Desis Kata-katanya Itu Melantun Jauh
HENI Hendrayani, penyair kelahiran Ciamis 18 Februari 1966 banyak memublikasikan puisi yang ditulisnya di lembaran seni dan budaya Khazanah HU Pikiran Rakyat Bandung sejak zaman lembaran tersebut diasuh oleh teaterawan Suyatna Anirun hingga cerpenis Zaky Yamani. Selain itu beberapa puisi yang ditulisnya muncul juga dalam sejumlah antologi puisi terbitan Kosa Kata Kita (Jakarta) yang dikelola oleh penyair Kurniawan Junaedhie. Berkaitan dengan itu, penyair Kurniawan Junaedhie memasukkan pula namanya dalam buku Perempuan Penulis Indonesia (2012).
Sebagai penyair, walau sudah menulis puisi sejak zaman SMA, Heni Hendrayani baru menerbitkan dua buku puisi tunggal, yakni Rumah Kupu-kupu (Kelir 2011) dan Desis Kata Kata (Komunitas Sastra Lingkar Selatan 2013). Buku kedua yang ditulisnya ini masuk dalam daftar 10 Besar Khatulistiwa Literary Award 2013.
Dalam sebuah status yang ditulisnya di akun Facebook miliknya, Heni menulis, dengan masuknya buku puisi yang ditulisnya ke dalam daftar 10 Besar Khatulistiwa Literary Award 2013 hal itu tidak pernah diduganya. Apa yang sudah diraihnya ini memacu daya kreativitasnya dalam menulis puisi walau dalam kondisi yang serba terbatas.
Sebagai penyair, Heni Hendrayani menulis sebuah puisi pendek yang cukup dikenal oleh para pembeli buku puisinya. Puisi pendek serupa puisi mBeling yang ditulisnya itu diberi judul “Celanamu.” Puisi ini selengkapnya berbunyi:
Maaf sayang, terpaksa aku rogoh/ saku celanamu, biarkan tanganku menari/ di dalamnya, sebab tak ada beras/ untuk ditanak. Tak ada ongkos sekolah anak./ Bah! Tak ada pula uang di sana. Bagaimana/ kalau aku gadaikan saja isi celanamu?//
Kritik yang terdapat dalam puisinya ini cukup menggigit. Di luar sejumlah puisi yang dimuat dalam Desis Kata Kata, Heni antara lain menulis puisi seperti di bawah ini, yang dipublikasikannya di lembaran seni dan budaya Khazanah HU Pikiran Rakyat terbitan 24 Februari 2013. Selengkapnya puisi yang diberi judul Perempuan Berbaju Doa itu berbunyi:
Rumah kayu dengan dinding bercat putih adalah sebuah rumah tempat segala kasih/ bertumbuh, berpintu lebar dengan jendela menghadap ke timur. Dulu suara riang kanak-/ kanak, berceloteh ramai, bersahutan. Kini rumah itu sepi, anak-anak tumbuh sudah./ Engkau meniupnya dengan sejuta doa dari setiap helaan napas. Jendela kamar rumahmu/ adalah dunia barumu di mana setiap pagi dan petang engkau membuka dan menutupnya./ Dari arah jendela tatapan kasih dan doa terucap, begitu setiap kali, setiap hari. Wahai/ perempuan berkalung tasbih, berbaju doa. Aku tahu apa yang engkau rasakan, nun di/ seberang jendela yang terbuka, belasan tahun yang lalu engkau semayamkan sesosok/ lelaki, suamimu yang engkau cinta. Ayahku yang selalu aku sayangi. Sebagaimana/ halnya dirimu, aku sayangi dirimu wahai perempuan berkalung tasbih, berbaju doa.//
Dalam puisi tersebut di atas ada renungan religius. Tema yang demikian, juga tema sosial dan cinta, kerap digarap Heni Hendrayani dengan ungkapan yang lembut dengan kalimat yang sederhana. Untuk itu, tak aneh bila almarhum Tandi Skober dalam pengantar Desis Kata-kata antara lain berkata Hmm, Heni emang wow! Ia memosisikan sajak dalam lingkar garis bertanda teosajakwi. Maklum karya sastra diharapkan berlangsung dalam arena iluminasi Ilahiah yang di dalamnya ada banyak kamar permainan metafisika, ada hidayah kultural, ada imajinasi yang bergerak dialektis, mensejarah dalam jiwa, menampilkan wajah berbeda dan diblender ikatan logika. Heni bicara tentang Tuhan dalam ruang kunang-kunang yang diikat pahatan ingatan.
Adapun aktivitas Heni lainnya dalam tulis menulis di jejaring sosial Facebook, selain menulis fiksimini basa Sunda maupun bahasa Indonesia, kerap juga menulis sejumlah pantun. Semua itu dikerjakan di sela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Dengan menulis, Heni ingin menyumbangkan sesuatu bagi Indonesia, yang siapa tahu bermanfaat bagi umat. Warga Ciamis kiranya layak bangga, punya wanita penyair yang namanya kini dikenal secara nasional.* das - kisuta.com


