Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Jempol

Senin, 22 Juli 2013

SALAH seorang teman saya sewaktu di SMA kehilangan sebagian jempol tangannya. Peristiwa itu terjadi ketika dia sedang mengendarai sepeda motor dan bertabrakan dengan becak. Malang tak dapat ditentang, untung tak dapat diraih, jempol tangannya nyaris terputus akibat terkena sabetan bemper bagian depan becak. Akibatnya, dia terpaksa harus
“jajan” alias dioperasi dengan biaya lumayan besar.

Jempol tangan kanannya kini tak memiliki kuku. Masih beruntung tak terpangkas semuanya. Kini, dia tak pernah membalas sms yang masuk ke hp-nya. Dia akan langsung menelefon orang tersebut.

Lain halnya, salah seorang penggarap sawah milik orangtua saya di kampung di Tasikmalaya. Kini, saya membayangkan dia sepertinya agak kesulitan pula untuk ber-sms ria. Bukan karena jempolnya hilang atau terputus. Namun, karena ukurannya cukup besar.

Gara-garanya, saat ngambil rumput salah satu jemari ta­ngannya secara tiba-tiba tersengat oleh binatang, entah binatang apa. Akibat sengatan itu, salah satu jemari tangannya sempat membengkak dan membesar bahkan sempat dibawa ke dokter untuk diobati. Namun, setelah diobati tidak kunjung sembuh. Salah satu jemarinya ikut mengembang atau melar
menjadi besar. Mungkin akibat dari racun gigitan.

Agaknya kini dari lima jemari yang kita miliki, jempol-lah yang paling aktif. Saya sering tertegun melihat kelincahan jempol anak-anak sekarang memijit tombol-tombol hp ketika ber-sms. Seakan jempolnya memiliki mata. Lincah menari-nari ketika berkomunikasi lewat sms, bahkan tanpa melihat sekalipun. Ternyata jempol pula, yang kini banyak digunakan sebagai lambang. Terutama dalam Facebook. Jika menyukai suatu kegiatan atau pemikiran dari seseorang, tinggal mengklik jempol. Artinya “suka” atau “like”, kebalikannya jika tak suka maka lambang jempol itu mengarah ke bawah.

Jempol dijadikan lambang, rupanya sudah sejak zaman dulu. Jempol yang disebut “ibu jari” (tangan maupun kaki), memiliki posisi yang terhormat. Penyimbolan “jempol” sebagai pujian berlaku secara universal. Di dalam film-film ber-setting zaman Romawi. Dalam adegan di arena Gladiator, jika sang kaisar mengacungkan jempolnya berarti memujinya. Tapi sebaliknya, jika acungan jempolnya mengarah ke bawah, harus dibunuh.

Jika jempol dijadikan untuk mengucapkan pujian, akan sangat langka diacungkan bagi kehidupan bernegara saat ini. Pertikaian terjadi di mana-mana. Saling serang antarkelompok, golongan, partai politik, antaranggota legislatif. Keadaan ini tak layak diancungi jempol. Hanya di dunia maya kita sa­ling memuji. Namun, di dunia nyata, begitu pelit untuk saling memuji. Segala sesuatu yang dilakukan orang lain seolah euweuh pujieun. Seolah sudah kehilangan jempolnya. Atau terlalu berat untuk mengacungkan jempol hingga selalu me­ngarah ke bawah.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya