"Bangkong"
INI bukan uga atau semacam ramalan. Ini hanya pembicaraan biasa. Saya berbincang ngariung dengan seorang pupuhu adat Sunda di Bale Gede (rumah besar) di Pasir Impun, kampung Seke Balingbing, Desa Cikadut, Kecamatan Cimenyan,
Kabupaten Bandung milik Eka Santosa, mantan anggota legislatif.
Saya berbincang dengan Abah Dede, dari kasepuhan Panjalu, Ciamis tentang budaya Sunda. Terutama keprihatinan pada budaya Sunda yang ditinggalkan anak-anak muda, juga perhatian pemerintah sangat minim terhadap masyarakat adat di Indonesia. ”Ah, ieu mah obrolan ngan saukur jiga bangkong ngala gurame (Ah, ini cuma obrolan seperti katak menangkap gurame),” kata Abah Dede, jebolan Fakultas Ekonomi Unpad.
Seperti biasa, setiap berbicara dengan ”orang yang menguasai masa lalu”, penuh silib siloka. Penuh makna yang harus diterjemahkan sendiri. Tanpa harus dibeunyeurbeaskeun, saya harus menerjemahkan dengan surti (penuh pengertian dan arif). Memaknai kalimat itu yaitu sesuatu yang kecil, menjadi yang luas. Bahwa pengertian bangkong ngala gurame dimaknai sesuatu yang mustahil dilakukan.
Betapa tidak! Seekor katak yang kecil menangkap (ikan) gurame yang besar. Jika saat ini dimaknai sebagai zaman bangkong ngala gurame, memang demikian adanya. Sesuatu yang mustahil atau tak mungkin terjadi, kini menjadi kenyataan.
Jika harus diulang peristiwa kemustahilan yang menjadi kenyataan, mungkin hanya akan menghabiskan ruang kolom ini. Misalnya, mustahil Gayus, PNS golongan III memiliki uang miliaran rupiah. Mustahil dia di dalam sel, tetapi bisa jalan-jalan ke Bali dan luar negeri. Mustahil ada anggota dewan perwakilan rakyat menggasak uang rakyat. Puluhan peristiwa ”mustahil” bahkan ratusan ”mustahil” yang menjadi kenyataan di negeri ini, terus silih berganti. Kata seorang pelawak yang telah almarhum, ”Mustahil yang mustahal”.
Zaman bangkong ngalagu rame, juga punya makna lain. Yaitu bangkong dimaknai sebagai ngawangkong atau berbincang. Sementara ngalagu rame artinya bernyanyi riang atau ramai. Begitulah bahasa Sunda jembar (kaya) dengan pernak-pernik kebahasaan.
Pada era informasi saat ini, perbincangan yang tak ada ujungnya menjadi sering terjadi. Peristiwa yang silih berganti, menjadi perbincangan dan perdebatan tak ada ujungnya. Terkadang perdebatan yang menghabiskan energi (bahkan biaya) jadi ngabuntut bangkong. Ceritanya terputus. Tak ada akhir. Namun, media (terutama) televisi mengemas peristiwa bangkong ngalagu rame menjadi tontonan yang mengasyikkan.
Seperti biasa, media elektronik mencari bangkong-bangkong untuk ngawangkong atau berkomentar. Dengan diberi label ”pengamat”, negara kita menjadi subur dengan pengamat. Ada pengamat olah raga atau sepak bola, pengamat intelijen, pengamat politik, pengamat hukum, pengamat tsunami, dan pengamat ini-itu lainnya. Mereka diminta tanggapannya pada suatu peristiwa. Jadilah jiga bangkong ngalagu rame di sawah dina usum hujan (seperti katak ramai bernyanyi saat musim hujan) yang saling bersahut-sahutan.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


