Rabu, 3 Juni 2026
Wisata & Sejarah

Koin Emas dan Pedang VOC di Titik Nol Banda Aceh

Selasa, 19 November 2013

WARGA Desa Lampaseh, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dihebohkan oleh penemuan kepingan emas berbentuk koin di rawa di dekat desa. Tak hanya koin emas bertuliskan lafaz Allah, beberapa waktu kemudian di rawa yang sama ditemukan sepasang pedang lengkap dengan sarungnya.

Penemuan koin emas di Desa Lampaseh yang juga sering disebut Gampong Pande atau Desa Pandai (pembuat kerajinan) ini, terjadi pada Minggu, 10 November 2013. Awalnya seorang wanita yang sedang mencari tiram di rawa, tanpa sengaja menemukan tulang manusia dan benda berbentuk kaleng. Saat kaleng itu dibuka, ternyata di dalamnya ada banyak kepingan emas berbentuk koin.

Setelah itu warga berbondong-bondong turun ke rawa mencari kepingan emas dengan menggunakan jaringa. Ternyata ada beberapa warga yang menemukan beberapa kepingan emas.

Belum hilang kehebohan atas penemuan koin emas, beberapa hari kemudian, tepatnya pada Rabu, 13 November 2013, ditemukan sepasang pedang emas di lokasi yang tak jauh dari rawa, tempat ditemukannya koin emas.
Pedang ditemukan oleh seorang warga di sekitar kawasan cagar budaya Gampong Pande. Setelah ditemukan, pedang itu langsung diserahkan ke pihak desa.

“Lokasinya masih di sekitar tempat ditemukannya koin, tidak terlalu jauh dari lokasi itu,” ujar Sayed Zulkarnain, tokoh warga Gampong Pande.

Sepasang pedang yang panjangnya sekitar satu meter itu diperkirakan dilapisi emas di bagian gagang dan juga sarungnya. Ada juga ukiran yang diperkirakan terbuat dari gading gajah. Di bagian gagang terdapat tulisan menyerupai tulisan VOC.

Menurut Tarmizi A Hamid, sejarawan dan kolektor manuskrip Aceh, penemuan emas di lokasi tersebut bukan hal aneh, tak lepas dari keberadaan desa ini sebagai tempat kerajinan bermacam perhiasan pada masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda. Tak heran jika desa ini disebut Gampong Pande atau Desa Pandai, karena di sini banyak terdapat pandai, yaitu pembuat kerajinan perhiasan.

Dia menuturkan, rawa tempat penemuan kepingan emas tersebut dinamakan Krueng Doy (Krueng Daroe). “Itu sebuah sungai kecil yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda (1612-1625 M)”, katanya.

Dia menilai, penemuan itu suatu bukti bahwa tempat itu terdapat gudang Dirham, Dinar, Keuh (sejenis mata uang emas) sebagai alat tukar Kerajaan Aceh Darussalam kala itu. Dan ini juga membuktikan Aceh kaya di masa itu.

Gampong Pande yang terletak di titik nol Banda Aceh ini, juga terkenal sebagai tempat pembuatan senjata api pada masa Kerajaan Aceh Darussalam. Ketika masa kepemimpinan kerajaan Sultan Alkahar, diundang 400 tenaga ahli perakitan persenjataan dan meriam dari Turki. Mereka ditugaskan membuat persenjataan untuk melawan Portugis yang saat itu menjajah Kerajaan Aceh Darussalam.* Ati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya