Brainstat, Alat Pencegah Kecelakaan Akibat Human Error
SEBAGIAN besar kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk. Di masa datang, dapat ditekan dengan menggunakan brainstat. Ya, alat yang diciptakan oleh anak bangsa ini, mampu mendeteksi gelombang otak untuk menentukan kondisi kesadaran seseorang sebelum berkendaraan.
Brainstat dibuat oleh tim dari Telkom University (Tel-U) Bandung dan berhasil memenangkan juara pertama kategori e-health pada ajang Indonesia Information and Communication Technology Award (INAICTA) 2013 di Jakarta, 1 September 2013. Sebelumnya, brainstat pernah menyabet juara di Imagine Cup 2012.
Tim Tel-U yang menciptakan brainstat terdiri atas satu dosen dan enam mahasiswa Teknik Informatika Tel-U, yaitu Dody Qori Utama (dosen), Anggunmeka Luhur Prasasti, Boni Yustin Prabowo, Umar Ali Ahmad, Gilang Kusuma Jati, dan Guntoro (mahasiswa).
Brainstat mirip helm dengan alat perekam yang terhubung ke kepala pengemudi. Cara kerja brainstat sangat modern, yaitu menggunakan gelombang otak (brain wave). Gelombang yang ditangkap oleh brainstat kemudian ditampilkan dalam data yang bisa dibaca oleh pengemudi melalui layar monitor/komputer tablet maupun telepon seluler (ponsel). Dari data tersebut akan diketahui apakah pengemudi sedang prima, mengantuk, konsentrasi, atau bahkan stres. Data ini bisa dikirim kepada pihak-pihak tertentu, seperti keluarga maupun kepolisian.
Jika ditemukan kondisi pengemudi tidak prima dan berbahaya jika dipaksakan mengemudi, maka peringatan awal akan muncul berupa bunyi di kendaraan. Apabila pengemudi tetap membandel, maka peringatan selanjutnya muncul dalam bentuk video rekaman dari keluarga di layar dashboard mobil. Peringatan pada tingkat akhir, pengemudi yang tetap berkendaraan dalam kondisi kurang fokus akan dihubungkan langsung dengan ponsel keluarganya dan bisa juga polisi, sehingga akan muncul SMS yang meminta untuk menelepon sang pengemudi agar berhenti.
"Jadi, keselamatan mengemudi akan terjaga, baik menggunakan mobil, motor, bahkan pesawat terbang," kata Dody Qori Utama, dosen yang juga pengembang brainstat.
Menurut Dody, brainstat yang diikutkan pada INAICTA 2013, telah mengalami pengembangan optimasi kerja karena bisa diterapkan di moda pesawat terbang, sehingga kondisi otak pilot sebelum menerbangkan pesawat akan terpantau.
"Pengembangan lain dilakukan dengan menggunakan teknologi komputasi awan. Ini membuat informasi kondisi sopir bukan hanya bisa dilakukan ke keluarga, namun ke pihak lebih luas misalnya ke kepolisian," katanya.
Dody mengungkapkan, tingkat akurasinya rata-rata 90 persen, apa yang disampaikan memang memperlihatkan kondisi sopir. Ini sudah diujicobakan kepada pengemudi yang mengemudikan kendaraan selama 1.000 jam sejak tahun 2011.* Ati - kisuta.com


