Tikker, Jam yang Memprediksi Waktu Kematian
SEORANG peneliti asal Swedia, Fredrik Colting menciptakan jam tangan yang diklaimnya bisa memprediksi kematian dari kondisi kesehatan seseorang. Jam yang diberi nama “Tikker” ini tidak hanya memprediksi waktu kematian, tapi juga menghitung mundur waktu menuju kematian.
Menyeramkan sekali ya. Bagaimana perasaan orang-orang yang memakai jam ini dan setiap saat mengetahui berapa lama lagi sisa waktunya di dunia? Jam tangan “Tikker” rencananya akan dilaunching pada April 2014 dengan harga sebesar US$ 59.
Jam tangan “Tikker” layarnya berbentuk digital, terdiri atas tiga baris. Baris pertama paling atas menunjukkan tahun, bulan, dan tanggal, sedangkan baris kedua menampilkan hitung mundur sisa usia berupa jam, menit, dan detik. Lalu, baris bawah menunjukkan waktu setempat.
Untuk mengatur jam “Tikker”, penggunanya harus mengisi kuesioner dengan memasukkan informasi tentang sejarah medis mereka. Pengguna juga akan ditanya seputar apakah mereka minum alkohol atau merokok, dan apakah punya riwayat kanker, diabetes, dan penyakit lain dalam keluarga. Selain itu, sebelum mendapatkan nilai kematian, pengguna juga diberi pertanyaan tambahan tentang seberapa sering mereka berolahraga dan berapa berat badan saat itu.
Usia mereka kemudian dipotong dari hasil pengukuran pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk memprediksi tanggal kematian, dan jam tangan “Tikker” mulai menghitung mundur sisa usia pengguna.
"Dari tahun ke detik itu memperlihatkan waktu yang terus bergerak, tidak pernah diam, dan hidup kita akan berkurang menuju peristirahatan terakhir," ujar Colting.
Apabila orang lain menyebut “Tikker” sebagai jam kematian, namun penciptanya, Frederik Colting justru menyebutnya sebagai jam kebahagiaan. Colting mengatakan, jam ini dibuat dengan tujuan supaya orang-orang lebih menghargai waktu yang telah dilewatinya dan membuat waktu yang tersisa dengan semua hal yang lebih baik dan berarti.
"Bayangkan seseorang memberi tahu bahwa Anda hanya memiliki satu tahun lagi untuk hidup. Bagaimana hal tersebut akan mengubah hidup Anda? Bagi kita, semua kehidupan terbaik adalah sebelum menghadapi tanggal kematian," ujar Colting, seperti dikutip dari laman Daily Mail, Senin, 7 Oktober 2013.
Colting menilai, kematian merupakan sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan, tapi tidak dengan kehidupan. Menurut Colting, yang harus dilakukan manusia adalah belajar bagaimana menghargai waktu dan berbagi dengan sesama. Colting mendapatkan ide untuk merancang jam “Tikker” saat kakeknya meninggal.
“Saya berpikir bahwa jika kita lebih sadar akan waktu kematian, saya yakin kita akan membuat pilihan yang lebih baik selagi masih hidup,” ujar Colting bijaksana.* Ati - kisuta.com


