Ritual Menenangkan Gunung Sinabung yang "Marah"
GUNUNG Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara yang kembali meletus pada 10 November 2013, membuat penduduk sekitar harus mengungsi. Tercatat sekitar 12.000 penduduk harus meninggalkan rumahnya karena Sinabung terus meletus disertai semburan lava.
Bagi penduduk setempat, Gunung Sinabung sedang “marah”, sehingga harus dilakukan ritual untuk membuatnya kembali tenang sehingga penduduk bisa kembali beraktivitas. Ritual untuk membuat Gunung Sinabung tenang, sudah dilakukan sejak lama, sehingga ritual yang dikenal penduduk dengan nama ercibal belo cawir ini, merupakan ritual kuno.
Ritual kuno digelar pada 12 November 2013 di Desa Mardinding, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara (Sumut). Desa Mardinding berjarak sekitar 3,3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung sehingga langsung terkena imbas begitu ada aktivitas vulkanik.
Dipimpin kepala desa, puluhan warga mengantarkan sesajen berupa pulut kuning beserta daging ayam untuk para leluhur. Ritual berlangsung di dekat sumber mata air desa yang disebut Tapin Mardinding Rumah Julu. Mata air tersebut berada di bawah pohon besar yang tingginya lebih dari 20 meter. Pohon yang disebut buwah ini berada di ujung jalan desa.
Pulut kuning dan ayam panggang diletakkan dalam wadah setinggi sekitar satu meter dari tanah yang berada di bawah pohon. Di samping wadah, ada tiang kayu setinggi satu meter sebagai tempat untuk meletakkan daun sirih atau belo yang sudah diisi tembakau dan lain-lain.
Ritual dipimpin seorang dukun atau Simetahwari yang dilaksanakan pada pagi hari dan berlangsung hampir dua jam setengah. Ritual diakhiri dengan makan bersama atau yang disebut makan rembug yang diikuti penduduk desa.
Menurut Kepala Desa Mardinding, Johan Sitepu, penduduk percaya bahwa ritual ini dapat membuat Gunung Sinabung tenang. Ritual ercibal belo cawir sudah ada sejak zaman nenek moyang yang tujuannya untuk menolak bala atau bencana.
Ketika Sinabung meletus pada tahun 2010, penduduk membuat ritual ercibal belo cawir dalam skala besar dengan mengundang penduduk desa tetangga dan pejebat pemerintah.
Sebelumnya ritual kuno ini digelar di Batu Renggang, yakni batu gunung agak bulat yang besarnya setara tiga ekor kerbau. Disebut Batu Renggang karena di bagian tengahnya retak. Perpindahan lokasi ritual berdasarkan arahan para tetua adat.* Ati - kisuta.com


