akan memanjat apa saja. Dia memanjat pohon kelapa, memanjat apa pun. Lalu dia datang ikut berlatih. Itulah kesehariannya. Dia memanjat pohon kelapa dan memanjat gunung”.
Ludivion yang bermain pada posisi bek ini, bahkan diketahui memperoleh pendapatan dari badan konservasi di Tahiti. Etaeta yang telah menjelma menjadi sosok ayah bagi skuad berjuluk Fenua ini mengungkapkan, pemain lainnya, yaitu Ricky Aitamai, kalau tidak sedang bermain sepak bola, menghabiskan waktunya untuk belajar keuangan. Pemain yang menempati posisi gelandang ini sempat menunda ujian akhirnya demi berkonsentrasi ke sepak bola.
Sedangkan pemain terkuat di Skuad Tahiti, yaitu Rainui Aroita berprofesi sebagai atlet serba bisa. Pemain berusia 19 tahun ini tak hanya menggeluti sepak bola, tetapi juga berlatih tinju dan Vaa'a, olahraga kano ala Tahiti. Pemain lainnya, striker Timnas Tahiti, yaitu Samuel Hnanyine bekerja sebagai kurir jasa pengiriman. Barang yang dikirim bermacam-macam, termasuk karung 50 kg berisi tepung.
Kondisi mereka jauh berbeda dengan kapten Timnas Tahiti, Marama Vahirua yang pernah membela beberapa klub di Prancis dan kini bermain di Liga Yunani bersama klub Panthrakikos. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak membuat anggota tim yang lain berkecil hati. Pada Kamis, 20 Juni 2013, Timnas Tahiti menghadapi juara dunia Spanyol. Meski kembali kebobolan banyak gol, namun para pemain Timnas Spanyol, begitu kagum dan salut dengan gaya bermain bola dan semangat juang para pemain Tahiti.
"Tahiti kebobolan banyak gol, tapi mereka berusaha bermain bola dengan cara yang tepat," ujar bintang Spanyol, Juan Mata.
Bagi Tahiti, negara yang terletak di selatan Samudra Pasifik ini, penampilan Timnas mereka di Piala Konfederasi sangat membanggakan. Negara beribukota Papeete ini akan mencoba membuat cerita di tengah kepungan negara-negara kuat sepakbola. Di ajang Piala Konfederasi 2013, mereka tergabung di Grup B bersama Spanyol, Nigeria, dan Uruguay.
"Kami tak akan memiliki senjata yang sama, baik secara teknik, taktik, dan fisik. Tapi kami pasti akan punya hati dan itulah senjata kami, hati dan semangat kami," tegas Etaeta.* Ati Suprihatin - kisuta.com


