"Bebegig Sawah"
"APA itu, Yah?" tanya Hanin, putri sulung saya. Tentu saja, ia tak mengenal sosok "bebegig sawah", "orang-orangan", atau scarecrow (begitulah bahasa Inggrisnya). Orang-orangan untuk menghalau burung di sawah.
Biasanya dibuat saat padi mulai berbulir.
Bebegig mirip orang ini terbuat dari jerami. Pake topi caping mirip Pak Tani. Lengkap dengan baju Pak Tani yang telah usang. Lalu, saya menjanjikan padanya, kalau sawah punya nenek di Puspahiang, Tasikmalaya, akan panen nanti dibuatkan "bebegig".
Para petani, kini jarang yang membuat bebegig sawah lagi manakala sawah hampir dipanen. Padahal bebegig sawah, hasil budaya yang patut dilestarikan. Bahkan, jika perlu difestivalkan menjadi sebuah pertunjukan. Lengkap dengan tembang saat bebegig sawah itu digerak-gerakkan.
Membicarakan bebegig sawah ini, tadinya saya ingin mengusulkan kepada perupa Tisna Sanjaya, Isa Perkasa, atau perupa lainnya, untuk membuat seribu bebegig sawah. Bebegig itu agar dibuat dengan berbagai gaya. Seperti layaknya orang-orangan (manekin) untuk memperagakan baju di toko busana.
Demikian pula dengan baju yang dikenakannya. Bukan hanya berbaju Pak Tani, memakai baju kampret hitam-hitam, juga menggunakan jas, lengkap dengan dasi. Toh, setelan jas dapat didapat dari Cimol, yang kini berada di Pasar Gedebage.
Mumpung sekarang sedang suasana pemilu, bisalah ditawarkan kepada para caleg untuk media promosi. Caranya, foto wajah para caleg ditempelkan di bagian wajah bebegig seperti memasangkan topeng. Naha aya nu tertarik henteu, nya?
Supaya berhasil guna, seribu bebegig itu disimpan di ujung tembok meridian jalan atau pemisah jalan. Hingga para pengguna kendaraan dapat melihat ada tembok pemisah agar kecelakaan dapat dihindari.
Inilah awal ide pembuatan bebegig sawah. Sebab, saya melihat sejumlah tembok marka jalan dari hasil rekayasa arus lalu lintas tidak dibarengi dengan rambu-rambu lalu lintas. Sebagai contoh di Jln. A. Yani, tepatnya di kawasan Cicadas dan di Jalan Pungkur depan Pasar Ancol Kota Bandung.
Meridian jalan itu tampak telah rusak. Terlihat seperti terkena benturan benda keras. Saya bayangkan, entah berapa gardan mobil yang menggerus marka jalan itu karena tak mengetahui adanya pemisah jalan.
Hilangnya bebegig sawah dalam napas kehidupan petani, mungkin sebuah pertanda: bahwa kehidupan masyarakat, sudah tak mengindahkan rambu-rambu atau aturan. Toh, petani sudah tak penting lagi membuat bebegig sawah.
Ada hubungan yang terputus antara petani, sawah, bebegig, dan burung pipit. Apakah ini juga berarti ada yang terputus antara pemimpin/aparat (di tingkat apa saja), lahan kehidupan, aturan atau rambu-rambu, dan masyarakat?* Ahmad Yusuf - kisuta.com


