Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Reuni, Ya Silaturahmi...

Jumat, 19 Juli 2013

SAYA amati dalam beberapa bulan terakhir, hampir setiap hari koran "PR" memuat berita reunian. Mulai dari reuni teman sekolah, kuliah, hingga teman sekompleks perumahan dulu. Sepertinya, ada konsekuensi logis dari mewabahnya jejaring dan situs pertemanan (Facebook, MySpace, Twitter, CyWorld, Hi5, Orkut, Xiaonei, 51.com, Bebo, dan sebagainya) dengan ramainya acara reunian. Saya pikir, berbagai jejaring pertemanan ini mampu menghubungkan kembali teman-teman karib yang telah lama terpisah sehingga acara reuni ikut menjadi tren. Sepertinya, ajang kangen-kangenan ini menjadi sesuatu yang dinanti. Sebenarnya ada apa dengan reuni?

Reuni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dan sebagainya) setelah berpisah cukup lama. Wajar saja setiap orang merindukan reuni. Orang beramai-ramai setia kepada tuntutan sukmanya untuk bertemu dan berakrab-akrab kembali dengan asal usulnya dulu. Merayakan pertemuan setelah lama berpisah, keriangan akan bersua dengan teman-teman waktu sekolah dulu, serta mengenang kembali cerita-cerita lama menghilangkan sejenak kesusahan dan hiruk pikuknya rutinitas keseharian.

Acara reuni ada yang diadakan secara dadakan. Misalnya, beberapa orang teman lama janjian lewat situs pertemanan, lalu "kopi darat" di tempat yang telah disepakati. Namun, ada pula acara reuni yang dipersiapkan sejak jauh hari. Lokasi acara, pakaian, dan suasana diformat sedemikian rupa agar peserta reuni merasakan "roh" masa lalu. Bahkan, Tidak sedikit pula, reuni yang diadakan secara besar-besaran, formal, lengkap dengan seremonial, makan-makan, dan hiburan yang mewah.

Di balik itu, apakah reuni ini hanya acara kangen-kangenan dengan teman lama semata? Sekadar hura-hura dan pesta pora? Atau lebih parah, reuni sebagai wadah bagi terjalinnya kembali hubungan asmara di masa lalu atau cinta lama bersemi kembali (CLBK)? Nah, ini yang ditakutkan. Bahkan, beberapa teman SMA saya mengaku, enggan hadir di reuni karena takut kasuat-suat bertemu mantan pacarnya dulu, sehingga dapat merusak keharmonisan rumah tangganya.

Menurut Dewi Kumaladewi, psikolog ("PR", Minggu 19/7/09), sikap yang paling penting dalam menghindari ketakutan CLBK adalah memperkokoh hubungan suami istri dari berbagai sisi. Jika hubungan suami istri kokoh, reuni bukanlah merupakan ancaman. Jadi, memberikan izin pada suami atau istri ikut reuni, juga menunjukkan kasih sayang padanya dan pengertian bahwa kita peduli pada kebahagiaannya.

Yang terpenting dari reuni adalah makna yang terkandung di dalamnya, yaitu mengikat tali silaturahmi. Secara harfiah, silaturahmi artinya menghubungkan tali kekerabatan, menghubungkan kasih sayang, dan menghendaki kebaikan. Silaturahmi itu tidak terikat waktu, bisa kapan saja, dan kepada siapa saja. Banyak bersilaturahmi, berarti kita akan banyak "menyelesaikan problem", "meluruskan benang kusut", dan "mencairkan yang beku". Bahkan, dalam sabda Rasul, Asra'ul khaira tsawaaban albirra wa shilatur rahmi. Kebaikan yang paling cepat balasannya, yaitu berbuat kebaikan dan silaturahmi.

Saya pikir, dari acara reunian, tidak sedikit yang kemudian melahirkan suatu komunitas untuk saling membantu di antara mereka. Reuni bisa menjadi sarana saling tukar informasi, jejaring usaha, dan bisnis. Agar lebih langgeng, dapat dibentuk suatu forum komunikasi, baik berupa yayasan maupun bentuk lain. Jadi, ikut reuni? Siapa takut?!* Ahmad Nada - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya