Membangun Budaya Literat
TAK ada yang meragukan pentingnya membangun budaya literat dalam masyarakat. Masyarakat literat adalah masyarakat yang mengisi sebagian waktunya untuk kegiatan tulis menulis, yaitu membaca dan menulis, atau yang melek huruf.
Melalui budaya literat kita mewujudkan kegiatan pencapaian ilmu pengetahuan yang sangat berguna bagi kehidupan.
Berbicara mengenai menulis, tak lepas dari kegiatan membaca. Maka budaya literat dibangun dari dua unsur tersebut. Untuk menulis diperlukan berbagai pengetahuan yang salah satunya diperoleh dari membaca.
Sayang, keterampilan berbahasa di Indonesia masih terpaku pada tradisi lisan, yaitu mendengarkan dan berbicara. Berbeda halnya dengan negara dengan peradaban yang lebih maju. Hingga menjadikan literasi sebagai budaya yang memamah biak dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa hal yang menjadikan rendahnya budaya literat di negeri ini antara lain, tingkat pendidikan masyarakat, malas membaca, kurangnya akses dalam membaca, seperti sedikitnya perpustakaan, harga buku yang cenderung tak terjangkau oleh daya beli masyarakat. Hingga hanya sedikit yang mampu menuliskan pengetahuan yang diperoleh dari membaca atau menyimak.
Selain itu pemanfaatan teknologi yang tidak tepat juga turut berpengaruh. Di tengah kemajuan teknologi saat ini, seharusnya kegiatan membaca dan menulis sebagai akar membangun budaya literat menjadi semakin mudah.
Internet dapat digunakan dalam mengakses informasi tertulis maupun ajang meningkatkan kemampuan menulis. Website dan blog mudah ditemukan dan dibuat, e-paper dan e-book gampang diakses. Begitupun jejaring sosial seperti facebook misalnya yang menyediakan fitur catatan.
Sayang, jika tidak disikapi dengan bijak ranah cyber malah menjadi tempat membuang waktu menjadi debu karena tidak digunakan secara efektif dan produktif. Padahal jika waktu berselencar di dunia maya dipakai untuk membaca atau mencari bahan untuk menulis akan menjadi hal yang sangat berguna.
Masyarakat pun masih enggan untuk mengikat pengetahuan yang diperolehnya dengan menulis. Hal ini menunjukkan banyak orang cenderung hanya menerima saja, tanpa upaya membangun pemikiran dan argumentasi sendiri terhadap pengetahuan yang dimilikinya.
Membangun budaya literat haruslah menggerakkan beragam sektor kehidupan, seperti pendidikan, kesejahteraan masyarakat, hingga perekonomian yang mumpuni. Karena berbagai hal tersebut saling mempengaruhi satu sama lain.
Sektor pendidikan merupakan hal yang tak terkejawantahkan dalam memantik semangat peserta didik untuk membangun budaya literat. Perlu ditekankan agar mereka lebih banyak membaca dan menulis.
Budaya literat juga berpengaruh terhadap peradaban dan daya saing sebuah bangsa. Tengoklah Yunani yang peradabannya begitu mashyur karena para cendekiawan yang menuliskan pemikirannya. Hingga banyak hasil tulisannya menjadi rujukan pada seantero dunia. Atau Jepang yang kini menjadi salah satu negara raksasa dunia karena budaya tulis menulis yang dibangun rakyatnya.
Pada negara-negara tersebut dapat ditemui kegiatan membaca dan menulis adalah hal yang lumrah. Dan dapat ditemukan di berbagai tempat di penjuru negeri, baik tempat pribadi, publik, taman-taman, maupun bis kota atau kereta api sekalipun.
Maka, jika peradaban Indonesia ingin maju, patutlah kita meniru negara yang tingkat kegiatan membaca dan menulisnya tinggi dan menjadi kebiasaan masyarakat. Bukan mencontek budaya buruk yang dihembuskan negara lain seperti hedonisme dan konsumtifisme.
Membangun budaya literat membutuhkan kesadaran yang mengakar dalam diri masyarakat. Peran pemerintah pun dituntut semakin besar baik melalui program maupun pendanaan. Seperti dalam memperkuat dunia perbukuan, meningkatkan jumlah taman bacaan masyarakat atau perpustakaan, mensubsidi buku atau kertas, membantu pendistribusiannya, menggalakkan program membaca, dll.
Budaya literat yang menjadi harapan semua orang karena menunjukkan tingkat keterdidikan yang tinggi sepatutnyalah diwujudkan oleh semua komponen masyarakat. Dengan bahu membahu membangun literasi membaca dan menulis dimulai dari hal yang sepele. Seperti membiasakan membaca, baik buku, koran, majalah, dan sumber lainnya, juga berbagi sumber bacaan dengan orang lain. Serta menjadikan menulis sebagai kegiatan sehari-hari meski hanya sebuah catatan sederhana.
Ilmu bagaikan binatang buruan dan pena adalah pengikatnya. Maka ikatlah pengetahuan yang diperoleh dengan menulis. Membaca dan menyimak saja tidak cukup, oleh karena itu diperlukan kegiatan menulis agar apa yang kita ketahui menjadi arsip intelektual yang tak lekang oleh zaman. Hingga cita-cita membangun budaya literat semakin mudah terwujud.* Reni Nurhayati - kisuta.com


