"Kabebeng"
DULU, di kalangan kawan-kawan (sekampus) main kartu domino, ada istilah "kabebeng". Jika disimpulkan, pemain yang masih memiliki kartu cukup banyak, apalagi punya "balak enam", maka istilah itu pun diucapkan. Mungkin padanan kata
ini adalah "mati kutu". Jika dikaitkan dengan situasi sekarang, terlebih situasi yang dialami masyarakat bawah, permainan domino dan kabebeng, sangatlah tepat.
Situasi saat harga BBM naik, ibarat main kartu domino. Seorang pemain harus pintar-pintar memainkan kartu, jika tidak, ia akan kalah. Bahkan kalahnya telak atau kabebeng. Masyarakat kecil, jelas tak punya kartu bagus. Ibaratnya, masyarakat kecil banyak memegang kartu balak. Termasuk kartu "balak enam". Dapat dikatakan nilai "biji-biji" yang ada dalam kartu domino itu adalah "biji-biji" beban masyarakat yang harus ditanggung. Makin lama, kekalahan itu makin jadi beban yang
berat.
Dari permainan domino, juga ada yang disebut efek domino. Barangkali kita pernah menyaksikan ribuan, bahkan jutaan kartu domino disusun berdiri, membentuk suatu formasi. Entah gambar atau lambang sesuatu. Ketika salah satu dirubuhkan, akan merembet ke kartu domino lainnya. Permainan ini, indah memang.
Tetapi efek domino, seringkali merugikan. Seperti itulah, efek domino yang terjadi manakala harga BBM naik. Semua harga-harga ikut naik pula. Saat baru berembus "angin" akan ada kenaikan harga BBM, besoknya ibu-ibu pulang dari pasar dengan wajah yang rata-rata berkerut. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Kehidupan seperti dinaungi mendung.
Efeknya bukan hanya pada harga bahan pokok, juga situasi politik ikut naik.
Bagi para calon presiden baru, komentar mereka bermunculan di sana-sini. Efek lain, mahasiswa berdemo di berbagai kota. Malah kegiatan ini, menjadi kontraproduktif. Sebab jalanan jadi macet. Saat tak ada demo saja, di kota-kota besar bahan bakar yang terbuang akibat kemacetan berkisar Rp 4 miliar sampai Rp 6 miliar per hari. Suatu pemborosan yang luar biasa. Sementara itu, masyarakat berjajar antre untuk mendapatkan minyak tanah. Sebab konversi minyak ke gas, belum merata. Bahkan penyediaan gas pun sudah mulai dirasakan sulit.
Lebih ironis lagi, usaha pemerintah dengan memberi BLSM (bantuan langsung sementara masyarakat) untuk kompensasi akibat kenaikan harga BBM, banyak ditolak. Mulai dari lurah sampai gubernur menyuarakan penolakannya. Sebab mereka takut. BLSM ibaratnya "bom" yang siap meledak menjadi amuk massa, jika ada masyarakat yang merasa berhak tetapi tak kebagian. Ini juga menjadi semacam efek domino. Melihat situasi ini, masyarakat yang sedang ripuh, bertambah bingung. Perasaan kabebeng seperti menindih bukan hanya di pundak, tetapi sudah sampai ke ubun-ubun.
Situasi ini, menyebabkan banyak yang linglung. Penghuni rumah sakit jiwa jadi bertambah. Efek domino kenaikan harga x ini, terus merembet ke berbagai sektor kehidupan. Membuat kita jadi miris. Membuat pesimis. Ternyata reformasi tak membawa kebaikan. Slogan demi slogan, seperti buih diterpa angin. Ayo, Indonesia Bisa! Bisa apa?* Ahmad Yusuf - kisuta.com


