Kerepus
PUTRI saya Hanin (11), mungkin tak akan ngeuh kalau saya suruh agar mengambilkan kerepus. Mungkin pula ia akan balik bertanya, "Apa? Kerupuk, Yah?"

Kerepus atau kopiah, ada yang menyebutnya peci atau pici, sudah menjadi trade mark bangsa Indonesia. Mungkin yang kali pertama mengenalkan peci ini adalah Presiden RI yang pertama, Soekarno atau Bung Karno. Saat itu, negeri kita yang baru bilang "merdeka", sangat disegani sebab negeri Inggris pun akan dilinggis, Amerika akan disetrika.
Entah akibat keberanian Bung Karno, peci juga ikut menjadi simbol keberanian. Tak percaya? Coba saja saat di Tanah Suci, jangan memakai topi haji yang putih, tetapi memakai peci yang sudah menjadi khas Indonesia. Niscaya para jemaah haji dari negara lain, terutama jemaah tuan rumah dan negara-negara Afrika yang berbadan gede-gede serta tingkah lakunya yang mirip badak Cihea (Banten), sradak-sruduk apalagi saat hendak akan pergi ke Masjidilharam untuk menunaikan salat, akan segan karena tahu yang mengenakan peci dari Indonesia.
Bahkan, ketika saya beribadah haji pada 2006 lalu, saat berjalan-jalan dengan teman di Mekah, ada seorang lelaki menunjuk-nunjuk ke arah kawan saya. Dilihat dari "topi" yang dikenakannya, ia pastilah bangsa Turki.
Lewat bahasa "Tarzan", ternyata orang Turki itu ingin bertukar peci dengan "peci" milik khas bangsanya. Tentu saja kawan saya itu, tak berpikir lama, langsung menyetujui keinginan lelaki Turki itu.
"Kumaha teu haripeut, peci manehna mah (orang Turki) leuwih alus bahan jeung bentukna, ganti na mah meuli deui we engke mun balik haji," ujar kawan saya sambil tertawa.
Perihal peci ini, saya teringat saat bertugas di lingkungan Pengadilan Negeri Bandung. Saat sidang, para terdakwa selain mengenakan baju yang dianggap sopan (biasa hitam dan putih), juga mengenakan peci.
Sepertinya peci merupakan suatu keharusan untuk menghadap majelis hakim. Terkadang, antara para terdakwa saling meminjam peci. Mungkin dengan menggunakan peci, para terdakwa akan terlihat lebih alim. Hingga berharap,
majelis hakim tidak akan menjatuhkan hukuman yang berat.
Di Kota Bandung, ada toko peci yang sudah terkenal, terletak di ujung Jln. Achmad Yani bagian barat. Atau dekat Jln. Perempatan Lima. Saat ini, ada beberapa cabang di tempat lain yang memasang nama dan logo nama itu. Ternyata ketika saya tanyakan, satu sama lain tak ada hubungan kekerabatan.
Entahlah, saat menjelang pelantikan para anggota legislatif, pedagang peci kebanjiran pesanan. Mereka juga lebih banyak pembelinya saat menjelang Lebaran.
Begitu pun para pejabat maupun anggota legislatif saat akan dilantik, selain berbaju jas, juga harus berpeci. Maksudnya? Entahlah....* Ahmad Yusuf - kisuta.com


