Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Catatan

Sampah

Jumat, 10 Januari 2014

AKHIR-AKHIR ini saya kembali sering melewati jembatan penyeberangan dekat kantor, ternyata pemandangan sangat jauh berbeda dengan tahun lalu. Abang penyapu jembatan itu sudah tak mangkal lagi di sana, entah kenapa. Yang jelas jembatan penyeberangan itu sekarang kondisinya penuh dengan tebaran sampah. Melihat kondisi ini, saya jadi merindukan abang tukang sapu jembatan itu...

Dulu jembatan ini bersih setiap hari karena adanya abang itu. Yang ada sekarang adalah peminta-minta yang hanya dongkrok di pinggir ujung jembatan. Saya agak apatis, mungkin saja penghasilan pengemis itu lebih besar dari gaji saya sebagai pegawai bank. Wallahu a'lam.

Tiga hari yang lalu, saya kebetulan berjalan di belakang seorang pelajar SMP putri berkerudung, dia minum es sambil jalan. Tiba-tiba tanpa rasa bersalah sama sekali gadis itu menjatuhkan cup plastik bekas tempat minumnya tadi di jalan. Sama sekali tidak menempatkan sampah itu di tempat sampah, atau paling tidak di pinggir pohon yang biasanya dijadikan tempat pengumpulan sampah. Anak itu dengan santainya membuang di jalan dan terus berjalan. Tiba-tiba secara spontan saya hampir teriak, “Dik, buang sampahnya jangan sembarangan dong, kan ada tempat sampah..!!”. Tapi teriakan itu saya telan kembali.

Sampai di meja kerja, bayangan kejadian itu masih ada di kepala saya. Apakah anak-anak saya juga sedemikian parah kesadarannya terhadap sampah? Apakah karena hal itu sudah dianggap sepele, sehingga membuang sampah di jalan sudah jamak dan orang tak peduli. Seharian itu soal sampah di jalan menjadi renungan saya! Ketika pulang kerja, memasuki gang dekat rumah di kompleks rumah, mata saya lebih terbuka lagi. Astaghfirullah! Ternyata sepanjang jalan masuk kompleks juga begitu banyak bertebaran sampah. Jadi, selama ini pulang kerja setiap malam ternyata tidak pernah memperhatikan ini.

Soal membuang sampah, ternyata bukan masalah sepele. Pak Jokowi pernah marah juga melihat banyaknya kumpulan sampah menumpuk di pintu air pengendali banjir. Sampah yang di sana kelasnya lebih berat lagi. Sampahnya bisa berupa ember bekas, kasur bekas, bahkan springbed bekas, atau sofa bekas. Saya malah pernah mendapatkan rekaman sebuah truk sampah milik suatu pemda membuang isinya ke kali. Rekaman itu diunggah di Youtube ! Yang ini benar-benar luar biasa. Jadi truk itu mengangkuti sampah dari kompleks perumahan, tapi buangnya bukan di tempat penampungan sampah yang disediakan tapi malah dibuang di kali juga... weleh weleh …

Kemarin pagi, hati saya kembali terenyuh. Ketika berangkat ke kantor, di depan mobil saya ada Honda Jazz keluaran paling anyar. Tiba-tiba kaca jendela Honda Jazz putih itu terbuka, aga kantong plastik yang dilemparkan dari dalam, entah apa isinya, mungkin bekas sarapan. Sampah itu pun jatuh di tengah jalan.

Juga, kemarin di halte busway alias TransJakarta, ada petugas kebersihan yang menyapu halte, bagian dalam halte itu sih bersih. Tapi sampahnya dibuang ke bawah. Jadi sampah itu cuma pindah dari halte ke taman sekitar halte itu. Weleh-weleh.…

Saya jadi berpikir, bahwa menilai tingkat karakter sebuah bangsa, bisa dilihat dari bagaimana kesadaran mereka terhadap sampah. Bagaimana kebersihan kota-kota itu dari sampah. Dan bagaimana bangsa itu mengolah sampah menjadi barang yang berguna dan benar-benar serius menangani persampahan. Sampeyan yang sering pergi keluar negeri pasti bisa merasakan, bagaimana nyamannya jalan-jalan di negara lain yang bersih dan teratur, aman dan nyaman. Rasanya seminggu sepatu kita gak usah disemir juga masih mengkilap ...Salam.* Andi Rosano - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya