Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Kuldesak

Jumat, 9 Agustus 2013

LEBARAN kawan saya akan datang ke rumah. Namun ia agak kesulitan langsung ke tempat tujuan. Padahal bukan kali pertama ke rumah. Untunglah ada HP. "Suf, saya harus pake jalan ke mana, euy? Ka dieu diportal, ka ditu diportal," gerutunya. Saya segera menanyakan posisinya di mana. Setelah itu, saya berangkat untuk memandunya menuju ke rumah.

Rumah saya memang ada di lahan kuldesak. Jalan mentok pada tembok batas: antara kompleks dan rumah penduduk (asli). Cukup beruntung kami berumah di situ. Namun, saya tak mengaitkannya dengan faktor fengsui. Yang jelas, dua anak saya yang masih senang main merasa aman, jika bermain di jalan. Demikian pula parkir mobil. Sebab jalanan teu kagiridig. Tak ada kendaraan yang lalu lalang.

Tulisan ini, sebenarnya mengingatkan pada diri saya karena sebelum "PR" memberitakan "Seluruh Portal di Kota Bandung tak Memiliki Izin". Saya amati, agaknya memang kita suka pada lahan kuldesak. Contohnya, di sejumlah kompleks atau bukan perumahan, banyak jalan yang diportal sebatas pinggang. Sehingga jangankan mobil, motor pun tak bisa lewat.

Padahal mungkin pengembang kompleks perumahan sudah merancang lahannya sedemikian rupa sehingga akses masuk ke tiap-tiap rumah menjadi mudah. Namun, rupanya banyak penghuni berpikiran bahwa dirinya merasa terganggu dengan jalanan yang ramai. Apalagi jika digunakan sebagai jalan pintas. Saat ini akibat banyak jalan menjadi satu arah, banyak jalan yang dijadikan sebagai "jalan tikus" alias jalan alternatif.

Sebagai contoh, bagi para pengendara motor dari arah Jalan Kiaracondong (Jln. Ibrahim Adjie) ke arah Jln. Gatot Subroto, sering mengambil jalan pintas masuk ke Jln. Kebon Gedang. Lalu tembus ke kompleks Maleer Indah, ketimbang harus lurus ke arah jalan itu. Kemudian di depan Kantor Pajak, barulah dapat berbelok untuk menuju ke Jln. Gatot Subroto.

Akibat dijadikan jalan pintas, beberapa waktu lalu seorang ibu di kompleks itu mengeluhkan masalah ini lewat Radio Mara. Ia mengadu sambil menangis bahwa jalan di kompleksnya kini jadi ramai. Ia sedih dan marah, sebab anak gadisnya pernah mengalami pelecehan oleh seorang pengendara motor saat hendak ke sekolah.

Di lain kompleks, yaitu di sekitar perumahan Margahayu Raya ada jalan diportal. Seorang pemilik rumah merasa kawasannya merupakan kawasan kuldesak. Dengan enaknya, ia membuat pagar dan garasi di depan rumahnya.

Kenyamanan dan keamanan saat ini, di negara yang masih terus dilanda krisis merupakan sebuah barang yang langka. Orang lebih memilih apartemen atau kompleks karena keamanan dan kenyamanannya. Meskipun harganya selangit, agaknya rumah seperti di atas langit memang nyaman.

Saat pulang, kawan saya masih menggerutu, "Nanti mun ke rumah ente saya mah mau pake helikopter supaya cepat sampai. Kan sudah ada 'helipad'-nya (tempat pendaratan pesawat heli)," katanya sambil melihat ke bagian atap rumah sambil berseloroh.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya