"Hanya Luka dan Duka yang Tersisa"
HAIYAN merupakan topan yang sangat dahsyat yang telah menyebabkan kematian sekitar 10.000 nyawa di Kota Tacloban, Provinsi Leyte, Filipina Tengah, Jumat, 8 November 2013. Topan Haiyan telah menebarkan terror dan meninggalkan kepedihan mendalam bagi penduduk Filipina, khususnya di Provinsi Leyte.
Menteri Dalam Negeri Filipina, Manuel Roxas, mengatakan kekuatan Topan Monster Haiyan yang memporak-porandakan negaranya sama persis dengan gelombang maut Tsunami Aceh yang melumat wilayah-wilayah pesisir Samudera Hindia akhir 2004 silam. Sebanyak 70 sampai 80 persen area di Provinsi Leyte yang menjadi daerah terparah diterjang topan, kondisinya hancur.
Dari tragedi Topan Haiyan, terselip kisah tragis yang dialami seorang guru di Kota Tacloban. Guru bernama Bernadette Tenegra (44), menyaksikan bagaimana putrinya menjadi korban keganasan Topan Haiyan. Bernadette menuturkan, putrinya meninggal karena menderita luka parah setelah tubuhnya tertusuk serpihan kayu dari rumah yang diterjang topan.
“Sengan tenaga yang tersisa, saya mencoba menyelamatkannya. Namun dia justru meminta saya untuk menyelamatkan diri. Dengan suaranya yang lemah, dia manyuruh saya meninggalkannya dan menyelamatkan diri,” ujarnya.
Bernadette tak bisa melupakan saat-saat di mana putrinya mencoba bertahan hidup. Khawatir Topan Haiyan kembali menyapu rumahnya, sang putri meminta ibunya pergi menyelamatkan diri. “Ma, lepaskan saya. Selamatkanlah dirimu,” ujar Bernadette menirukan kalimat terakhir yang disampaikan putrinya.
Bernadette yang bertahan, mencoba mengangkat putrinya untuk dibawa ke tempat aman. “Tapi ia sudah tak kuat menahan sakit karena lukanya sangat parah,” ujar ibu guru ini dengan suara bergetar dan air mata yang bercucuran.
Ketika Topan Haiyan datang, Bernadette dan keluarganya bertahan di rumah mereka di Desa Barangay 66-Paseo de Legazpi karena percaya badai yang datang hanya karena perubahan cuaca saja. Namun, air naik dengan sangat cepat sehingga rumah mereka rubuh dan air menghanyutkan seisi rumah, termasuk suami dan dua putri Bernadette.
Menurut Bernadette, mereka sempat berhasil merangkak ke tempat yang lebih aman. Namun, putri bungsu mereka terjebak dalam arus air yang terus berputar bersama puing-puing rumah.
"Saya sempat merangkak ke arah dia dan berusaha menariknya ke atas. Tapi, dia terlalu lemah. Tampaknya dia sudah menyerah. Saya tak punya pilihan, saya lepaskan dia," ujar Bernadette sambil menangis, seperti dikutip dari Inquirer.
Bernadette menuturkan, ketika topan mulai mereda dan matahari bersinar, penduduk terkejut dengan keadaaan sekitar mereka. Tak ada bangunan yang berdiri tegak, topan telah mengirimkan air ke kota dan menumbangkan tiang listrik, mobil, rumah, serta semua yang dilewatinya.
Pemandangan menyedihkan mereka saksikan, mayat bergelimpangan di antara puing-puing bangunan. Beberapa korban selamat berusaha mencari kerabat mereka dengan melihat wajah mayat itu, satu per satu.
Beberapa korban selamat dari badai ini diterpa rasa bersalah karena orang-orang yang mereka kasihi tidak berhasil diselamatkan. Seperti Reinfredo Celis, kepala desa 31-Pampango yang menghabiskan Kamis dan Jumat pagi untuk mengevakuasi tetangganya ke sebuah sekolah di kota menggunakan mobilnya. Namun, keluarganya sendiri tak dia angkut karena percaya keluarganya aman berada di rumah beton berlantai dua milik mereka. Tapi perkiraannya salah, karena keluarganya pun ikut menjadi korban keganasan Haiyan.* Ati - kisuta.com


