Dua Wanita Penghibur Itu Dibunuh Lalu Mayatnya Diperkosa
TINDAKAN seorang mahasiswa di Cina ini sungguh biadab. Tak hanya membunuh dua wanita penghibur yang disewanya dalam waktu berbeda, tapi juga memperkosa mayat mereka.
Mahasiswa pria yang berkuliah di Jilin University ini, diduga melakukan tindakan biadab itu karena stress akibat gagal di banyak mata kuliah.
Dikabarkan Daily Mail, mahasiswa jurusan desain ini sangat tertekan dengan kegagalannya di ujian beberapa mata kuliah. Tak tahan dengan tekanan tersebut, ia menyewa dua orang wanita penghibur dengan tujuan untuk meringankan beban pikirannya.
Peristiwa pertama terjadi pada awal Maret 2013. Saat itu sang mahasiswa menyewa seorang wanita penghibur bernama Cai berusia 20 tahun. Wanita penghibur itu diminta datang ke asramanya di Changchun.
Pagi harinya, terbersit keinginan untuk bercinta dengan mayat. Nafsu biadab itu seakan tak terbendung hingga akhirnya ia menggantung Cai. Kemudian mayat Cai dikirim ke rumahnya di Changpin. Di rumah inilah mahasiswa itu memperkosa mayat Cai, sang wanita penghibur. Setelah itu, mayat Cai dimutilasi dan dikubur di halaman rumah.
Peristiwa kedua terjadi pada akhir Maret 2013. Mahasiswa ini juga menyewa seorang wanita penghibur dan nasibnya persis seperti yang dialami Cai. Mahasiswa yang namanya dirahasiakan itu, mengaku selama ini sering mendapat bisikan soal nekrofilia atau bisikan untuk bercinta dengan mayat.
Namun psikiater forensik yang memeriksanya meyakinkan bahwa mahasiswa pria itu tidak mengalami gangguan jiwa. Ia pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. Oleh pengadilan, ia lalu divonis hukuman mati dan dikenai denda sekitar Rp161 juta untuk keluarga korban.
Di balik kasus tersebut, muncul pertanyaan soal nekrofilia atau yang biasa disebut juga dengan nama thanatophilia atau necrolagnia. Nekrofilia merupakan kelainan hasrat dalam tubuh manusia karena tertarik untuk bercinta dengan tubuh orang meninggal.
Pertama kali, istilah itu muncul sekitar tahun 1850 dalam studi keilmuan. Menurut sejarah, yang pertama memunculkannya adalah Joseph Guislain, seorang ahli kejiwaan asal Belgia.
Penyebabnya beragam, dan kebanyakan dialami mereka yang trauma terhadap hal tertentu. Beberapa kondisi ini juga memengaruhi: takut ditolak pasangan, menginginkan pasangan yang tak bisa menolaknya, atau kekhawatiran untuk meninggal dunia.
JP Rosman dan PJ Resnick (1989) mengklasifikasikan penyebab nekrofilia berdasarkan persentase yang ditemukan dalam beberapa kasus nyata, yakni 68 persen karena ingin pasangan yang tak bisa melawan, 21 persen didorong keinginan bersatu dengan pasangan yang telah meninggal, 15 persen karena daya tarik seksual dari mayat, 15 persen untuk alasan kenyamanan, dan 11 persen karena keinginan memperbaiki harga diri yang rendah dengan menerapkan kuasa penuh atas mayat.* Ati - kisuta.com


