Memahami Emosi Anak Usia Sekolah
MASA sekolah bagi anak-anak merupakan periode memuncaknya emosi yang ditandai dengan munculnya rasa takut yang kuat, dan meledaknya cemburu yang tidak beralasan. Pada masa ini telah terlihat perbedaan–perbedaan dalam emosi dan pola ekspresinya dapat ditafsirnya dengan segera.
Ketegangan emosi pada anak -anak ini sebagian disebabkan oleh kelelahan karena terlalu lama bermain, kurang tidur, dan terlalu sedikit makan sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan jasmaniah. Kebanyakan anak-anak merasa bahwa mereka sanggup melakukan lebih banyak lagi daripada apa yang diperbolehkan orang tua dan mereka membangkang terhadap pembatasan-pembatasan yang diberlakukan terhadap dirinya.
Emosi yang umum dialami pada tahap perkembangan ini adalah marah, takut, cemburu, kasih sayang, rasa ingin tahu, cemas dan kegembiraan. Masing-masing emosi tersebut mempunyai pola ekspresi yang telah berkembang baik pada masa prasekolah dan masing-masing emosi itu ditimbulkan oleh perangsang yang umum dialami oleh kebanyakan anak-anak.
Menginjak masa sekolah, anak segera menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Dengan demikian ia mempunyai motivasi yang kuat untuk belajar mengendalikan dan mengungkapkan emosinya.
Emosi-emosi yang terdapat pada masa prasekolah, terdapat juga pada masa sekolah. Perbedaannya terletak dalam dua hal, pertama adalah situasi yang menimbulkan emosi, dan kedua adalah dalam bentuk pernyataan atau ekspresinya. Perbedaan ini hasil dari bertambah luasnya pengalaman dan pengetahuan anak.
Emosi yang telah disebutkan di atas tidaklah merupakan emosi yang siap sedia atau siap pakai sejak lahir. Emosi itu harus berkembang dan dikembangkan. Perkembangan emosional dipengaruhi oleh dua fakta yakni kematangan dan belajar. Jadi oleh kedua-duanya, bukan hanya oleh salah satu dari padanya. Kenyataan bahwa reaksi emosional tertentu tidak muncul sejak awal kehidupan tidak berarti bahwa itu tidak dibawa sejak lahir. Mungkin emosi itu akan berkembang lebih lama sesuai dengan kematangan intelegensi si anak atau bersamaan dengan perkembangan sistem indokrin. Melalui belajar, objek dan situasi yang pada mulanya tidak menimbulkan respon emosional, dikemudian hari mungkin menimbulkan respon emosional.
Pertumbuhan dan perkembangan membuat anak bersifat berbeda terhadap situasai-situasi yang khas. Apa yang menakutkan baginya pada usia tertentu mungkin akan menimbulkan reaksi emosional yang sama. Demikian pula rangsangan atau stimuli yang dulunya tidak menimbulkan emosi dengan berbagai tingkat intensitas. Belajar dan kematangan terjalin sangat erat satu sama lain sehingga sukar untuk menetapkan pengaruh mana yang relatif lebih kuat. Berikut penjelasan mengenai jenis–jenis emosi yang ada pada masa anak–anak menurut Paimun (1997: 189) yaitu:
1.Takut
Adanya rasa takut pada anak-anak adalah hal yang wajar selama rasa takut itu tidak terlalu kuat dan hanya merupakan peringatan terhadap bahaya. Sayangnya, kebanyakan anak-anak belajar takut terhadap hal- hal yang tidak berbahaya, dan rasa takut ini menjadi penghambat terhadap tindakan yang mungkin sekali sangat berguna ataupun menyenangkan. Lebih bahaya lagi, banyak anak yang mengalami berbagai macam rasa takut yang kuat dalam dirinya, sehingga kesehatan fisik dan mentalnya terganggu. Bila tidak ada penyaluran yang memuaskan bagi ketegangan-ketegangan emosional ini, maka kesehatan anak akan terganggu, pandangan hidupnya akan tercemar, dan penyesuaiannya terhadap sesama manusia tidak menguntungkan. Dengan demikian menurut Qomaruzzaman Awwab (2008 : 18) bahwa "rasa takut menjadi penghalang bagi anak, padahal seharusnya rasa takut tersebut merupakan peringatan terhadap kemungkinan bahaya".
2.Cemas
Cemas ialah suatu bentuk rasa takut yang bersifat khayalan. Jadi bukan rasa takut yang disebabkan stimulus dari lingkungan si anak. Kecemasan ini mungkin datangnya dari situasi-situasi yang dikhayalkan atau diimajinasikan akan terjadi. Tapi dapat pula alasannya dari buku-buku, film, komik, radio, ataupun cara–cara rekreasi populer lain. Karena rasa cemas ini disebabkan oleh imajinasi atau khayalandan bukan oleh stimulus nyata, maka ia tidak terdapat pada anak–anak di usia yang sangat muda. Kecemasan dapat terjadi bila anak telah mencapai tingkat perkembangan intelektual yang mana ia bisa berimajinasi tentang hal-hal yang secara langsung tidak ada di hadapannya.
Jadi, jelaslah bahwa rasa cemas biasanya hanya sesuatu yang tidak masuk akal dan ynag dibesar-besarkan. Akan tetapi hai ini mungkin merupakan hal yang wajar dalam perkembangan anak.
3.Marah
Marah merupakan reaksi emosional yang lebih sering terjadi pada masa anak-anak dikarenakan lebih banyak stimulus yang menimbulkan kemarahan dalam kahidupan anak daripada stimulus yang menimbulkan rasa takut. Banyak anak yang pada usia muda telah menemukan bahwa marah merupakan cara yang baik untuk mendapat perhatian atau memuaskan keinginannya.
Anak yang lebih tua lebih banyak mengalami ketegangan emosional sebagai akibat frustasi bila dibandingkan dengan anak usia muda. Frustasi ialah perasaan ketidakberdayaan, kekecewaan, ketidakmampuan, atau kecemasan yang kuat yng terjadi jika suatu keinginan terhambat.
4.Cemburu
Cemburu merupakan respon yang normal terhadap kehilangan nyata ataupun ancaman terhadap kehilangan kasih sayang. Cemburu adalah kelanjutan dari marah yang menimbulkan sikap benci atau dendam yang ditujukan terhadap orang, sedangkan marah dapat ditujukan tidak hanya terhadap orang tetapi terhadap diri sendiri, dan benda-benda. Dalam cemburu sering terdapat kombinasi antara marah dan takut. Orang yang cemburu merasa tidak yakin atau tidak aman dalam hubungannya dengan orang yang dicintainya. Apa yang menyebabkan orang cemburu dan bagaimana bentuk kecemburuannya banyak dipengaruhi oleh pendidikannya dan perlakuan yang diterimanya dari orang lain. Sifat cemburu pada masa anak-anak dapat memengaruhi sikap individu terhadap orang lain, tidak hanya pada masa anak-anak tapi sepanjang hidupnya. Puncak kecemburuan datang pada umur 3 dan 4 tahun, sedangkan puncak kecemburuan berikutnya muncul pada masa adolesen.
5.Kegembiraan, Kesenangan atau Kenikmatan
Kegembiraan dalam bentuknya yang lebih lunak dikenal sebagai ketenangan atau kebahagiaan, yang merupakan emosi yang positif karena individu yang mengalaminya tidak melakukan usaha untuk menghilangkan situasi yang menimbulkannya. Ia menerima situasi tersebut atau berusaha untuk mempertahankannya karena hasil yang menyenangkan yang diperolehnya. Situasi gembira ini akan berbeda pada setiap perkembangan usianya.
6.Kasih sayang
Kasih sayang atau cinta adalah reaksi emosional yang ditujukan terhadap seseorang atau suatu benda. Kasih sayang anak terhadap orang lain yang terjadi secara spontan dapat ditimbulkan oleh suatu stimulasi sosial yang minim sekalipun. Namun, belajar memainkan peranan yang penting dalam menentukkan orang-orang tertentu atau objek-objek tertentu terhadap siapa anak menaruh kasih sayang atau cintanya. Kasih sayang atau cinta itu diperoleh melalui belajar, bukan dibawa dari lahir, maka cintanya maka cintanya terhadap anggota keluarga atau terhadap orang lain yang tidak mempunyai tali persaudaraan dengannya tergantung pada bagaimana mereka memperlakukan dan apakah hubungannya merupakan pengalaman yang menyenangkan.
7.Ingin Tahu
Minat terhadap lingkungannya sangat terbatas selama usia 2 atau 3 bulan pertama dari kehidupan terkecuali bila stimulus yang kuat ditujukan terhadap si bayi. Setelah usia itu, apa saja yang baru atau aneh baginya, pasti akan menimbulkan rasa ingin tahunya. Hal ini mendorongnya untuk melakukan eksplorasi sampai rasa ingin tahunya terpuaskan. Minatnya tidak hanya terbatas pada objek – objek materi dalam lingkungannya.
Tekanan sosial, dalam bentuk teguran dan hukuman mencegahnya untuk memuaskan rasa ingin tahunya melalui eksplorasi lansung. Oleh karena itu, segera setelah ia dapat berbicara, ia mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai rasa ingin tahunya. "Masa bertanya" dimulai pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya kurang lebih pada usia 6 tahun, ketika anak mulai masuk sekolah dan menerima pendidikan formal. Bila ia telah cukup lancar membaca, maka ia akan menemukan rasa ingin tahunya melalui proses eksplorasi membaca secara langsung.* Neneng Mutiara Maulid - kisuta.com
(Penulis adalah Mahasiswa Prodi PKK 2011, FPTK – Universitas Pendidikan Indonesia. Tulisan ini telah dimuat di "Opini UPI".)


