Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Biarkan Mereka Bermain

Minggu, 4 Agustus 2013

BEGITU mendapat tugas mengisi ko­lom Fokus yang te­ma­nya berkaitandengan salon dan spa anak, saya pergi ke salon di suatu mal di kawasan Pasirkaliki untuk observasi singkat. Saya tersenyum ketika me­lihat aktivitas di suatu salon khusus anak. Anak-anak yang biasanya sulit diam bahkan terkadang menangis dan meronta-ronta saat rambutnya dicukur atau dicuci, ternyata ber­ubah menjadi anak manis, jadi penurut.

Apa rahasianya? Ternyata, suasana dan interior sa­lon yang diciptakan sesuai dengan dunia mereka. Se­lain interior yang meriah dan berwana cerah, peralatan di salon itu juga dirancang akrab dengan anak-anak. Kursi-kursi, misalnya, didesain berbentuk mobil-mo­bil­an, atau hewan yang lucu. Dindingnya juga ditempeli beragam pernik cantik atau tokoh kartun.

Tidak mengherankan jika usaha salon anak kian men­jamur dan menjadi tren. Salon dan spa anak ber­lomba-lomba meningkatkan kualitas. Konsumen pun jadi punya banyak pilihan.

Dunia anak adalah dunia bermain. Pendekatan itu pu­lalah yang dilakukan para pengusaha salon anak dan pengusaha lain yang produknya dikhususkan untuk anak-anak. Hal ini sejalan dengan pandangan Diane E Papalia, ahli perkembangan manusia. Dalam bukunya Human Development, Papalia menyebutkan, anak ber­kembang dengan cara bermain. Dengan
bermain, anak-anak melatih otot, menstimulasi indra-indra tubuhnya, dan mengeksplorasi serta mempelajari hal-hal baru di dunia sekitarnya. Perkembangan otak dan ototnya terstimulus secara alami.

Bermain tentu saja berbeda dengan belajar dan be­kerja. Namun, masih banyak di antara orangtua yang menilai bermain adalah pemborosan waktu sehingga sering kali kita mencoba menyusupkan ”pelajaran” saat anak sedang asyik bermain. Akibatnya, permainan itu tidak lagi menyenangkan bagi si anak.

Bagi anak, bermain secara bebas memang penting. Na­mun, kebebasan itu tetap harus dibatasi. Ba­tas­an lo­gis adalah waktu dan jenis permainannya. Alokasi wak­tu tetap harus diberikan, untuk istirahat, makan, man­di, belajar, dan beribadah. Akan tetapi, porsi waktu yang terbesar ya untuk bermain.

Sekali lagi, dunia anak adalah dunia bermain. Orangtua, selayaknya menjamin ketersediaan waktu dan ruang agar aktivitas itu menyenangkan, nyaman, dan aman. Kita tentu masih bisa merasakan betapa keuheul-nya saat kita harus menghentikan maen ucing sumput, bebentengan, gatrik, maen kaleci, pepe­rang­an, momobilan, atau maen langlayangan, karena ha­rus bejalar atau mengerjakan peer, pekerjaan rumah. Anak kita pun pasti merasakan hal yang sama.

Sebagai mantan anak-anak, saya sebenarnya merasa ”berdosa” kepada anak-anak saya. Dulu, rasanya, saya punya waktu bermain yang lebih lama dan leluasa di­bandingkan dengan waktu yang saat ini diberikan ke­pada anak-anak saya. Jenis permainan yang saya main­kan dulu pun lebih beragam dan umumnya dimainkan secara bersama-sama. Maen gatrik
atau ucing sumput, misalnya, jelas tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi perlu teman yang lain. Dari sanalah, secara tidak sadar, saya mengenal pentingnya suatu kerja sama.

Seiring dengan berkembangnya budaya, peradaban, dan teknologi, permainan dan pola bermainnya juga turut berkembang dan kian canggih. Saat ini, nyaris tidak ada permainan anak-anak yang tidak mengandung unsur teknologi. Kemampuan anak pun jauh lebih meningkat, karena mereka lebih melek teknologi melalui beragam gadget dan aneka games.

Nah, di sinilah masalahnya. Sejumlah studi menunjukkan, teknologi yang terlalu dekat kepada keseharian anak-anak membuat mereka kurang aktif, kurang krea­tif, dan kurang berimajinasi. Dalam beberapa kasus, anak-anak menjadi kurang bersosialisasi, cenderung soliter. Makanya, akhir-akhir ini, muncul gerakan yang mendorong anak-anak kembali ke
permainan tradiso­nal, paling tidak, mengenalkannya.

Saya jadi teringat kepada puisi Kahlil Gibran yang sangat terkenal dalam buku Cinta Keindahan Kesunyian, cuplikannya; Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu/Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri/Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu/Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu/Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu, karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri…/.

Jadi, biarkan anak-anak bermain, biarkan menjadi dirinya sendiri.* Noe Firman - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya