Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Amsal Tukang Batu

Rabu, 7 Agustus 2013

SAAT meliput tukang batu di Bukit Entak Dulang, di kawasan Kampung Cisanggarung, Desa Mekar Manik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, belum lama ini, mendadak saya teringat cerita tukang batu yang diceritakan Ibunda saat saya masih kecil.

Singkat cerita, ada seorang tukang batu, saat sedang bekerja mengambil batu, lewatlah seorang raja dengan ditandu dan dinaungi payung agung. Mendadak ia (tukang batu) memohon, agar dapat menikmati kemewahan seperti itu.

Ternyata Tuhan mengabulkannya. Akan tetapi, ditunjukkan pula pada tukang batu itu bahwa anggapan tentang sang raja yang lebih berkuasa dan lebih enak hidupnya adalah salah. Ada yang lebih berkuasa lagi, yaitu matahari yang membuat dirinya, yang telah menjadi raja, harus dipayungi. Tetapi toh, tetap saja hareudang. Ia pun ingin menjadi matahari. Tuhan pun mengabulkannya lagi. Ternyata sebagai matahari, setelah memamerkan kekuasaannya, ada sesuatu yang bandel. Nagen tak terpengaruh dengan panas cahaya matahari, yaitu tak lain adalah gunung batu.

Maka ia pun memohon, ingin menjadi gunung batu. Namun, lagi-lagi, ia terperanjat, ternyata ada seseorang yang "nugaran" tubuhnya (batu) dengan pahat dan palu. Barulah ia menyadari, bahwa di dunia ini tak ada yang lebih berkuasa.

Cerita itu, mengingatkan saya pada saat pengundian nomor capres dan cawapres beberapa waktu lalu. Saat Ustaz Ahmad Yusuf, eh..Yusuf Mansyur berdoa, jika dihayati betul-betul ada sesuatu yang menarik dalam doanya. Dalam rangkaian doanya itu, disitir surat Al-Imran ayat 26.

Ayat tersebut berbunyi, "Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki." Inti ayat yang dimasukkan dalam doa itu adalah Allah SWT akan memberikan atau mengangkat derajat seseorang yang dikehendakinya, sebaliknya Allah SWT juga akan menghinakan (mencabut) derajat seseorang yang dikehendakinya.

Jika saja semua yang hadir memahami arti doa itu, tak hanya mengucapkan kata "amin", apalagi dengan mengucapkannya secara keras atau terkesan kurang serius. Mereka juga seharusnya merenungi ayat tadi, sebagai peringatan.

Kekuasaan yang dipegang manusia, dapat dicabut sakedet netra, saat itu juga, tanpa ba-bi-bu terlebih dulu. Dan kekuasaan ini, janganlah hanya diartikan sebagai jabatan, tetapi juga kekuasaan atau kekuatan saat kita menjalani hidup. Seperti pada tubuh kita yang saat muda terasa bugar, tetapi saat menjalani usia tua perlahan satu demi satu akan rontok. Awalnya, saat muda tak ada pantangan makan apa pun, namun setelah tua tak boleh makan ini dan itu.

Seperti tukang batu tadi, ia telah menyadari pada hakikatnya tak ada yang lebih berkuasa. Seperti juga kata pepatah dalam bahasa Sunda, jodo, pati, bagja, cilaka, anging Alloh nu uninga. Demikian pula, seperti yang disitir surat Al-Imron ayat 26 tadi, Allah di atas segalanya.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya