Perpaduan Keindahan Arsitektural Mughal, Moorish, dan Arab
MASJID Agung Sheikh Zayed berada di kota Abu Dabi, ibukota Uni Emirat Arab (UEA). Masjid ini dinamai sesuai dengan tokoh besar di balik ide pembangunannya, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Selain tokoh UEA, beliau sekaligus pendiri dan presiden pertama UEA. Masjid Agung Sheikh Zayed merupakan masjid terbesar di UEA dan terbesar ke-6 di dunia.
Dari berbagai sumber yang diperoleh kisuta.com , pembangunan masjid ini menghabiskan biaya sekitar US$545 juta. Desain dan pembangunan masjid ini melibatkan sebanyak 3.000 pekerja dan mendatangkan seniman dan material dari berbagai negara di antaranya berasal dari Italia, Jerman, Moroko, India, Turki, Iran, RRC, Inggris, Selandia Baru, Yunani, dan UEA. Ketika Sheikh Zayed wafat pada tahun 2004, proses pembangunan masjid dilanjutkan oleh putranya, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan yang juga menjabat Presiden UEA.
Masjid Sheikh Zayed merupakan fusi dari arsitektural Mughal (India, Pakistan, Bangladesh) , Moorish (Maroko), dan Arab. Luas bangunan masjid mencapai 22.412 meter persegi itu setara dengan lima lapangan sepakbola dan dapat menampung 50.000 jemaah sekaligus. Masjid terdiri dari ruang utama, ruang shalat terbuka, ruang shalat wanita, area Sahan (pelataran tengah), selasar ruang utama, dan selasar pintu masuk utama. Halaman utama masjid seluas 17.000 meter persegi yang berlantaikan marmer putih dengan dekorasi pola bunga dikelilingi oleh kolam refleksi seluas 7.847 meter persegi.
Masjid ini mempunyai 82 kubah bergaya Maroko dan semuanya dihias dengan batu pualam putih. Lengkap dengan pelataran tengahnya sebagaimana di Masjid Badshahi di Kota Lahore, Pakistan yang bergaya Mughal. Kubah utama masjid ini berdiameter 32.8 meter dengan tinggi 55 meter dari dalam atau sekitar 85 meter dari luar. Merujuk kepada Turkey Research Centre for Islamic History and Culture, kubah ini merupakan kubah terbesar yang pernah dibuat dalam jenis yang sama.
Empat menara yang masing-masing setinggi 107 meter, menghiasi empat penjuru masjid. Selain itu, masjid ini mempunyai 1.000 pilar marmer dan dilapisi emas 24 karat chandelier serta batu berharga seperti lapis lazuli, red agate, amethyst, abalone shell, dan mother of pearl.
Rancangan impresif menghias sisi dalam masjid dengan menggunakan material pualam Italia, dipadu dengan rancangan ukiran floral di ruang shalat utama serta dinding sisi luar yang dihias dengan mozaik kaca emas, sebagaimana tampak pada dinding sebelah barat. Pintu utama masjid ini dibuat dengan bahan kaca setinggi 12,2 meter dan lebar 7 meter memiliki berat mencapai 2,2 ton.
Di ruang utama terdapat 96 pilar bundar berukuran besar yang kesemuanya di lapisi dengan mother of pearl. Di ruang utama diletakkan lampu gantung terbesar di dunia dengan diameter 10 meter dan setinggi 15 meter. Lampu gantung seberat sembilan ton yang tergantung di bawah kubah utama dihiasi ribuan kristal Swarovski asal Austria. Sementara lantai ruang utama dihiasi karpet rajutan tangan terbesar di dunia yang dirancang oleh seniman asal Iran dan dibuat oleh 1.300 perajin karpet yang didatangkan langsung dari Mashhadin, desa kecil di Iran yang terkenal dengan keahlian penduduknya membuat karpet.
Kiblat setinggi 23 meter dengan lebar 50 meter dihiasi oleh seni kaligrafi 99 nama yang menggambarkan Allah, didesain oleh seniman kaligrafi ternama UEA. Secara keseluruhan masjid ini melibatkan seniman kaligrafi asal Syria, Turki, dan Jordan. Marmer putih asal Italia dengan pola bunga menghiasi ruang shalat.
Masjid Agung Sheikh Zayed dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan yang terletak di sisi utara menara masjid. Perpustakaan ini dilengkapi dengan buku-buku klasik dan buku-buku cetakan terkait dengan Islam termasuk tentang ilmu pengetahuan dalam Islam, peradaban, kaligrafi, seni budaya, koin-koin Islam hingga buku-buku kuno terbitan 200 tahun yang lalu. Sebagi perwujudan dari keanekaragaman Islam, perpustakaan ini menyediakan buku-buku dan bahan terbitan dari berbagai bahasa termasuk bahasa Arab, Inggris, Prancis, Italia, Jerman dan Korea.
Masih ada keindahan lain dari Masjid Agung Sheikh Zayed, yaitu kolam refleksi yang mengelilingi masjid. Kolam refleksi seluas 7.874 meter persegi yang dibangun menggunakan bahan keramik lantai warna gelap ini, memantulkan bentuk arkade masjid, memberikan pemandangan spektakuler di bawah siraman cahaya lampu -lampu di malam hari. Tata cahaya yang unik ini dirancang oleh arsitek tata cahaya, Jonathon Speirs dan Major , dapat memantulkan fase-fase bulan. Pemandangan awan abu-abu kebiruan di proyeksikan kepada dinding luar masjid dan menghasilkan pemandangan yang berebeda setiap hari.
Masjid Agung Sheikh Zayed ini dibangun tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga sebagai pusat dari edukasi dan budaya Islam yang terbuka bagi siapa saja dan tidak dikenakan biaya apapun, termasuk untuk jasa pemandu yang sangat berpengalaman. Mesjid Agung Sheikh Zayed dibuka setiap hari mulai dari pukul 09.00-22.00 waktu setempat (tutup Jumat pagi) dan khusus selama bulan Ramadhan tutup pukul 24.00 waktu setempat (tutup hari Jumat).
Waktu yang tepat untuk mengunjungi masjid ini adalah sebelum dan setelah matahari terbenam. Ketika gelap, kolam refleksi di sekeliling masjid akan merefleksikan deretan kolom sepanjang halaman masjid. Pencahayaan masjid yang dirancang arsitek tata lampu Jonathon Spiers cukup unik, sorotan proyeksi awan abu kebiru biruan pada dinding luar masjid intensitas cahayanya selalu berubah setiap malam mengikuti fase bulan. Redup ketika bulan sabit, terang ketika bulan purnama. Sungguh menawan.* Ati Suprihatin - kisuta.com


