Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Umar bin Abdul Aziz

Jumat, 16 Agustus 2013

SUATU hari, saya membaca buku Sentuhan Spiritual karangan Aidh al-Qarni, salah satunya tentang Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah dinasti Umawiyah yang memimpin dengan adil. Saat pemerintahan dipegang beliau, Islam mengalami kejayaan. Hidup beliau sangat sederhana. Khalifah tidak mencampuradukkan kepentingan keluarga dengan negara. Beliau sangat amanah dalam menjalankan kekhalifahannya.

Namun, tahukah ketika beliau saat awal diangkat menjadi khalifah? Beliau begitu gelisah. Tidurnya tak nyenyak, makan pun tak enak, hingga tubuhnya kurus. Inilah yang ditanyakan oleh orang-orang pada istrinya.

"Demi Allah, ia tak tidur semalaman. Demi Allah, ia beranjak ke tempat tidurnya, membolak-balik tubuhnya seolah ia tidur di atas bara api. Ia mengatakan, "Ah, ah, aku memangku urusan umat Muhammad SAW, sedangkan pada hari kiamat aku akan diminta tanggung jawab oleh fakir dan miskin, anak-anak, dan para janda." (hal. 30)

Saya membaca sikap Umar bin Abdul Aziz saat diangkat menjadi pemimpin karena kini musim pilkada. Sejumlah daerah tengah mengadakan pemilihan untuk gubernur, bupati, dan walikota. Semuanya begitu gegap gempita. Para calon berlomba-lomba menonjolkan diri. Pahayang-hayang jadi pamingpin. Para balon (bakal calon) saling mengklaim: "Sayalah yang pantas dipilih!" teriaknya.

Tim sukses pun dibentuk pada masing-masing calon. Demi menarik simpati masyarakat, maka teu lebar duit dimonyah-monyah. Uang miliaran rupiah dihamburkan. Ini di luar dari dana pemilihan. Untuk pilkada gubernur Jabar saja menurut berita di surat kabar, harus ada dana Rp 600 miliar untuk waragad-nya. Padahal kita masih melihat banyak sekolah yang akan roboh. Selain itu, banyak jalan rusak dan masih banyak warga masyarakat di desa-desa yang menempati rumahnya yang seolah-olah akan roboh.

Para balon gelisah karena takut tak terpilih, bukan kegelisahan seperti Umar bin Abdul Aziz tadi setelah jadi khalifah. Justru para balon gubernur, bupati, atau walikota sebaliknya bersorak gembira jika menang dan menepuk dada. Bahkan tak jarang ada yang merayakannya dengan berpesta pora.

Sementara ketika menjalankan jabatannya, sebagian para pemimpin yang menang pilkada, ada yang lupa pada janjinya terhadap rakyat.

Ya, hari itu saya membaca riwayat Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah yang sederhana, adil, dan amanah dengan mata yang basah.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya