Melaju dengan Buku
BERBICARA mengenai buku, tak lepas dari kegiatan membaca dan menulis, peningkatan ilmu, keberlangsungan dan kualitas hidup, serta kegiatan belajar.
Juga berkaitan dengan maju mundurnya sebuah bangsa dalam kancah dunia.
“Book is the window of the world”. Melalui buku, kita bisa menggali berbagai macam informasi, memperluas cakrawala pengetahuan, menyelami pemikiran seorang penulis dan menjadikan pembacanya lebih arif dalam menyikapi sebuah permasalahan. Juga mampu menggerakan instuisi, inspirasi, dan kreativitas untuk menembus batas-batas belenggu kehidupan. Bahkan sejarawan Amerika, Barbara Tuchman pernah berkata bahwa buku adalah pengusung peradaban. Tanpa buku sejarah diam. Sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet. Ia adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu.
Buku adalah gerbang yang menghantarkan kita akan berbagai hal dalam kehidupan. Di belahan dunia dalam lintasan waktu dulu dan kini. Ilmu yang diperoleh darinya akan mengendap dalam diri. Hingga menghasilkan berbagai manfaat yang tak terkejawantahkan apabila dibaca dengan benar dan tepat.
Buku juga dapat meningkatkan konsentrasi dan kesehatan otak. Dipercaya bahwa orang yang gemar membaca atau menulis buku memiliki konsentrasi yang lebih tinggi. Sel otak yang lebih sehat karena secara simultan terus diperbaharui dan terasah. Hingga mencegah atau memperlambat kepikunan.
Rangkaian pemikiran yang terangkum dalam sebuah buku tak lekang oleh zaman. Buku adalah arsip intelektual yang paling abadi. Kumpulan pengetahuan yang dapat menerangi dan mengubah peradaban sebuah bangsa, bahkan dunia.
Sebuah negara yang maju salah satunya adalah yang rakyatnya menghargai, mencintai, dan mengamalkan apa yang tertera dalam sebuah buku. Tengoklah peradaban Yunani yang masyhur karena para cendekiawan yang menuliskan pemikirannya menjadi buku. Juga, Jepang yang menjadi salah satu negara raksasa di dunia karena rakyatnya yang gemar membaca.
Pentingnya peranan buku membuat kita haruslah semakin akrab dengannya, menjadikannya sebaik-baik teman duduk. Tempat berpetualang dan fantasi ilmu pengetahuan yang menyenangkan dan mencerdaskan. Pelipur lara dalam menghadapi gejolak permasalahan serta hal yang bisa mengubah tatanan kehidupan.
Cendekiawan Mochtar Lubis pun berkata, “Buku senjata yang kukuh dan berdaya hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial. Termasuk perubahan nilai-nilai manusia dan kemasyarakatan.” Maka, untuk mengubah diri sendiri, keluarga, bangsa, dan dunia salah satunya dapat dilakukan melalui buku. Hidup itu belajar, belajar itu hidup, dan salah satu cara belajar adalah dengan buku.
Di tengah penting dan manfaatnya yang besar, ironisnya, minat masyarakat berkaitan dengan membaca buku masih terbilang rendah. Meski, IPM Indonesia menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, yang salah satunya dipengaruhi melek huruf. Di tahun 2012 meningkat sebesar 0,629, dibandingkan tahun 2011 sebesar 0,624 dan pada 2010 sebesar 0,620 (www.tempo.co.id). Tak begitu dengan peningkatan jumlah buku yang ditulis dan dibaca serta sesuai dengan banyaknya rakyat Indonesia dibandingkan negara lain.
Menurut Ikapi, di Indonesia hanya 18.000 judul baru pertahun. Rata-rata 3000 eksemplar yang diterbitkan untuk setiap judulnya. Maka dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 230 juta, satu buku dibaca oleh 4--5 orang saja. Jauh dibandingkan dengan negara maju yang lain. The Oxford Companion to the English Language melaporkan, di AS lebih dari 2 milyar buku diterbitkan pertahun, sedangkan di Inggris 40 ribu judul edisi baru pertahun. Dengan pertumbuhan di negeri Paman Sam sekitar 2% pertahun sejak tahun1970.
Salah satu alasan tingkat membaca buku yang rendah adalah rasa malas dan tidak terbiasa membaca. Akses yang sulit, seperti harga buku yang cenderung mahal, kurangnya perpustakaan, dll. Selain itu, masyarakat cenderung memilih barang lain sebagai efek konsumtifisme yang tidak cerdas daripada membeli buku.
Gempuran teknologi juga tak kalah hebat dalam “mematikan” minat membaca. Televisi dan internet mewabah. Di negara maju yang tingkat membacanya tinggi saja, sekitar 60--90 jam siswa sekolah menonton televisi dalam setiap pekannya. Jejaring sosial dan game online mewarnai kehidupan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Budaya instan melalui internet menjamur. Banyak orang kini menggunakannya sebagai sumber referensi. Menjadikan copy paste semakin mengakar. Pelajar dan mahasiswa sungkan untuk menggunakan buku karena lebih mudah dalam mengaksesnya melalui berbagai gadget,di mana, dan kapan saja.
Hari buku sedunia atau world book day yang diperingati setiap tanggal 23 April dan hari buku nasional pada 17 Mei pun tak setenar peristiwa besar lain. Meski masih ada peringatan yang dilakukan oleh beberapa elemen masyarakat.
Harapan Dunia Perbukuan
Di balik sejumlah permasalahan, adanya penerbit indie dengan sistem POD (Print on demand) atau sesuai pesanan menjadi harapan akan dunia perbukuan Indonesia. Pada penerbit ini, semua orang berkesempatan untuk menerbitkan buku terlepas dari status yang bukan penulis tersohor sekalipun dan latar belakang penulisnya.
Penerbit indie banyak melahirkan penulis baru. Penulis tak perlu lagi menunggu terlalu lama agar bukunya dapat diterbitkan. Tidak seperti penerbit konvensional yang harus menyeleksi naskah layak terbit. Hingga penulis pun terbatas karena terkadang lebih menekankan pada aspek bisnis belaka.
Adanya pameran juga menjadi gairah tersendiri, baik yang dilakukan secara berkala maupun seremonial. Guna memudahkan akses membeli buku bagi masyarakat. Apalagi dengan jenis buku yang beragam, potongan harga yang cukup tinggi, dan kualitas buku yang tetap terjaga. Selain itu, kegiatan seperti peringatan Hari Buku Nasional dan pembagian buku secara gratis patut diapresiasi dan hendaknya dilaksanakan secara kontinyu.
Akhirnya di atas segala manfaat, kompleksitas permasalahan, dan secercah cahaya akan dunia perbukuan, kita berharap adanya kesadaran masyarakat akan buku. Menjadikannya teman yang mengisi kehidupan sehari-hari. Berupaya menanggulangi permasalah yang ada. Menumbuhkan keoptimisan peningkatan dunia perbukuan kita. Demi menyongsong kehidupan dan peradaban Indonesia yang lebih cemerlang kini dan nanti.* Reni Nurhayati - kisuta.com


