Dua Penyair Tasik ke Numera 2014
DALAM dinding jejaring sosial Facebook kepunyaan penyair Malaysia, Ahmad Khamal Abdullah (Dato Kemala) ada sebuah pengumuman yang cukup menarik untuk diapresiasi. Pengumuman yang ditayangkan pada 11 Oktober 2013 itu berbunyi: Wakil Indonesia ke Baca Puisi Dunia Numera 2014 Hudan Hidayat, Acep Zamzam Noor dan Soni Farid Maulana. Wakil Thailand Nik Rakib Nik Hassan II, Wakil Malaysia Dr. Lim Swee Tin, Siti Zaleha M. Hashim, Rosani Hiplee, Imlan Adabi, Hasyuda Abadi, Mohd Amran Daud. Wakil Singapura: Isa Kamari, Mohamed Naim Daipi, Noor Aisya. Yang berhalangan tolong beritau saya agar dapat digantikan dengan yang lain. Penyair yang sudah berpartisipasi pada Baca Puisi Numera 2012 tidak akan menjadi wakil resmi. Anda bisa datang sebagai pemerhati dengan biaya sendiri.
Munculnya pengumuman tersebut menarik untuk dicermati, dikarenakan penyair Acep Zamzam Noor dan Soni Farid Maulana berasal dari satu kota yang sama, yakni Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, sedangkan Hudan Hidayat dari Jakarta.
Acep dan Soni yang mulai bersahabat sejak zaman mahasiswa itu, tidak hanya menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia, tetapi juga dalam basa Sunda. Penyair Abdul Hadi WM dan bahkan Ahmadun Yosi Herfanda yang juga dikenal sebagai kritikus sastra kerap menggolongkan kedua penyair tersebut sebagai penyair religius.
Pada awal kemunculannya sebagai penyair, Acep dan Soni tidak hanya mempublikasikan puisi di lembaran Pertemuan Kecil asuhan penyair Saini KM di HU Pikiran Rakyat Bandung, tetapi juga di Lembaran Dialog asuhan penyair Abdul Hadi WM di HU Berita Buana. Media massa tersebut kini sudah tak terdengar lagi kabarnya. Dalam menulis puisi basa Sunda, Acep dan Soni pada saat itu mempublikasikan karya yang ditulisnya di Majalah Sunda Mangle yang saat itu diasuh oleh Yoseph Iskandar. Dalam dunia sastra Sunda, Yoseph tidak hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga dikenal cerpenis, dan novelis.
Menurut Soni sebagaimana dikatakan Dato Kemala, acara Numera yang akan digelar di Malaysia itu akan berlangsung pada Juni 2014. Namun demikian karya sastra yang diminta, yakni tiga buah puisi dan esai pendek mengenai puisi harus sudah diterima oleh pihak panitia pada akhir November 2013.
“Alhamdulillah apa yang saya tulis selama ini menemukan nasibnya sendiri. Semoga acara yang kelak digelar itu lancar adanya,” jelas Soni dalam percakapannya dengan kisuta.com, Selasa (15/10/13) malam.
Adapun aktivitas Soni saat ini selain aktif sebagai wartawan di HU Pikiran- Rakyat Bandung, aktif juga mengelola Komunitas Sastra Lingkar Selatan (KSLS) bersama istrinya, Heni Hendrayani. Sebelumnya, Soni aktif di Forum Sastra Bandung (FSB) yang diketuai oleh penyair Juniarso Ridwan. “Untuk sementara FSB istirahat dulu. Pada suatu saat jika waktunya memungkinkan akan aktif lagi,” jelas Soni.
Sedangkan aktivitas Acep Zamzam Noor di Tasikmalaya, selain mengelola Komunitas Azan, aktif juga di Sanggar Sastra Tasik (SST) dan beberapa komunitas lainnya.* das - kisuta.com


