Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Opini

Fashion dan Mahasiswi

Sabtu, 29 Juni 2013

BAGI beberapa golongan warga kampus, terutama mahasiswi, dunia fashion menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, beberapa mahasiswi bercanda, “Nggak akan pergi ke kampus deh kalau kehabisan stok baju trendi. Hehehe". Bagi mereka, tampil modis merupakan salah satu modal untuk meningkatkan percaya diri. Dengan percaya diri mereka akan lebih merasa nyaman untuk bergaul dengan banyak orang, tanpa merasa risih dengan diri mereka sendiri.

Ketertarikan pada dunia fashion pada awalnya lebih didominasi oleh kalangan mahasiswi tertentu saja, terutama mereka yang tidak mengenakan hijab. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, para jilbaber atau hijabers-pun ikut dalam perkembangan mode masa kini. Tidak sedikit hijabers yang secara rutin meluangkan waktunya, setiap bulan bahkan setiap weekend untuk shopping atau sekadar window shopping bersama teman-teman.

Lebih dalam mengulik tentang dunia fashion, beberapa mahasiswi yang mengenal dengan baik tentang dunia fashion berpendapat, seseorang yang senang mengaplikasikan dunia fashion dalam kesehariannya biasa dikenal dengan istilah fashionista. Seseorang bisa dikatakan sebagai fashionista yang fashionable apabila ia sangat memprioritaskan penampilannya saat bepergian, pergi ke kampus, bahkan saat santai sekalipun. Jadi, tidak heran kalau mereka sering disebut dengan julukan miss mach, miss fashionable, dan berbagai julukan lainnya, karena mereka memang sangat suka memakai dan membeli baju-baju yang match dan mix.

Menanggapi opini bahwa mahasiswi fashionista yang fashionable pasti boros dan membutuhkan banyak uang untuk membeli barang-barang yang up to date dan branded, sebenarnya itu tidak sepenuhnya benar. Ada dua tipe fashionista. Fashionista yang pertama adalah fashionista jenis inovatif. jenis yang pertama ini cenderung jauh dari kesan boros, karena kebanyakan dari mereka adalah fashionista yang memiliki kemampuan mengeluarkan gaya unik dan dapat menghasilkan berbagai karya dalam menginovasi pakaian-pakaian yang sudah lewat dari masa jayanya, dengan kata lain jadul.

Sedangkan jenis yang kedua adalah fashionista yang memang cenderung membutuhkan barang-barang yang baru dan branded masa kini, sehingga membutuhkan budget yang tidak sedikit untuk memenuhinya.

Dipandang dari kacamata penulis, sebagai seorang mahasiswi, kita harus bersikap arif dalam menyikapi hobi dan keinginan, terutama masalah yang terkait dengan dunia fashion. Hidup hemat itu perlu, karena hidup bukan saja dihabiskan untuk sekadar tampil trendi. Kesenangan terhadap dunia fashion dapat disikapi secara positif dengan menyalurkan melalui pengembangan aplikasi ilmu desain bahkan sampai berjualan pakaian sebagai usaha sampingan.

Lalu, bolehkan tampil trendi? Jawabannya, boleh saja, asalkan dibatasi dan disesuaikan dengan aturan agama yang kita anut serta adat ketimuran,dan disesuaikan dengan tingkat kondisi kenyamanan kita.* Nur Ida Maulida - kisuta.com

(Penulis adalah Mahasiswa Prodi International Program on Science Education, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Pendidikan Indonesia. Tulisan ini telah dimuat di "Opini UPI".)


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya