Tarif Listrik Makan Korban Jiwa
KENAIKAN tarif listrik di Sri Lanka telah “memakan” korban jiwa. Seorang pria bernama S. P. Samaradasa, Jumat (28/6/13), meninggal terkena serangan jantung gara-gara tagihan listriknya membengkak hampir 50%.
Sebelum terkena serangan jantng, pria berusia 61 tahun itu sangat terkejut saat menerima tagihan listriknya yang naik cukup tinggi. Samaradasa akhirnya mendatangi Perusahaan Listrik Ceylon di Kolombo untuk menyampaikan keluhannya karena tagihan listriknya tiba-tiba membengkak.
Di kantor ini, Samaradasa mendapat penjelasan dari petugas yang menerangkan bahwa kenaikan tagihan disebabkan karena tarif listrik yang naik sebulan sebelumnya. Mendengar penjelasan tersebut, Samaradasa terlihat geram dan menahan marah. Beberapa saat kemudian pria tua itu terjatuh ke lantai dan pingsan. Petugas langsung membawanya ke rumah sakit, sayang dalam perjalanan menuju rumah sakit, Samaradasa menghembuskan nafas terakhir.
Kematian Samaradasa yang diduga karena terkena serangan jantung, langsung menjadi headline media massa di Sri Lanka, karena negara ini baru saja menaikan tarif listrik yang mendapat protes dari rakyatnya.
Demikian seperti diberitakan media setempat, Ceylon Today dan dilansir AFP, Sabtu (29/6/13). Sri Lanka merupakan negara dengan tarif listrik termahal di kawasan Asia. Negara dengan penduduk mayoritas Budha itu mengenakan tarif untuk setiap satu kilo watt per jam sebesar 47 Rupee atau setara dengan Rp 3.700.
Sekitar dua per tiga pembangkit listrik di Sri Lanka menggunakan batu bara atau minyak. Adapun pembangkit listrik tenaga air tak dapat digunakan selama musim kering berkepanjangan. Perusahaan listrik Sri Lanka mengaku harus menaikkan tarif dasar listrik pada bulan lalu untuk menekan kerugian mereka.* Ati - kisuta.com


