Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

"Eundeuk-eundeukan"

Rabu, 24 Juli 2013

Eundeuk-eundeukan lagoni, meunang peucang sahiji, leupas deui ku aki, beunang deui ku nini.

LAGU itu mungkin tak akan terdengar lagi dinyanyikan oleh anak-anak sekarang, sambil berayun-ayun di dahan pohon jambu halaman rumah. Selain pepohonan sudah amat jarang, anak-anak sekarang tampaknya lebih asyik main game di depan komputer. Bahkan kalau diperhatikan, anak-anak sekarang banyak yang "takut ketinggian".

Lagu dan permainan itu sekarang malah sering "dimainkan" para elite politik kita. Terlebih saat pilkada. Sebagai contoh, kericuhan pilkada yang terjadi di beberapa daerah. Sebabnya, boleh jadi bermula dari ketidakpuasan pada hasil pilkada. Kemudian muncul gugatan. Materi gugatannya, pemilihan yang dianggap curang. Indikasinya, banyak pemilih yang tak terdaftar atau terjadinya money politics.

Calon yang kalah selanjutnya melayangkan gugatan ke pengadilan. Celakanya, di lembaga pengadilan ini, penggugat menang. Tentu saja si tergugat tak terima. Ujung-ujungnya, terjadilah kericuhan antarpendukung.

Seperti yang diungkapkan lagu tadi, awalnya, sang peucang (kancil) didapatkan oleh si Aki. Kemudian, setelah dieundeuk-eundeuk (digoyang-goyang) giliran si Ninilah yang mendapatkan kancilnya. Tentu saja si aki tak puas. Ia balas ngeundeuk-ngeundeuk. Entah dengan cara demo atau mengajukan gugatan lain ke lembaga pengadilan.

Saya tak tahu, apakah lagu dan permainan ini sebetulnya semacam uga atau pertanda dari karuhun bahwa kelak, di tatar Sunda --juga di wilayah Nusantara-- akan terjadi kericuhan seperti ini. Satu sama lain saling ngeundeuk-ngeundeuk. Orang yang sedang berkuasa, seperti sekarang ini, tak pernah tenang memegang kekuasaannya. Belum 100 hari menjalankan pemerintahannya, sudah dieundeuk-eundeuk agar jatuh.

Akibatnya dapat dirasakan saat ini. Kita belum juga berhasil keluar dari krisis. Seperti kata pepatah "gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah". Ungkapan ini bermakna, kaum elite politik yang bertarung, masyarakat yang menderita. Lihat saja, setiap hari diberitakan harga-harga kebutuhan pokok merayap naik, hingga rakyat panik menghadapinya. Sementara itu, kaum elite politik asyik main eundeuk-eundeukan.

Andai saja mereka mau turba (turun ke bawah) seperti yang dilakukan kalifah Umar bin Khatab, pasti mereka akan mendengar keluh kesah rakyat yang selalu berada di bawah. Tidak mustahil mereka akan menemukan seorang ibu yang bukan lagi memasak nasi aking, gaplek, atau bulgur, tetapi bahkan merebus batu, sekadar menipu perut anak-anaknya yang dilanda rasa lapar. Masihkah hati para elite ini tak bergetar menyaksikannya?* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya