Kantong Keresek
TERNYATA kantong keresek tak sekadar berguna untuk membawa belanjaan, membungkus barang atau tempat sampah. Para ABG (anak baru gede) pun, harus menyediakan kantong keresek. Terutama yang suka pake celana model skiny. Itu,
celana model yang merecet (sempit), sehingga agar bisa lancar mengenakan celana model itu, maka kaki harus dibungkus dulu kantong keresek. Begitu juga untuk membukanya.
Saya tak bisa membayangkan bagaimana kalau dia kebelet ingin ke WC. Begitulah jika "kormod" (korban mode). Harus ada pengorbanan. Model celana itu, sebenarnya sudah ada sejak tahun 1950. Awalnya artis Marlyn Monroe dan Audrey Hepburn yang suka memakai model seperti itu. Lalu si Raja Rock'n Roll, Elvis Presley. Jadi siapa sebenarnya yang "jadul"?
Di rumah pastilah setiap hari, kita kedatangan kantong keresek. Terutama saat belanja bulanan. Jika rencang saya pulang dari warung, dia pasti membawa kantong keresek. Namun untuk dibuang, terasa sayang. Maka keresek itu disempilkan di antara lemari dan tembok dapur. Suatu saat, mungkin diperlukan untuk menampung sampah.
Kantong keresek juga bisa memberikan kehidupan bagi yang kreatif. Sejumlah pemulung mengumpulkan kantong keresek yang mengambang di Sungai Citarum, di bawah jembatan "BBS" Batujajar, Kab. Bandung. Sehari bisa mendapat 2 ton, lalu dijual Rp 250,00 per kilo. Lumayan kan?
Seorang kawan saya, sebut saja Haji Udin (36 tahun), di kawasan Cigondewah bertindak sebagai bandar pengumpul plastik. Dari usaha itu dia bisa pergi ke Tanah Suci. Plastik yang telah dibeli dari pemulung itu kemudian dipilah-pilah kembali oleh beberapa karyawannya, kemudian dikemas sedemikian rupa. Alat pengemasnya dari kayu mirip sebuah peti.
Beberapa tali sebagai pengikatnya ditaruh di dasar alat pengemas itu. Lalu plastik dimasukkan sambil dinjak-injak supaya padat. Setelah penuh barulah tali itu diikatkan erat-erat. Kantong keresek itu kini jadi seukuran satu meter kubik atau satu bal.
Tak perlu susah menjual, secara kontinu ada truk dari sebuah pabrik plastik segera mengangkutnya. Menurutnya, omzetnya bisa puluhan juta rupiah. Kantong keresek itu, di pabrik kemudian didaur ulang. Selain ada yang jadi kantong keresek kembali, juga ada yang dibikin barang-barang kebutuhan alat-alat rumah tangga.
Lain lagi, cerita dari kawan saya tentang kantong keresek ini. Ia sering berpergian ke luar kota. Ia senang memilih menggunakan bus, ketimbang kereta api. Ia pun suka membawa kantong keresek. Buat apa coba? (maaf) menampung muntah saat ada yang mabuk. "Bukan buat saya, tapi buat orang lain. Nah, seperti istri saya ini," ia menunjuk pada
istrinya yang dibawa bertamu. Mereka berkenalan gara-gara kantong keresek. "Saat ia mabuk, saya langsung memberinya kantong keresek," ujarnya sambil tertawa tergelak.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


