”Wilujeng Shopping”
KOTA Bandung ternyata sudah menjadi tujuan wisata paling favorit, tidak saja bagi wisatawan domestik tetapi juga turis mancanegara, terutama di kawasan Asia Tenggara. Nama Bandung sudah sabiwir hiji bagi warga Kuala Lumpur, Melaka,
Johor Bahru, Penang, dan kota lain di Malaysia. Juga bagi warga Brunei Darussalam.
”Tak perlu susah ke Bandung…. Pergi pagi, pulang malam, sudah bisa. Segala macam ada.... Murah-murah, cantik-cantik, sedap-sedap,” kata Badryiah (51), warga Johor Bahru.
Sabtu itu, Cik Badriah bersama 15 kerabatnya sibuk memilih koleksi kaus, kemeja, dan jins di Toko 3. Beberapa jam kemudian, setiap anggota rombongan itu keluar toko sambil menenteng tas plastik besar yang penuh berisi aneka fashion.
Toko 3, selain Pasar Baru, factory outlet (FO) di kawasan Jln. Riau, Jln. Dago, dan Jln. Setiabudhi, adalah magnet yang mampu menyedot wisatawan. Di kawasan-kawasan itu pula wisatawan banyak menghabiskan uangnya untuk berbelanja. Ya, Bandung memang surga belanja. Segala macam barang ada, mulai yang bermerek hingga produk lokal yang khas.
Makanan? Jangan ditanya. Bandung layaknya meja makan raksasa. Segala hidangan tersedia, mulai sambal-lalap hingga aneka salad, dari sate hingga segala jenis steak. Tempat hiburan? Juga komplet. Sejumlah wahana tersedia baik yang artifisial dan modern maupun alami. Pokoknya, mau apa pun ada di sini.
Sejak awal 2000-an, terutama setelah tol Cipularang beroperasi, pintu ke Kota Bandung semakin terbuka lebar. Hampir setiap akhir pekan, terlebih saat masa liburan, Kota Bandung dan sekitarnya jadi tujuan wisata utama. Jika selama ini ada Bali atau Yogyakarta, kini ada Bandung sebagai pilihan untuk berwisata.
Terima kasih kepada warga yang kreatif dan inovatif. Berkat kreativitas warganya, Kota Bandung punya banyak keunikan dan kekhasan. Kota ini menjadi begitu menarik bagi yang ingin menghabiskan waktu liburannya.
**
SEKTOR pariwisata jelas menguntungkan. Lalu, apakah kita, warga kota dan Pemerintah Kota Bandung, cukup puas dengan kondisi saat ini? Melihat tren positif dari perkembangan sektor pariwisata, rasanya lebar kalau potensi ini diantepkeun wae, berjalan sendiri, dan tidak dikelola secara profesional yang didukung lembaga dan sumber daya dengan kompetensi tinggi.
Sebagai daerah tujuan wisata, Kota Bandung selayaknya tampil lebih menarik, nyaman, aman, dan memberi berbagai kemudahan serta menyajikan lebih banyak pilihan. Tujuannya, agar wisatawan betah berlama-lama tinggal dan membelanjakan lebih banyak uangnya di sini.
Apakah Kota Bandung sudah seperti itu? Tentu saja belum. Lalu, mengapa animo wisatawan untuk berkunjung ke kota ini tetap bahkan semakin tinggi? Ini yang menarik.
Bagi kebanyakan warga pituin Kota Bandung, akhir pekan atau masa liburan justru merupakan hari-hari yang tidak menyenangkan bahkan untuk sekadar berjalan-jalan. Hampir semua ruas jalan, dipadati kendaraan. Bahkan, kemacetan sudah terjadi sejak masuk Kota Bandung. Kemacetan nyata-nyata faktor ketidaknyamanan.
Ketidaknyamanan juga dirasakan ketika kita berjalan di trotoar. Di kawasan-kawasan yang sangat diminati pelancong, misalnya, Jln. Riau, Dago, Merdeka, Cihampelas, Setiabudhi, atau kawasan Alun-alun, trotoar sudah jadi lapak pedagang kaki lima (PKL) dan parkir mobil. Di satu sisi, kehadiran PKL memang dibutuhkan, karena mereka menawarkan beragam alternatif barang yang murah dan unik. Namun, mereka pun dirasa sangat mengganggu kenyamanan dan tentu saja keindahan serta ketertiban.
Terima kasih warga Bandung. Tanpa pemikiran dan karya yang kreatif dan inovatifnya, Kota Bandung belum tentu bisa seperti sekarang. Tinggal sekarang bagaimana potensi yang sudah terbangun ini bersinergi dengan program pemerintah kota yang jelas-jelas punya kewajiban dan tanggung jawab di sektor pengembangan sarana dan prasarana, produk wisata, aksesibilitas, pengembangan promosi, dan pemasaran.
Jika sinergi itu terbangun, satu saat dan mudah-mudahan tidak lama lagi, pariwisata bukan lagi hanya industri tetapi sudah menjadi budaya dan karakter warga Kota Bandung. Dalam pengertian sederhana, jika pariwisata sudah menjadi bagian integral dari warga Kota Bandung, situasi, kondisi, dan susananya pun otomatis akan mendukung kemajuan industri yang terbukti kebal resesi ini.
Nah, mumpung Kota Bandung masih diminati, mumpung kreativitas warganya masih tinggi, pemerintah kota sebaiknya lebih meningkatkan kinerjanya dengan melakukan berbagai program pengembangan yang inovatif dan sinergi agar potensi dari sektor pariwisata ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga kota.
Jika hal ini terwujud, Kota Bandung bisa segera menyejajarkan diri dengan Yogyakarta bahkan Bali sebagai daerah tujuan utama. Jadi, wilujeng sumping, wilujeng shopping di Kota Bandung.* Noe Firman - kisuta.com


