Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Berisik!

Rabu, 14 Agustus 2013

SEPERTI kota kecamatan umumnya, Ujungberung, tidaklah terlalu berkilau. Di sana tidak ada mal men­tereng, tak ada hotel berbintang mewah, tidak ada pula gedung kesenian megah. Penanda kota yang berjarak 10,5 km dari pusat Kota Bandung itu hanyalah alun-alun dan masjid agung, ditambah kawasan pertokoan yang jauh dari konsep ”walk” atau supermal. Namun, dari kota yang bersahaja itulah kreativitas warga­nya tidak hanya menggeliat tetapi juga menggelinding me­­nembus batas ruang dan waktu.

Sebagai salah satu pusat pengembangan budaya, Ujung­­­­berung dikenal dengan beragam kesenian dan aneka atraksi tradisional, seperti benjang atau karinding. Akan tetapi, daerah yang terletak di kaki Gunung Mang­layang itu tidak hanya terkenal dengan kesenian tradisi­onalnya. Kreativitas berkesenian warga Ujungberung juga merambah ke wilayah kontemporer. Salah satu yang fe­no­menal adalah musik metal. Ya, genre yang oleh sebagi­an kalangan dianggap sebagai musik underground itu, bahkan kini menjadi identitas baru Unjungberung.

Musik metal tidak sekadar tumbuh tetapi berkembang pesat, bahkan menjelma menjadi industri kreatif yang bi­sa dikategorikan mapan dan menghidupi banyak kalang­an. Bagi Ujungberung, musik metal bukan lagi se­kadar aktivitas berkesenian, tetapi juga ekspresi kehidupan.

Adalah kelompok anak muda Ujungberung yang pertama kali mengibarkan musik metal di tengah hegemoni mu­sik hardrock pada awal 1990-an. Satu kelompok kemudian melahir­kan kelompok lainnya. Ujungberung pun dilanda gairah bermusik yang sangat hebat. Saking ba­nyak­nya kelompok penggiat musik metal, Ujungberung bisa disebut sebagai ”ibukota metal” tidak saja untuk Ja­wa Barat tetapi juga Indonesia. Sejumlah grup band pe­ngusung metal pun tampil ke permukaan dengan karya-karyanya yang khas. Awalnya, death metal mendominasi, tetapi kelompok-kelompok hardcore, punk, bahkan hip­hop, dan pop pun bermun­culan. Meski berbeda aliran, me­reka tetap bersatu, komitmen dalam bermusik.

Keragaman aliran dalam hasrat musik yang sama itulah yang membentuk berbagai komunitas dan kreativitas yang berkembang dan meng­arah pada profesionalitas. Ha­silnya, industri kreatif bisa menghidupi tidak saja para pelakunya tetapi juga pihak lain di sekitarnya.

Dari segi musikalitas, barudak Ujungberung memang tidak diragukan lagi. Pada awal kebangkitannya saja, sejumlah grup band mampu menyedot perhatian, seperti Sacrilegious, Jasad, Infamy, Sonic Torment, dan Insanity. Mereka tampil dengan karakternya masing-masing. Ta­len­ta musikal yang ditampilkan memancing anak muda Ujungberung lainnya untuk melakukan hal sama.

Sebagai salah satu tonggak dari eksistensi kreativitas bermusik barudak Ujungberung adalah pergelaran Bandung Berisik. September 1995 adalah kali pertama pergelaran yang menyajikan melulu musik metal. Kelompok-kelompok meng­usung metal pun mendapatkan ”rumah besar”-nya. Mereka berkreasi, beraksi, berinteraksi, dan saling berbagi hasrat bermusik.

Meski tergolong sederhana, Bandung Berisik I sukses memancing gairah anak-anak muda Ujungberung berbuat yang lebih besar dan lebih baik lagi. Buktinya, setahun setelah Bandung Berisik I dipentaskan, semangat komunitas underground tambah kencang. Kreativitas barudak Ujungberung menjadi fenomena, karena me­re­ka tampil ke permukaan dengan kekuatan dan kemampuannya sen­diri.

Berbekal pengalaman dan tingginya gairah dari komunitas musik bawah tanah, yang memang mencapai puncaknya pada 1996-1997, Bandung Berisik II digelar pada Juli 1997, dan sukses. Namun, hampir lima tahun setelah itu, musik underground seakan tiarap dari pertunjukan panggung besar. Baru pada April 2002, ”rumah besar” musik metal kembali dibuka melalui gelaran Bandung Berisik III, dilanjut­kan Bandung Berisik IV setahun kemudian.

Sukses dan progres yang dicapai penggiat musik bawah tanah dari barudak Ujungberung sempat tenggelam setelah ”tragedi metal” di Gedung AACC pada 9 Februari 2008, yang menewaskan 11 penonton. Tragedi itu begitu membekas dan menjadi pelajaran berharga bagi semua komunitas underground. Faktor keamanan dan kenyamanan, yang selama ini mungkin luput dari prioritas tugas penyelenggaran pertunjukan, menjadi fokus utama.

Makanya, pada Bandung Berisik V, 11 Juni 2011, kenyamanan audiens jadi perhatian utama. Hasilnya, konser berlangsung aman, meski yang tampil grup-grup metal papan atas, seperti Burgerkill, Jasad, Forgotten, Seringai, Disinfected, Bleeding Corpse, Beside, dan Komunal, yang sama-sama menyanjikan keberisikan.

Metal memang menyajikan komposisi bising, berisik bahkan sangat berisik. Namun, karena lahir dari proses kreatif yang didasari
kejujuran, kebisingan, dan keberisik­an itu tetap bisa dinikmati dan diapresiasi.

Akan tetapi, coba dengar suara-suara di kompleks parlemen Senayan, di kantor kementerian, atau di markas pusat partai politik. Meski awalnya hanya bisik-bisik, te­tap saja terdengar sangat berisik ketika mereka saling ungkap kebobrokan dan keterlibatannya dalam sejumlah kasus korupsi dan berbagai skandal lainnya. Berisik dan sangat mengganggu! * Noe Firman - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya