Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Andrew W. Marshall, Ahli Strategi Pentagon

“Peramal” Jitu Perkembangan Politik dan Pertahanan Amerika Serikat

Rabu, 20 November 2013

NAMANYA memang tidak dikenal banyak orang, namun perannya begitu besar bagi negara adidaya Amerika Serikat. Selama hampir 20 tahun, pria ini menjadi “peramal” strategi di Pentagon, pusat pertahanan Amerika Serikat. Banyak ramalannya soal perkembangan politik dan pertahanan dunia yang jitu.

Siapa sebenarnya pria "peramal" Pentagon ini? Washington Post dalam laporannya, 28 Oktober 2013, menyebutkan sosok tersebut bernama Andrew W. Marshall. Namun, pria berusia 92 tahun itu lebih dikenal dengan sebutan Yoda, mirip nama Master Yoda, guru besar pada Jedi di laga Star Wars. Bukan suatu kebetulan jika Andrew W. Marshall mempunyai kepala botak dan kemampuan memprediksi masa depan seperti halnya Master Yoda.

Yoda bekerja di Office of Net Assessment (ONA), think-thank penasehat strategi pertahanan yang didirikan tahun 1973 saat kepemimpinan Presiden Richard Nixon. ONA membahas soal potensi serangan nuklir, penggunaan energi di Asia, superioritas militer AS, dan berbagai masalah perang dan keamanan lainnya yang sangat rahasia. Hanya menteri pertahanan yang bisa membaca dokumen yang dikeluarkan ONA.

Sosok Yoda memang tak banyak dikenal di dunia. Padahal banyak prediksinya soal perkembangan politik dan pertahanan dunia yang jitu, seperti kejatuhan Uni Soviet dan bangkitnya Cina sebagai salah satu negara kuat di dunia.

Yoda membantu AS melalu Perang Dingin dengan Rusia. Dalam 20 tahun terakhir, Yoda menggunakan kemampuannya merancang skenario perang Amerika dengan Cina. Yoda pernah memprediksi, pengeluaran militer Cina akan melampaui AS dalam waktu 20 tahun. Prediksinya perlahan mulai terbukti.

Yoda terkenal dengan teori yang dikembangkannya, yaitu Revolution in Military Affairs atau RMA. Teori ini menggambarkan bahwa perkembangan teknologi perang sangat pendek, tapi tranformasinya luar biasa. Contohnya, perkembangan busur dan panah yang menjadi meriam dan kemudian menjadi bom atom.

Teori RMA digunakan oleh Cina, seperti dikatakan Jenderal Chen Zhou. Dalam wawancaranya dengan The Economist, jendral Cina ini mengatakan, "Kami mempelajari RMA dengan seksama. Pahlawan besar kami adalah Andy Marshall di Pentagon. Kami menerjemahkan setiap kata-katanya."

Walaupun perannya sangat strategis, namun Yoda enggan diwawancara dan enggan pernyataannya dikutip. Saat ini Yoda sudah memasuki usia senja, tetapi pemikirannya tidak menjadi tumpil.

"Pemikirannya masih tajam seperti dulu. Otaknya masih bekerja," ujar John Arquilla, professor Angkatan Laut yang menjadi pengagumnya.

Kendati sumbangannya yang tidak sedikit bagi pertahanan, namun AS berencana menghapuskan thing-tank Yoda. Hal ini disampaikan Menteri Pertahanan Chuck Hagel 15 Oktober lalu yang mengatakan Pentagon tengah kekurangan biaya. Rencana ini ditentang keras oleh mantan Menhan AS, Donald Rumsfeld yang mengatakan bahwa Yoda dan jajarannya sangat berguna.

"Di garis depan strategi dan transformasi Kementerian Pertahanan selama 40 tahun, memecat Andy Marshall dan ONA adalah kesalahan fatal," kata Rumsfeld di akun Twitternya.* Ati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya