Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Pendengaran Ibu

Selasa, 17 September 2013

DALAM usia 87 tahun, pendengaran Ibu sudah mulai terganggu. Pernah Ibu dibelikan ”alat bantu dengar”, tetapi hanya sehari digunakan. ”Ridu (ribet),” katanya. Saya maklum, jangankan telinga Ibu guntal-gantel dengan alat seperti itu, dipasangi anting pun rasanya saya belum pernah melihatnya.

Meski pendengarannya kurang baik alias sudah tidak sempurna, Ibu tak pernah bertanya, ”Apakah sudah azan?” Atau, ”Apakah sudah masuk waktu salat?” Sepertinya ”pendengaran” Ibu terhadap masalah ini masih terpelihara amat baik. Bahkan, Ibu tak perlu dibangunkan untuk salat Subuh. Ibu sudah sejak jam dua dini hari bangun. Tanpa harus dibangunkan kokok ayam.

Dengan keadaan seperti itu, sebagai anaknya saya sangat maklum bila saat bicara dengan Ibu yang sudah sepuh. Suara saya harus keras jika berbincang dengan Ibu. Terlebih jika ada tamu yang datang ke rumah. Saya harus mengulang apa yang diucapkan dengan intonasi yang cukup keras. Namun, saya yakin, Allah SWT Maha Mengetahui, tak ada maksud untuk menghardik Ibu. Duh, ampun paralun.

Terhadap pendengaran Ibu seperti ini, saya sering sedih dan jengah jika melihat keadaan seperti ini dijadikan lelucon. Saya tak pernah tertawa melihat bodoran tokoh ”Bolot” yang kurang pendengaran dijadikan olok-olok.

Namun, di sisi lain, saya merasa geram terhadap ”pendengaran” para wakil rakyat yang kurang peka. Entah wakil rakyat di daerah atau di pusat. Terlebih saat ini, banyak wakil rakyat yang sering bolos untuk mengikuti persidangan. Sementara itu, yang datang ke ruang sidang kadang-kadang ada yang terkantuk-kantuk, ngobrol main telefon seluler atau SMS-an.

Jika sikap mereka seperti itu, bagaimana bisa mendengar keinginan masyarakat? Padahal, semua pun tahu, selain mendapatkan gaji dan fasilitas, para wakil rakyat juga mendapatkan tunjangan lainnya.

Namun, seperti yang pernah terjadi, mereka malah menggulirkan berbagai dana dengan embel-embel ”aspirasi” untuk kepentingan rakyat. Aspirasi atau keinginan masyarakat sendiri, kurang didengarkan. Buktinya, tiada hari tanpa demonstrasi di negeri kita. Para pedemo, tentunya tak ada yang bersuara lembut karena biasanya membawa alat bantu suara supaya aspirasinya didengar.

Akibat kurang ”mendengar” aspirasi rakyat ini, tak heran aktor film dan sinetron gaek, Pong Hardjatmo pernah nekat menaiki atap Gedung DPR, kemudian menuliskan ”jujur, adil, tegas”. Aksi Pong yang menggegerkan ini, sebagai bentuk kekecewaan yang telah sampai ubun-ubun.

Melihat keadaan itu, seorang teman mengusulkan agar para wakil rakyat diberi tambahan fasilitas ”alat bantu dengar”. Namun, dia seperti menyangkal kembali usulan ini. ”Tapi jigana percuma dibere nu kitu ge, upama pangdenge batinna geus kalimpudan ku kapentingan sorangan atawa kapentingan kelompok,” katanya.* Ahmad Yusuf - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya