Kamis, 4 Juni 2026
Wisata & Sejarah

Green School, Menghormati Alam Sepanjang Hidup

Senin, 5 Agustus 2013

MENYATU dengan alam. Itulah kesan pertama melihat Green School yang seluruh bagian bangunannya terbuat dari bambu. Sekolah hijau ini terletak di Desa Sivang Kaja, 30 km dari pusat kota Denpasar, Bali.

Sekolah ini memang unik, karena pendirinya, John Hardy, seorang desainer dan pengusaha permata, benar-benar menciptakan bangunan yang ramah lingkungan. Selain bambu, bangunan sekolah ini hanya menggunakan bahan tambahan lain, yaitu rumput gajah dan tanah liat. Dengan menggunakan bahan ramah lingkungan, sekolah ini bertekad menjadi sekolah berkarbon terendah di bumi.

Melihat ukurannya, sekolah bambu bisa menjadi bangunan bambu terbesar di dunia. Sekolah bambu yang tingginya mencapai 18 meter dengan luas 64 meter, dilengkapi penginapan, ruang kelas, gedung kantor, dan kafe. Penerangan di sekolah ini berasal dari sumber ramah lingkungan berupa generator turbin air dan panel surya. Tak hanya itu, menu makan malam sekolah menggunakan bahan organik, yang ditanam di lingkungan sekolah dan dibungkus dengan daun pisang.

Bukan hanya bangunannya dibuat dari bahan-bahan yang berasal dari alam, sekolah ini pun mempunyai lingkungan yang sangat alami. Pintu masuk sekolah yang berupa jembatan bambu membuat anak-anak bisa bermain di sungai di bawahnya. Jalan setapak di lingkungan sekolah dikelilingi batu vulkanik. Ruang kelasnya terbuka, melalui taman yang dipenuhi pohon nanas dan tanaman padi yang tumbuh subur.

Green School mengajarkan siswanya menanamkan nilai-nilai kehijauan. Dikutip dari The Telegraph, pendiri sekolah, yaitu John Hardy tertarik mendirikan sekolah ramah lingkungan setelah menyaksikan film dokumenter tentang pemanasan global besutan Al Gore yang berjudul An Inconvenient Truth. “Jika kita meyakini (pemanasan global) hanya sebagian kecil dari cara untuk kehancuran planet, setiap orang harus menggunakan pendekatan lebih bertanggung jawab. Dan pendidikan merupakan titik awal untuk mengatasi ini,” ujar John yang mengelola sekolah ini bersama istrinya, Cynthia.

“Belajar hijau” merupakan inti utama dari kurikulum. Mata pelajaran utama, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu pengetahuan, dan Drama, diresapi dengan pendidikan keberlanjutan. Para siswa belajar matematika dan sains dengan bambu, untuk mengukur proporsi dan rencana konstruksi dalam membangun bambu. Mereka juga menulis dan melakukan permainan mencari kehidupan spesies yang terancam punah.

Green School berharap para siswanya mengembangkan ikatan pribadi dengan alam, sehingga siswa akan menghormati alam sepanjang hidup mereka. Mereka juga terlibat pelestarian satwa yang terancam punah di tempat penangkaran yang dipenuhi burung jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan rangkong tunggal yang masih menunggu pasangan untuk dinikahkan.

Sementara yang lainnya bekerja dengan Coral Watch untuk memantau pelestarian terumbu karang dunia. Guru di sekolah ini termasuk aktivis gerakan lingkungan. Bulan lalu, seorang anggota suku Kamoro dari Papua Nugini mengajarkan siswa mengukir instrumen dari bambu.

Ada lebih dari 200 siswa dari 28 negara, termasuk Swedia, Lithuania dan Singapura yang bersekolah di Green School. Untuk menjadi murid Green School, seorang siswa harus membayar biaya sekolah 4.558 poundsterling (Rp63 juta lebih) untuk jenjang taman kanak-kanak (TK). Sementara siswa sekolah menengah dikenakan biaya 5.693 poundsterling (Rp79 juta lebih). Untuk warga Bali, akan mendapatkan 20 persen sokongan dana dari donatur Sir Richard Branson, Donna Karan, serta perusahaan es krim Ben&Jerry's.* Ati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya