Selasa, 1 September 2026
Herbal & Kesehatan

Melawan Demam Berdarah dengan Nyamuk

Rabu, 12 Februari 2014

DEMAM berdarah termasuk penyakit yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Penyakit demam berdarah muncul saat musim hujan dan hampir setiap tahunnya “memakan” korban jiwa. Gejala biasanya diawali dengan demam tinggi, nyeri pada tulang, munculnya bintik merah pada kulit, serta pendarahan dari hidung dan telinga.

Berbagai metode pengendalian nyamuk seperti fogging dan 3M (Menutup, Menguras, Mengubur) ternyata belum sepenuhnya efektif menanggulanginya. Universitas Gadjah Mada (UGM) mencoba mencari cara menanggulangi demam berdarah dengan menggunakan teknologi pengendalian nyamuk yang telah dibuktikan di sejumlah negara, antara lain Australia. Teknologi itu adalah mengawinkan nyamuk penyebab demam berdarah, Aedes aegypti lokal dengan nyamuk Aedes aegypti yang telah mengandung Wolbachia.

Wolbachia merupakan organisme yang hanya bisa hidup di dalam tubuh serangga, seperti lalat buah, kupu-kupu, capung, dan nyamuk Aedes aegypti. Ini bukan sembarang bakteri karena bila Wolbachia terkandung dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti, maka ia bisa menekan pertumbuhan virus dengue agar tidak berkembang biak.

Pada akhirnya nyamuk Aedes aegypti yang selama ini kita takutkan takkan bisa menyebarkan virus demam berdarah lagi. Kelebihan lain, Wolbachia juga dapat memperpendek umur nyamuk Aedes aegypti, sehingga kesempatannya untuk menularkan virus dengue juga ikut berkurang.

Namun itu hanya terjadi jika dalam tubuhnya terkandung Wolbachia dan salah satu cara praktis untuk memasukkan bakteri itu adalah dengan melakukan perkawinan antara nyamuk yang ber-Wolbachia dengan nyamuk Aedes aegypti setempat.

Tahap awal berupa persiapan site dan pengembangan nyamuk yang akan dilepaskan sendiri telah memakan waktu selama dua tahun, terhitung mulai bulan September 2011. Namun baru pada bulan Januari 2014 inilah nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia itu dinyatakan aman dan siap dilepaskan, begitu juga dengan kesiapan warga di lokasi penelitian di Yogyakarta.

Program pelepasan nyamuk ber-Wolbachia akan dilangsungkan di enam wilayah, yaitu di Kalitirto (Dusun Sumber Lor, Karang, Sumber Kidul, Sumber Kulon), Nogotirto (Dusun Ponowaren dan Karang Tengah), Trihanggo (Dusun Nusupan, Biru, Mlangi dan Ponowaren), Kronggahan (Dusun Kronggahan I dan Kronggahan II), dan Jomblangan (Dusun Jomblangan, Desa Banguntapan).

Untuk tahap awal, peneliti telah melaksanakan pelepasan nyamuk ber-Wolbachia di dua desa, yaitu Kronggahan dan Nogotirto pada 22-23 Januari 2014. Menurut peneliti utama dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D., rencananya nyamuk akan dilepas secara berkala dalam waktu kurang lebih 16-24 minggu. Setiap satu minggu sekali, di sekitar pekarangan rumah penduduk dalam jarak pelepasan 50 meter.

Menurut dr. Riris, yang menarik dari teknologi ini adalah, sifatnya yang berkesinambungan, di samping ramah lingkungan dan murah. Berbeda dengan teknologi pengendalian yang selama ini digunakan, yaitu harus melakukan upaya terus-menerus misalnya penyemprotan.

Apabila Wolbachia berhasil disebarkan di populasinya di alam, maka bakteri akan diturunkan terus-menerus ke anaknya, sehingga anak turun dari nyamuk itu tadi tidak akan mempunyai kemampuan menularkan virus dengue. Diharapkan upaya ini dapat mengurangi tingginya angka kasus demam berdarah.* Ati - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya