Rabu, 3 Juni 2026
Unik Menarik
Bintaro

Tanaman Beracun yang Prospektif sebagai Bahan Bakar

Minggu, 19 Januari 2014

DI sejumlah daerah di Indonesia, saat ini sedang digalakkan penghijauan. Salah satu pohon yang banyak ditanam adalah bintaro, yaitu tanaman yang merupakan bagian dari ekosistem hutan mangrove sehingga sering digunakan untuk tujuan penghijauan. Bintaro mempunyai nama latin carbera manghas dan di dunia dikenal dengan nama pong-pong tree atau Indian suicide tree.

Bintaro yang tingginya bisa mencapai 12 meter ini, banyak ditanam sebagai peneduh kota. Sayangnya, tidak banyak masyarakat yang mengetahui tentang pohon bintaro ini. Meskipun mempunyai manfaat, namun getah bunga dan buah bintaro mengandung racun.

Pohon yang bentuk daunnya memanjang, simetris dan menumpuk pada bagian ujung dengan ukuran bervariasi ini mempunyai buah yang bentuknya bagus, sehingga disukai anak-anak sebagai mainan. Buah bintaro berbentuk bulat dan berwarna hijau pucat dan ketika tua berwarna merah, dengan bentuk tiga lapis. Bagian terluar buah adalah kulit, lapisan tengah berupa serat seperti sabut kelapa, dan biji yang dilapisi kulit biji atau testa.

Buah bintaro sering juga disebut Cerbera karena bijinya dan semua bagian pohonnya mengandung racun yang disebut cerberin, yaitu racun yang dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung manusia, sehingga dapat mengganggu detak jantung dan dapat menyebabkan kematian. Bahkan asap dari pembakaran kayunya pun juga dapat menyebabkan keracunan. Zaman dulu, racun bintaro digunakan untuk bunuh diri atau membunuh orang. Getah bintaro juga digunakan sebagai racun panah untuk berburu.

Pohon bintaro sebenarnya dapat diolah dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, seperti sebagai penakut tikus, bahan baku lilin, bio-insektisida, obat luka, deodorant, dan berpotensi sebagai biodiesel. Menurut hasil penelitian Faperta IPB, buah bintaro sebenarnya bisa juga dijadikan sebagai bahan bakar alternatif. Malahan, bila dibandingkan dengan biji Jarak, biji Bintaro memiliki kadar minyak yang jauh lebih tinggi.

Menurut penelitian Faperta Institut Pertanian Bogor (IPB), buah bintaro terdiri atas 8% biji dan 92% daging buah. Bijinya sendiri terbagi dalam cangkang 14% dan daging biji 86%. Biji bintaro mengandung minyak antara 35-50% (bandingkan dengan biji jarak yang 14% dan kelapa sawit 20%). Semakin kering biji bintaro semakin banyak kandungan minyaknya. Minyak ini termasuk jenis minyak nonpangan, di antaranya asam palmitat (22,1%), asam stearat (6,9%), asam oleat (54,3%), dan asam linoleat (16,7%).

Melalui beberapa tahap pengolahan, 1 kg minyak bisa dihasilkan dari 1,8 kg biji bintaro yang sudah kering. Minyak yang dihasilkan masih termasuk minyak kasar berwarna hitam. Minyak ini dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah untuk kompor. Hasil uji toksisitas dari getah buah menunjukkan minyak bintaro layak digunakan sebagai bahan bakar, dengan bau, asap, dan residu lainnya yang tergolong aman.

Proses pengolahan buah bintaro menjadi minyak terhitung cepat dan mudah. Jika Anda tinggal di daerah yang banyak ditumbuhi pohon bintaro, Anda pun bisa mencobanya sendiri. Caranya, kumpulkan biji bintaro dari buah yang jatuh alami, kupas buah bintaro kering dan ambil bijinya. Kemudian keringkan biji bintaro di bawah sinar matahari, giling atau tumbuk biji bintaro kering itu, lakukan pengepresan sampai minyaknya keluar. Apabila masih bercampur dengan kotoran, saring minyak tersebut. Jika perlu, diamkan minyak selama 1 – 2 malam agar kotorannya mengendap . Minyak bintaro sudah siap digunakan sebagai bahan bakar.* Ati – kisuta.com/berbagai sumber


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya