Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Opini

Perbaikan Pendidikan Kita

Jumat, 28 Juni 2013

MANUSIA adalah unsur terpenting dalam sebuah proses bernama kehidupan. Ia mengisi ruang kehidupan yang paling besar tanggung jawabnya, karena ia telah ditugaskan oleh sang Khalik sebagai khalifah di muka bumi sebagaimana tercatat dalam firman Allah SWT dalam Alquran surat Al – Baqarah ayat 30, “Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka: Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau? Dia berkata: Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dari ayat tersebut kita bisa menyaksikan bahwa fungsi keberadaan manusia di muka bumi, adalah untuk menjadi seorang khalifah atau pemimpin yang ada di muka bumi. Tetapi malaikat menyatakan bahwa manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah, kemudian Allah SWT menjawab bahwa Dia lebih mengetahui apa-apa yang tidak malaikat ketahui.

Manusia sebagai khalifah haruslah menciptakan kondisi bumi yang nyaman dan tentram, tetapi apa yang kita rasakan saat ini? Kerusakan di mana-mana. Apa yang telah dilakukan oleh manusia yang kemudian menciptakan kerusakan di muka bumi ini, terjadi karena rusaknya pendidikan. Menurut Prof. Al-Attas dalam buku Islam dan Sekularisme, seharusnya pendidikan yang diselenggarakan dapat melahirkan manusia yang baik, yaitu manusia yang beradab.

Umat muslim di zaman kejayaan Islam adalah umat yang beradab yang menghargai keindahan. Output pendidikan seharusnya adalah manusia beradab, yang dapat menciptakan suasana kenyamanan dan ketentraman tanpa kerusakan dan hal yang merusak.

Contoh kerusakan yang diciptakan oleh manusia, adalah jumlah kejahatan yang meningkat, seperti pencurian, penggunaan narkoba yang salah, pemerkosaan, pembunuhan, pelecehan seksual, korupsi, dan penipuan. Terkadang pelaku kejahatan adalah orang berpendidikan, bahkan tak jarang siswa berprestasi dengan nilai sempurna. Lantas, mengapa pendidikan yang selama ini diajarkan kepada peserta didik membentuk karakter siswa yang demikian?

Peristiwa ini sangat berbeda dengan zaman sebelumnya, yaitu saat Islam memimpin peradaban. Pendidikan mampu menghasilkan ulama sekaligus ilmuwan yang hingga saat ini karyanya masih dijadikan rujukan. Mereka adalah Al – khawarizmi, ilmuwan yang menemukan angka 0, Ibnu Sina yang menulis kitab fenomenal Qanun, Ath-Thib di bidang kedokteran bahkan bukunya menjadi rujukan kedokteran modern saat ini, dalam bidang fisika ada Ibnu haytam yang berhasil menemukan teori pembiasaan kemudian merancang prototype kamera, dan banyak lagi ulama-ulama yang tidak saja cerdas, tetapi mereka juga bersahaja dalam bersikap dan bertindak. Inilah produk pendidikan yang seharusnya.

Saat ini banyak yang beranggapan bahwa penyebab rusaknya generasi, yaitu pendidikan karena kebijakan pendidikan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah adalah salah. Contoh kebijakan yang salah, adalah Ujian Nasional (UN) yang sekarang sedang hangat diperbincangkan. Banyak yang kemudian menuntut untuk menghapuskan kebijakan ini, karena UN hanyalah sebuah fasilitas pemerintah untuk menilai apakah pendidikan yang diterapkan sudah berhasil atau tidak. UN kemudian dibuat menjadi momok menakutkan oleh para pemimpin pendidikan daerah. Mereka meminta pimpinan sekolah untuk berbuat curang. Kemudia kepala sekolah meminta para guru yang seharusnya menjadi benteng akhlak murid-muridnya untuk melakukan kecurangan tersebut. Apakah kebijakan UN yang patut kita salahkan?

Penyebab dari semua ini berawal dari rusaknya guru dan ilmu. Menurut Al-Attas dalam buku Islam dan Sekulerisme, “Ilmu yang seharusnya menciptakan keadilan dan perdamaian justru membawa kekacauan dalam kehidupan manusia; ilmu yang terkesan nyata, namun justru menghasilkan kekeliruan dan skeptisme, yang mengangkat keraguan dan dugaan ke derajat ‘ilmiah’ dalam hal metodologi serta menganggap keraguan (doubt) sebagai sarana epistemologis yang paling tepat untuk mencapai kebenaran; ilmu yang untuk pertama kalinya dalam sejarah telah membawa kekacauan pada tiga kerajaan: hewan, tanaman, dan bahan galian (mineral)”. Ilmu yang dirusak adalah hilangnya wilayah wahyu dalam ilmu. Hilangnya wahyu ini menyebabkan menimba ilmu tidak menyentuh wilayah ilahiah atau hanya berurusan dengan duniawi saja, maka wajar saat pemimpin kemudian meminta kecurangan saat UN, karena mereka kemudian sepaham dengan mencapai tujuan dengan cara menghalalkan segala macam cara.

Kemudian penyebab kedua adalah guru, Menurut Fauzil Adhim artikelnya yang berjudul "Jangan Remehkan Dakwah kepada Anak-anak" menyatakan, pendidikan bukan sekadar belajar berhitung, melainkan juga untuk menyiapkan generasi 30 tahun mendatang yang akan menggantikan generasi sebelumnya dan semua itu adalah tugas guru. Dalam kasus UN, guru seharusnya yang menjadi benteng pembinaan akhlaq murid. Guru seharusnya melawan saat diminta untuk berbuat curang, karena itu berlawanan dengan nurani dan tujuan pendidikan.

Untuk mengubah kondisi ini, hal yang harus kita perbaiki adalah dengan memperbaiki ilmu yang hari ini diajarkan di ruang kelas dan guru yang mengajarkan ilmu tersebut. Ilmu yang diajarkan sejatinya telah dibaratkan atau disekulerkan. ia sudah tidak lagi sesuai dengan fitrahnya, maka hal yang perlu kita lakukan adalah dengan mengislamisasikan ilmu tersebut. Guru adalah ujung tombak perubahan pendidikan bukan menteri pendidikan. Bagaimana mungkin pendidikan dapat berubah sedangkan para gurunya tidak berubah. Maka untuk dapat mengubah mentalitas guru, kita harus dapat mengubah universitas yang merupakan tempat guru itu belajar. Menurut Prof Al -Attas, untuk dapat mengbubah pendidikan suatu bangsa, maka yang pertama kali harus diperbaiki bukanlah sekolah dasarnya melainkan pendidikan tingginya atau universitas.

Perbaikan yang kita inginkan sebaiknya tidak saja berfokus pada kebijakan pemerintah, walaupun memang ia memegang peranan penting juga dalam perubahan pendidikan. Namun kita tidak boleh lupa pangkal utama rusaknya pendidikan adalah ilmu, maka kita pun harus berfokus ke arah sana.* Asri Rahmaniar - kisuta.com

(Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Pendidikan Fisika 2009, FPMIPA, Institute for Research and Islamic Civilization Study – Universitas Pendidikan Indonesia. Tulisan ini telah dimuat di "Opini UPI".)


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya