Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

"Sisir Kerep"

Selasa, 13 Agustus 2013

LUAR biasa! Ibundaku (85), yang tinggal di sebuah desa yang asri di Puspahiang Tasikmalaya, masih menyimpan sisir kerep (juga ranjang besi yang lebih tua lagi usianya). Jadi usia benda itu, sudah setengah abad.

Ketika kecil, sisir kerep itu sudah ada. Sisir ini biasanya untuk ngala kutu. Jangankan kutu, bahkan anak dan telur kutu pun bisa "terjaring" dengan sisir ini. Pastilah bagi kaum perempuan di kota-kota besar seperti di Bandung, sudah jarang atau tak ada yang memiliki sisir kerep. Berbagai merek sampo kini menyatakan bisa memberantas segala problem rambut. Begitu juga salon, bertebaran di mana-mana. Selain itu, sisir kerep merupakan produk yang kuno. Ibu pun memakainya hanya sebagai kebiasaan.

Dalam dunia kriminal pun, ada istilah jurus ala sisir kerep. Jika seorang menggarap yang kecil sampai yang besar. Semua dirarad. Begitu pula dalam dunia usaha, ada yang menggarap usahanya dari hulu sampai ke hilir. Boleh jadi, sikap ini ngarawu ku siku.

Namun, ternyata jurus ala sisir kerep ini tidak menutup kemungkinan bisa juga dilakukan pejabat atau lembaga lainya. Para pejabat yang punya kedudukan dan kekuasaan, kemudian menggarap projek-projek dari yang nilainya kelas teri sampai kelas kakap. Atau, mendirikan perusahaan yang tendernya sarat KKN (kolusi, korupsi, nepotisme). Demikian pula, usaha yang digarapnya dari usaha "hulu" sampai ke "hilir". Dengan kata lain, dimonopoli.

Perilaku yang demikian dapat pula disebut menggunakan jurus ala sisir kerep. Bagi pejabat yang memegang kekuasaan di suatu daerah, perilaku ini mungkin untuk mengejar setoran, sebab ketika kampanye dulu sudah habis-habisan mengeluarkan dana miliaran rupiah. Bagi orang yang punya jabatan atau numpang jabatan, karena suami atau ayahnya jadi petinggi sebuah instansi, kesempatan itu dipergunakan untuk KKN. Misalnya, meloloskan atau menaikkan jabatan atau pangkat dengan imbalan tertentu, dapat pula disebut menggunakan jurus ala sisir kerep tadi.

Rupanya, sisir kerep milik ibundaku mengilhami orang membuat jurus sisir kerep tadi. Terutama yang memiliki jabatan, kekuasaan, atau profesi yang menentukan di sebuah instansi untuk kepentingan mencari uang dengan cara tak halal. Meraup dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Jadi ingat cerita ibundaku. Ketika nabi Muhammad Saw. hendak meninggal, beliau hanya punya uang tujuh dinar. Saat itu, Rasul segera meminta kepada istrinya agar memberikan uang itu kepada yang membutuhkan. Katanya, beliau tak sanggup mempertanggungjawabkan uang sebanyak itu kelak. Para sahabatnya pun membangun kejayaan negeri lewat kesederhanaan dalam menjalani hidup sebagai pemimpin. Ini sejalan apa yang dikatakan ibunda, "Harta benda tak akan pernah dibawa saat tiada, rumah tempat kita kelak hanyalah sadepa (serentangan tangan)."* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya