Tukang Kasur
TANPA banyak cakap, Mang Darmin (57), tukang kasur, tangannya begitu parigel. Setelah menggunting kain kasur, kres, kres, dia menggunting benang kasur. Jemari tangannya seolah punya mata ketika benang kasur yang telah
dipotong-potong disambung-sambungkan. Tak ada yang pahili. Ketika dijejali kapuk, terbentuklah ”gelembung” atau lekukan yang simetris.
Ketika memasukkan kapuk, dia mirip gangster yang akan merampok bank mengenakan masker agar kapuk tak masuk terisap hidung. Keberadaan tukang kasur seperti Mang Darmin, mulai langka. Penyebabnya, kasur-kasur berbahan busa dengan mudah dijumpai, bahkan ditawarkan pula kasur air hingga kasur udara. Meski harganya jutaan rupiah, orang rela membelinya agar dapat menikmati tidur dengan mimpi yang indah.
”Nanging sare di kasur hipu, batur sakasur geulis tetep we moal kulem dugi ka ngadengkur pami gaduh artos tina ladang babadog atanapi korup mah (Meskipun tidur di kasur empuk, teman tidur cantik, tetap saja tidak bisa tidur nyenyak karena memiliki uang dari hasil korupsi),” kata Mang Darmin.
Katanya, para koruptor yang menggasak uang rakyat terilhami oleh tukang kasur. Mulanya saya tidak mengerti. Akan tetapi, Mang Darmin segera memberi tahu. Menurut dia, ada juga sebagian kecil tukang kasur yang berbuat ”curang”. Agar kapuk yang dibawanya terjual, biasa dijejalkan atau digelembungkan hingga hasilnya kasur akan ngabageugeug, terasa keras hingga tak enak untuk dipakai tidur. ”Tah, perbuatan curaling inilah yang ditiru para koruptor,” ucapnya.
Sebenarnya, kasur yang enak ditiduri isinya terbuat dari bahan kapuk, kata Mang Darmin. Manakala udara panas, kapuk akan menyerapnya. Saat udara dingin, kapuk akan memberikan kehangatan. Akan tetapi, bagaimana pun, kualitas tibrana (nyenyaknya) tidur bergantung suasana hati seseorang.
Meski seorang Artalita Suryani alias Ayin ngaringkid kasur empuk dari rumahnya ke penjara, tetapi tetap saja dia tak akan tidur nyenyak. Begitu pula para anggota dewan yang kini diduga tersangkut kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior BI, tak akan nyenyak tidur di dalam sel.
Sebaliknya, saya bayangkan Tjetje H. Padamadinata ketika ditangkap. Ia dijebloskan ke penjara , bukanlah alatan kasus suap atau menggelembungkan APBD, tetapi karena menyuarakan kebenaran suara hatinya yang benar-benar mewakili hati nurani rakyat. Dengan perasaan yang tandang ludeung, beliau akan tidur nyenyak dalam sel. Meski beralaskan kasur lepet, bahkan samak salambar pun. Bagi anak cucunya, bahkan bagi sekeseler urang Sunda, sepak terjang Kang Tjetje sebagai politikus adalah picontoeun dan pikareueuseun.
Dikisahkan Rasulullah tidur hanya beralaskan daun kurma, begitu pun Khalifah Umar. Saat bangun, sering tercetak bekas daun kurma itu di pipi beliau. Meski begitu, beliau nyenyak tidurnya. Bahkan beliau mewasiatkan agar jangan banyak tidur pada malam hari. Hal itu disebabkan kasur yang empuk akan melalaikan bangun sepertiga malam yang sangat baik untuk bermunajat pada Allah SWT.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


