Empati
LAGI-LAGI, Hanin (11) putri saya, suka menunjukkan "cahaya ilahiah" pada suatu peristiwa. Mengingatkan saya sebagai ayahnya agar lebih perhatian. Ia berkata, sambil menyodorkan koran "PR". "Coba Yah, baca Surat Pembaca ini!"
Isi Surat Pembaca itu, intinya jeritan seorang ibu yang kehilangan putranya akibat kecelakaan tunggal. Saat mengendarai sepeda motor pada malam hari, anak itu menabrak marka/median jalan tanpa rambu atau arah jalan.
Mendadak Hanin seperti menjelma jadi sang ibu yang kehilangan putranya itu. Awalnya, ia menceritakan bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan. "Kata Ibu, melahirkan itu seperti melangkah pada kematian," katanya.
Kalimatnya mengagetkan saya. Soal masalah kematian, Rasulullah pernah ditanya oleh sahabatnya, bagaimana rasanya menghadapi sakaratul maut itu? "Jika kamu bisa merasakan 300 tebasan pedang, itulah rasanya saat sakaratul maut," begitulah Rasulullah membandingkannya.
"Namun, rasa nyeri itu sirna ketika terdengar tangis bayi," ungkap Hanin. Setelah itu, sang ibu merasakan kegembiraan yang tiada tara.
Kemudian Hanin mengatakan, dari hari ke hari, sang putra dipelihara dengan penuh kasih sayang. "Jangankan kasih sayang seorang ibu manusia, seekor induk ayam pun berani melindungi anaknya dari serangan sang elang," tuturnya.
Nyaris saya tak percaya, ia berkata begitu.
"Seiring impian dan harapan dari sang ibu, tak hanya air susu diberikan namun jiwa raga, serta sepenuh napas ia berikan untuk menumbuhkan sang putra kesayangan. Tanpa mengharapkan balasan apa pun, seorang ibu akan merasa bahagia jika anaknya tumbuh selaras dengan impian dan harapannya."
Saya terpana.
"Tapi Yah, mendadak segalanya sirna manakala mendengar kabar sang putra tiada akibat kecelakaan," suara Hanin serak, "Tak ada yang paling menyedihkan dari seorang ibu melihat buah hati lebih dulu menghadap Ilahi, mungkin kesedihan itu sakit melebihi saat ia melahirkan putranya dulu."
Ucapan putri saya itu, sudah melampaui apa yang saya perkirakan. Saya menatapnya dan ingin menyudahi perkataannya.
"Ayah harus lebih jeli melihat segala kejanggalan," tuturnya, "Siapa yang bersalah dengan kejadian ini? Jangan-jangan Ayah juga ikut bersalah karena tak merasa empati."
Saya terdiam. Sebagai wartawan, mungkin benar selama ini saya kurang empati. Sesuatu yang bisa membahayakan, dibiarkan begitu saja. Padahal saya punya kemampuan untuk mengingatkan: dengan cara mewartakannya.
Median jalan atau pemisah badan jalan yang tanpa rambu-rambu, memang banyak bertebaran di Kota Bandung. Saya berani bertaruh, hampir semuanya telah memakan korban. Bukan hanya gardan mobil yang rusak akibat terperosok menabrak median jalan, namun banyak korban lainnya gara-gara kurangnya rambu-rambu atau petunjuk arah pada median jalan tersebut.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


