Kendalikan Diri!
RAMADHAN adalah bulan baik yang penuh berkah. Di sektor ritel, misalnya, keberkahan itu begitu dirasakan karena selama bulan Puasa pasokan dan permintaan meningkat tajam. Omzet komoditas pangan dan sandang, seperti di
sampaikan Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jawa Barat Hendri Hendarta, tumbuh di atas 20 persen. Artinya, Ramadhan bisa dibilang sebagai periode panen atau masa marema.
Seiring dengan meningkatnya permintaan, pengusaha pun berlomba-lomba untuk lebih menarik konsumen. Beragam promo diciptakan, umumnya disesuaikan dengan suasana Ramadhan. Diskon atau potongan harga pun ditawarkan. Ada catatan menarik dari Aprindo; tipikal konsumen Indonesia suka sekali dengan potongan harga. Apakah harga yang diberi potongan tersebut sudah dinaikkan terlebih dulu? Konsumen tampaknya tidak memedulikan hal itu.
Sebagai ajang pengendalian diri, puasa kita tampaknya mendapat tantangan yang semakin berat. Selain harus menahan haus dan lapar, kita pun harus bisa menahan keinginan untuk memenuhi hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu perlu untuk dipenuhi. Intinya, bagaimana kita berperang dengan diri sendiri agar tidak lantas terjebak ke dalam konsumtifisme dan hedonisme.
Akan tetapi, hal itu pastinya tidak mudah karena produsen begitu piawai merayu agar kita membeli dan memakai produknya, terlebih lagi rayuan itu hadir langsung di tengah keluarga. Simak saja program televisi saat ini. Selain dipenuhi tayangan komedi slapstick yang mengeksploitasi gaya kebanci-bancian dan sinetron yang ”mendadak islami”, sepanjang Ramadhan ini kita pun disuguhi beragam iklan komersial yang juga ”mendadak islami”. Hampir segala produk, mulai
dari makanan, minuman, dan fashion hingga gadget dan otomotif dikemas begitu menarik dengan bintang iklan yang umumnya tampil berjilbab atau berbaju koko.
Sebagai suatu proses komunikasi, iklan memang bertujuan untuk membujuk dan menggiring orang untuk mengambil tindakan yang menguntungkan bagi pihak pembuat iklan (Durianto, 2003, p.l). Iklan menjadi bagian dari strategi promosi perusahaan yang paling penting. Tak heran belanja iklan secara nasional terus meningkat. Pada 2008 belanja mencapai Rp 41, 7 triliun, pada 2009 sebesar Rp 48,5 triliun dan pada 2010 melonjak jadi Rp 62 triliun. Dari jumlah tersebut, 60 persen diserap televisi, sisanya menyebar ke media cetak, radio, dan media online. Nah, ketika demand begitu tinggi seperti saat ini, wajar jika produsen dan biro-biro periklanan meningkatkan kerja kreatifnya dengan menampilkan materi iklan yang menarik. Tujuannya, ya itu tadi, untuk membujuk konsumen.
Memang, tidak bisa dimungkiri, selama Ramadhan kebutuhan kita terasa meningkat, pengeluaran pun bertambah. Meskipun tidak bermaksud ngaaya-aya, kita misalnya ingin menikmati pais hayam, goreng lauk emas, gepuk atau rendang, dan kolak saat berbuka. Demikian pula saat sahur. Tentu saja kita menginginkan menu makanan yang setidaknya masuk kategori 4 sehat 5 sempurna. Boleh jadi, menu makanan yang kita santap saat berbuka puasa atau sahur itu jarang kita nikmati pada bulan-bulan lain selain Ramadhan. Artinya, selama bulan Puasa, risiko dapur pun bertambah.
Belum lagi menghadapi Lebaran. Sekali lagi, meskipun tidak bermaksud sagala diaya-ayakeun, kita tentunya ingin ngabageakeun hari kemenangan itu. Pada momentum ini, secara fisik kita ingin tampil sebaik dan seindah mungkin. Oleh karena itu, pada hari bahagia tersebut kita tampil dengan baju baru, celana baru, sandal dan sepatu baru, sarung baru, baju koko baru, peci baru, atau mukena baru. Pokoknya, segala baru. Konsekuensinya, pengeluaran pastinya bertambah banyak. Sataun sakali ngaraosan hirup raos mah teu nanaon panginten nya...
Apakah puasa mendorong kita lebih konsumtif? Bisa ya, bisa tidak. Jika pemenuhan kebutuhan hanya didasari keinginan, apalagi dengan memaksakan diri, harus diakui bahwa kita sudah terjebak dalam konsumtifisme. Lain halnya jika upaya pemenuhan kebutuhan itu didasari keperluan dan kepentingan serta disesuaikan dengan kemampuan kita. Jadi, semenarik apa pun tawaran itu, kitalah sebagai konsumen yang menentukannya. Pengendalian sepenuhnya ada di tangan kita. Pemenuhan kebutuhan kita seyogianya didasari atas keperluan dan kepentingan, bukan sekadar keinginan apalagi akibat termakan bujukan iklan. Bukankah puasa mendidik kita untuk lebih mampu mengendalikan diri?* Noe Firman - kisuta.com


