Katak tanpa Telinga, Mendengar dengan Mulut
DI dunia ini, ada satu spesies katak unik yang bisa mendengar tanpa telinga, yaitu katak Gardiner’s Seychelle. Karena keunikannya, katak tersebut menjadi bahan penelitian para ahli.
Baru-baru ini, beberapa ilmuwan telah memecahkan misteri mengapa Gardiner’s Seychelle mendengar tidak menggunakan telinga. Hasil penelitian mereka telah dipublikasikan dalam Jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences yang terbit di Amerika Serikat.
Dalam jurnal itu disebutkan, katak yang berasal dari Kepulauan Seychelles ini, ternyata menggunakan jaringan dan rongga mulutnya untuk mengirim suara ke “bagian dalam telinga” mereka. Kebanyakan katak tidak memiliki bagian depan telinga seperti manusia, tapi mempunya telinga tengah dan gendang telinga yang terletak langsung di permukaan kepala. Gelombang suara yang datang membuat gendang telinga bergetar, dan gendang telinga mengirim getaran itu dengan menggunakan tulang kecil di tengah telinga ke telinga dalam mereka. Di telinga dalam, sel rambut menerjemahkan gelombang suara menjadi arus listrik yang dikirim ke otak.
Seperti dikutip Antara News, untuk memastikan apakah katak yang panjang tubuhnya hanya satu sentimeter ini benar-benar menggunakan suara untuk berkomunikasi satu dengan yang lain, para peneliti itu memasang pengeras suara di habitat asli mereka dan menyiarkan suara katak yang sudah direkam. Tindakan tersebut membuat katak jantan yang ada di hutan hujan menjawab, dan membuktikan bahwa mereka bisa mendengar suara dari pengeras suara itu, kata para peneliti tersebut.
Para ilmuwan itu kemudian mengidentifikasi mekanisme yang tampaknya memungkinkan katak tuli mendengar suara. Bermacam mekanisme telah disarankan: jalur gendang telinga tambahan melalui paru-paru, otot yang pada katak menghubungkan korset dada ke bagian dalam telinga, atau konduksi tulang.
Karena hewan itu kecil, dengan panjang cuma satu centimeter, para peneliti tersebut menggunakan citra sinar-X mengenai jaringan lunak dan beberapa bagian tulang dengan resolusi mikrometrik untuk memastikan bagian tubuh mana yang memberi sumbangan pada perambatan suara.
Mereka mendapati baik sistem paru-paru maupun otot katak tersebut "tidak memberi sumbangan besar" pada penyaluran suara ke bagian dalam tengah. Beberapa simulasi membantu penyelidikan hipotesis ketiga, yaitu suara diterima melalui kepala katak. Simulai itu mengkonfirmasi mulut berfungsi sebagai resonator, atau penguat, bagi frekuensi yang dikeluarkan oleh spesies tersebut.
Unik ya, memang ciptaan Allah SWT tak bisa ditandingi oleh manusia, sempurna.* Ati -kisuta.com


