Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Ada Apa dengan Tawa?

Rabu, 17 Juli 2013

DULU, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) pernah merilis 13 program televisi yang dianggap mengandung makian, kekerasan, seks, atau pelecehan. Di antaranya adalah program yang justru kerap mengundang tawa pemirsa. Beberapa tayangan bahkan siarannya sampai dihentikan. Sebenarnya, ada apa dengan tawa di program-program tersebut?

Tertawa adalah pekerjaan yang mungkin mudah, jika ada pemicunya. Kita bisa menonton acara lucu di televisi, mendengar banyolan konyol di radio, atau membaca cerita humor di media cetak dan online. Menurut teori, tertawa 5-10 menit dapat merangsang pengeluaran endorphin, serotin ditambah melatonin. Yang merupakan zat kimia positif. Release dari zat tersebut menyebabkan perasaan tenang dan tenteram. Tertawa juga mengurangi pengeluaran adrenalin, kortisol dan radikal bebas yang disebut zat kimia jahat. 

Selain itu, tertawa juga dapat menurunkan tekanan darah dan detak jantung, mengurangi kadar kolesterol jahat. Sistem kekebalan juga dirangsang, yaitu salah satunya melalui sel antikanker yang akan memakan sel kanker dalam tubuh. Orang yang mudah tertawa lebih cepat sembuh dari penyakit daripada orang yang lebih banyak mengeluh apalagi menangis. Dan, tertawa membuat muka relaksasi, kerut-kerut hilang dan tampak muda kembali. 

Bahkan, Menurut Yoji Kimura, seorang ahli komunikasi dari Universitas Kansai di Osaka, Jepang, menyatakan bahwa tawa anak kecil yang lebih bebas dan lepas harus ditiru orang dewasa jika ingin sehat dan jauh dari stres. "Kami telah menemukan bahwa anak-anak tertawa lebih bebas dan melepaskan 10 aH (satuan tawa) per detik. Hasil ini dua kali lipat dari orang dewasa," ujar Yoji. Penemu alat penghitung "dosis tawa" ini mengatakan orang dewasa tertawa lebih sedikit karena mereka cenderung memperhitungkan saat yang tepat untuk tertawa dan kadang karena hal ini mereka tidak bisa tertawa lepas. 

Guyonan pengundang tawa di acara tv yang saya sebutkan di atas itu memang lucu, namun satir! Kelakar yang saling melecehkan, menghinakan dan cenderung kasar. Misalnya, bentuk peniruan cacat orang atau karakteristik etnis tertentu, lelucon porno, penghinaan anatomi tubuh atau bahkan peniruan kemalangan seseorang yang terkena musibah. 

Sebuah penelitian di kalangan siswa sekolah menengah di AS (New Scientist 1961) memerlihatkan bahwa orang tak selalu tertawa karena lucu atau gembira. Mereka tertawa atas perang bantal di asrama, teman gadis yang menyibak bajunya, jatuh ketika bermain ski, anjing masuk kelas pada jam pelajaran, salah ucap dalam suatu perdebatan dan diejek karena gendut. Penelitian ini membuktikan, tertawa karena mengejek ternyata lebih menonjol daripada tertawa karena dagelan yang bijak. Manusia lebih banyak menertawakan daripada tertawa. Jadi, meski sehat tertawa juga bisa menyakitkan. 

Ya, kehidupan zaman sekarang memang banyak tuntutan dan apabila tuntutan itu tidak terpenuhi, maka timbul stress. Bahkan, jika stres berkepanjangan, menurut para ahli kesehatan akan menyebabkan sistem kekebalan tubuh menurun. Akibatnya, timbul berbagai penyakit. Malahan mampu menyebabkan kanker hingga stroke. Oleh sebab itu, cobalah menghibur diri dengan sesuatu yang menyenangkan, agar kita bisa tertawa. 

Agar tidak stres, saya kerap membuat guyonan pengundang tawa di kantor. Meski sering bergurau, saya sendiri bukan tipikal orang yang bisa tertawa terbahak-bahak. Mirip komedian Inggris, Rowan Atkinson yang mengaku hanya bisa tertawa terbahak-bahak satu kali selama lima tahun terakhir. Tetapi saya yakin, tertawa saya adalah tertawa sehat. Bukan tawa karena rasa sinis, benci, menghina, dan memperolok-olok. Juga bukan jenis tawa yang sekadar membuang waktu hingga menyebabkan matinya hati dan lalai dalam banyak perkara. Saya sarankan tertawalah yang renyah, asal jangan sura-seuri teu puguh-puguh!* Nada Ahmad - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya